Health / Parenting
Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB
Ilustrasi Peringatan Bulan Kesadaran Autisme. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Atelier of Minds dan Agape Psychology mempromosikan pendekatan neuro-afirming untuk mendukung kesehatan mental anak neurodivergent dalam lingkungan pendidikan inklusif.
  • Pendekatan ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan sensori dan regulasi emosi, bukan memaksa anak menyesuaikan diri dengan aturan kaku.
  • Kolaborasi ini bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan holistik bagi 2,4 juta anak neurodivergent di Indonesia.

2. Beralih dari kepatuhan ke kolaborasi

Alih-alih menghukum, guru perlu memahami makna di balik perilaku anak. Pendekatan ini membantu menurunkan stres sekaligus mendukung regulasi emosi.

3. Mengenalkan keragaman cara berpikir

Pemahaman tentang perbedaan cara kerja otak dapat menumbuhkan empati di antara siswa dan secara tidak langsung menjaga kesehatan sosial-emosional anak.

Bagi orang tua, menemukan lingkungan yang benar-benar mendukung kesehatan anak bukan hal mudah. Wina Natalia, figur publik sekaligus ibu dari anak neurodivergent, menilai perubahan perspektif ini membawa dampak besar bagi keluarga.

“Sebagai orang tua, ketakutan terbesar bukan hanya anak di-bully, tetapi saat anak dipaksa mengubah dirinya agar bisa diterima,” ujar Wina Natalia.

“Ketika menemukan lingkungan yang menghargai neurodiversity, dampaknya sangat besar bagi keluarga. Kami tidak ingin anak hanya sekadar ‘menyesuaikan diri’, tetapi benar benar dilihat, didengar, dan dihargai,” katanya lagi.

Sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Autisme, Atelier of Minds bersama Agape Psychology juga akan mengadakan rangkaian workshop bagi orang tua dan pendidik. Program ini bertujuan untuk mendorong pemahaman yang lebih dalam sekaligus memberikan panduan praktis dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan perkembangan anak, baik di rumah maupun di sekolah.

Baca Juga: The Privileged Ones: Memahami Makna Privilese dan Isu Kesehatan Mental

Load More