- YOAI memperingati Hari Kanker Anak Internasional dengan mengevaluasi dampak program edukasi tahun sebelumnya di Jakarta.
- Fokus YOAI meluas dari pengobatan medis menuju pemulihan jangka panjang termasuk aspek sosial dan psikologis anak.
- "Ride of Joy" digelar sebagai terapi psikososial menyenangkan untuk meningkatkan kepercayaan diri para pejuang kanker anak.
Suara.com - Peringatan Hari Kanker Anak Internasional tahun ini menjadi momentum penting bagi Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Mengusung tema “Demonstrating Impact; From Challenge to Change” yang merupakan bagian dari kampanye global Childhood Cancer International (CCI), peringatan yang digelar di Jakarta ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga reflektif.
Setelah melalui rangkaian tema global sejak 2024, memetakan tantangan, menginspirasi aksi, hingga kini mengevaluasi dampak YOAI ingin memastikan bahwa setiap langkah benar-benar membawa perubahan nyata bagi anak-anak dengan kanker.
Ketua YOAI, Rahmi L. Adi Putra, menjelaskan bahwa pada tahun sebelumnya pihaknya telah membagikan buku panduan “Kanker pada Anak Bisa Sembuh, Asalkan…” kepada orang tua pasien. Tahun ini, dampaknya dievaluasi melalui wawancara dengan keluarga penerima manfaat.
“Tema ini berfokus pada evaluasi hasil dari aksi tahun sebelumnya,” ujarnya. Upaya ini menunjukkan bahwa edukasi bukan hanya disampaikan, tetapi juga diukur efektivitasnya dalam mendampingi keluarga selama proses pengobatan dan pemulihan.
Sembuh Bukan Garis Akhir
Dalam kesempatan ini, Rahmi juga menegaskan bahwa fokus organisasi dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya pada akses pengobatan, tetapi juga pemulihan jangka panjang.
“Pengobatan tentu sangat penting tetapi setelah pengobatan, program pemulihan ini juga tidak kalah penting,” ujarnya. Ia menyoroti realitas bahwa sebagian survivor kanker anak yang telah kembali ke sekolah masih menghadapi perlakuan kurang menyenangkan dari lingkungan sekitarnya.
Pandangan ini diperkuat oleh Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi Anak, Endang Windiastuti, SpA, SubspHO (K). Menurutnya, kesembuhan medis hanyalah satu bagian dari tujuan besar.
“Sembuh saja tidak cukup. Kita harapkan mereka menjadi seorang anak penerus bangsa yang berkualitas,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa meskipun ada gejala sisa pasca-terapi, monitoring rutin dapat membantu mengatasinya lebih dini.
Baca Juga: Kemenkes Kerahkan 513 Nakes ke Wilayah Paling Terisolir di Aceh
Secara medis, anak pasien kanker memang menjalani terapi intensif di rumah sakit hanya beberapa hari dalam satu siklus. Selebihnya, mereka berada di rumah dan lingkungan sosialnya. Di sinilah tantangan lain muncul, bagaimana memastikan anak tetap memiliki kesehatan mental, sosial, dan spiritual yang baik.
Dr. Endang menekankan bahwa kemoterapi bukan segalanya. Dalam penelitian yang dilakukan di rumah sakit, pendekatan multidisiplin yang menggabungkan terapi medis dengan dukungan sosial dan keluarga terbukti memberikan hasil lebih baik dibandingkan terapi medis saja.
Bahkan, faktor yang paling berdampak signifikan adalah dukungan keluarga. Dalam budaya Indonesia yang banyak menganut sistem keluarga besar, dukungan ini sebenarnya memiliki fondasi kuat.
Keterlibatan orang tua, saudara, hingga kakek-nenek dalam mendampingi anak bukan hanya memberi rasa aman, tetapi juga membantu mempercepat pemulihan emosional. Anak yang merasa dicintai dan diterima cenderung lebih percaya diri ketika kembali ke sekolah dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Aktivitas bermain bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari terapi psikososial. Bermain membantu anak mengekspresikan perasaan, membangun kembali relasi sosial, serta mengurangi trauma akibat pengalaman medis yang panjang.
Ride of Joy: Ketika Kebahagiaan Menjadi Bagian dari Terapi
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak