- BPOM mencatat 10 kematian akibat campak di Indonesia selama 2026 yang menyerang anak-anak hingga kelompok usia dewasa.
- Cakupan imunisasi nasional tahun 2024 belum mencapai target 95 persen sehingga kekebalan kelompok belum terbentuk secara optimal.
- BPOM memberikan izin edar vaksin MMR guna memperkuat perlindungan masyarakat serta menekan rantai penularan penyakit menular tersebut.
Suara.com - Kasus campak di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah tingginya angka penularan dan kematian mendorong otoritas kesehatan memperkuat upaya vaksinasi dan kolaborasi lintas sektor. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat terdapat 10 kematian terkait campak secara nasional sepanjang 2026.
Dalam siaran pers BPOM, sekitar 8 persen kasus campak tercatat terjadi pada kelompok usia dewasa di atas 18 tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap campak tidak hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga kelompok dewasa yang memiliki risiko tinggi terpapar virus.
Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh measles virus (MeV) dengan tingkat penularan sangat tinggi. Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, mulai dari pneumonia, ensefalitis atau peradangan otak, hingga subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), gangguan neurologis jangka panjang yang berpotensi fatal.
Pemerintah menilai cakupan imunisasi masih menjadi tantangan utama dalam pengendalian campak. Kementerian Kesehatan mencatat cakupan imunisasi campak-rubela (MR) pada 2024 baru mencapai 92 persen untuk dosis pertama dan 82,3 persen untuk dosis kedua. Angka tersebut masih berada di bawah ambang minimal 95 persen yang dibutuhkan untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity.
BPOM menegaskan pentingnya menjaga cakupan vaksinasi tinggi di semua kelompok usia agar rantai penularan dapat ditekan. Selain anak-anak, kelompok dewasa dengan risiko tinggi seperti tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, dan individu yang memiliki kontak erat dengan pasien imunokompromais juga dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait vaksinasi lanjutan.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap campak, BPOM baru-baru ini memberikan izin edar untuk vaksin MMR yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubela. Persetujuan tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat perlindungan masyarakat terhadap penyakit menular.
Country Medical Director Calvin Kwan mengatakan pencegahan penyakit menular membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk industri kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
“Di GSK, kami meyakini bahwa pencegahan adalah tanggung jawab bersama dan setiap individu yang terlindungi merupakan langkah menuju masyarakat yang lebih kuat dan sehat,” ujar Calvin.
Baca Juga: Kemenkes Libatkan NU dan Muhammadiyah, Lawan Hoaks Vaksin yang Masih Marak
Sementara itu, Director of Market Access and CGA Reswita Dery Gisriani mengapresiasi langkah BPOM dalam mempercepat proses persetujuan vaksin di tengah meningkatnya kasus campak. Menurutnya, respons cepat regulator penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak.
Secara global, World Health Organization merekomendasikan pemberian dosis pertama vaksin campak pada usia sekitar sembilan bulan di wilayah berisiko tinggi, diikuti dosis kedua pada usia 15 hingga 18 bulan untuk memastikan perlindungan optimal.
Otoritas kesehatan menilai keberhasilan pengendalian campak tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk melengkapi imunisasi sesuai jadwal guna mencegah penyebaran penyakit yang masih menjadi ancaman kesehatan global tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh