- Laporan Auriga Nusantara mencatat deforestasi Indonesia tahun 2025 melonjak drastis hingga mencapai total 433.751 hektare luas hutan.
- Kalimantan dan Papua menjadi episentrum kehilangan hutan, sementara lonjakan deforestasi ekstrem di Sumatera memicu risiko bencana ekologis.
- Sebagian besar deforestasi terjadi di kawasan hutan pemerintah akibat dampak program ketahanan pangan dan proyek strategis nasional.
Suara.com - Deforestasi Indonesia kembali melonjak tajam pada 2025. Data terbaru yang dirilis Auriga Nusantara dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 (STADI 2025) mencatat, luas hutan yang hilang mencapai 433.751 hektare.
Angka ini meningkat 66 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 261.575 hektare, sekaligus menjadi lonjakan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan ini menandai tren yang mengkhawatirkan. Setelah relatif stabil sejak 2021, laju deforestasi kini kembali menanjak drastis.
Dalam rata-rata bulanan, Indonesia kehilangan sekitar 36.146 hektare hutan sepanjang 2025, dengan periode tertinggi terjadi antara April hingga Oktober dan puncaknya pada Mei.
Kalimantan masih menjadi episentrum deforestasi nasional, mempertahankan posisi tertinggi sejak 2013. Namun, lonjakan paling mencolok justru terjadi di Tanah Papua yang bertambah 60.337 hektare dibanding tahun sebelumnya.
Dari sisi persentase, Pulau Jawa mencatat kenaikan paling ekstrem hingga 440 persen, meski secara luas tetap lebih kecil dibanding wilayah lain.
Deforestasi kini terjadi hampir di seluruh Indonesia, menjangkau 383 kabupaten/kota atau sekitar 74 persen wilayah administratif nasional. Sepuluh wilayah dengan deforestasi tertinggi didominasi kawasan Kalimantan dan Papua, menyumbang sekitar 22 persen dari total kehilangan hutan nasional.
Di Sumatera bagian utara, lonjakan deforestasi bahkan beriringan dengan bencana ekologis. Aceh mengalami peningkatan hingga 426 persen, Sumatera Utara 281 persen, dan Sumatera Barat melonjak drastis hingga 1.034 persen. Ketiga wilayah ini juga dilanda banjir dan longsor besar pada penghujung 2025, memperkuat indikasi bahwa hilangnya hutan berkorelasi dengan meningkatnya risiko bencana.
Dari sisi tata kelola, mayoritas deforestasi terjadi di kawasan hutan yang berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Sebanyak 71 persen atau 307.801 hektare deforestasi terjadi di kawasan hutan, sementara sisanya berada di area penggunaan lain (APL). Fakta ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan tidak hanya terjadi di wilayah “abu-abu”, tetapi juga di area yang seharusnya dilindungi.
Baca Juga: Satgas Damai Cartenz Ringkus Dua Anggota Jaringan Senjata dan Amunisi Ilegal di Jayapura
Lebih jauh, laporan ini juga menyoroti peran kebijakan pembangunan dalam mendorong deforestasi. Program ketahanan pangan yang mencadangkan 20,6 juta hektare kawasan hutan disebut berkontribusi signifikan, dengan sekitar 78.213 hektare atau 18 persen deforestasi nasional terjadi di area tersebut. Proyek-proyek besar, termasuk Program Strategis Nasional, turut mempercepat pembukaan hutan.
Auriga menilai kondisi ini sebagai alarm serius bagi masa depan hutan Indonesia. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, tren deforestasi berpotensi terus meningkat dan memperparah krisis lingkungan.
Sejumlah rekomendasi pun diajukan, mulai dari perlindungan total hutan alam tersisa, penguatan tata ruang, perluasan kawasan konservasi, hingga insentif bagi pihak yang menjaga hutan. Tanpa langkah konkret, lonjakan deforestasi bukan hanya soal hilangnya tutupan hutan, tetapi juga ancaman nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan keselamatan manusia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
5 Shade Cushion untuk Kulit Olive Undertone Indonesia agar Tidak Kelihatan Abu-abu
-
Dari Yogyakarta, Solo hingga Thailand Nova Arianto Buru Komposisi Terbaik Timnas Indonesia U-20
-
Dolar AS Keok di HUT RI, Rupiah Tembus Level Rp17.796 Pagi Ini
-
Siapa Penjahit Bendera Merah Putih? Ini Sosok Perempuan di Balik Berkibarnya Bendera Pusaka
-
Bertahan Lebih dari 2.000 Tahun, Lukisan Tebing Huashan Ini Diduga Digambar dengan Darah Manusia
-
Bye Kulit Berminyak dan Kusam! Ini 4 Pelembap Brightening Berlabel Oil Free
-
Pesona Istri Keenam Soekarno Ratna Sari Dewi Kenakan Kebaya Merah Jambu di Upacara HUT RI
-
Mengenal Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah: Bikin Sekolah Lebih Manusiawi atau Sekadar Slogan?
-
Profil Khaliska Refqi Ramadhani Pembawa Baki Upacara HUT ke-81 RI di IKN