- Hantavirus menyebar melalui urin, kotoran, dan air liur tikus.
- Gejalanya meliputi demam, nyeri otot, mual, dan sesak napas.
- Kasus hantavirus tipe HFRS sudah ditemukan di Indonesia sejak lama.
3. Menyentuh Permukaan Terkontaminasi
Meja, lantai, atau barang yang terkena kotoran tikus dapat menjadi media penyebaran virus. Risiko bertambah bila tangan yang terkontaminasi menyentuh area mata, hidung, atau mulut.
4. Lingkungan dengan Sanitasi Buruk
Permukiman padat dan pengelolaan sampah yang tidak baik menjadi habitat ideal bagi tikus. Kondisi tersebut membuat potensi penyebaran hantavirus lebih tinggi.
Gejala Hantavirus
Gejala hantavirus pada tahap awal sering menyerupai penyakit umum lain. Oleh karena itu, banyak kasus tidak langsung dikenali. Beberapa gejala awal hantavirus meliputi berikut ini.
- Demam
- Nyeri otot
- Tubuh lemas
- Mual dan muntah
- Sakit kepala
- Nyeri perut
Pada kasus yang lebih berat, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan atau masalah pada ginjal.
Dua Jenis Penyakit akibat Hantavirus
Hantavirus memiliki dua bentuk penyakit utama yang cukup berbahaya.
1. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
HFRS lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan perdarahan hingga gagal ginjal.
Baca Juga: Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya
Kementerian Kesehatan mencatat sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus HFRS di Indonesia.
2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
HPS lebih sering ditemukan di wilayah Amerika. Penyakit ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.
Kasus tipe HPS belum ditemukan di Indonesia. Kemenkes juga menegaskan bahwa hantavirus di Indonesia berbeda dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.
Mengapa Hantavirus Sulit Terdeteksi?
Hantavirus sering disebut sebagai silent threat atau ancaman tersembunyi karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti dengue, tifus, dan leptospirosis.
Akibatnya, banyak kasus kemungkinan salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali. Kondisi ini membuat hantavirus tampak jarang terjadi, padahal virusnya masih beredar di lingkungan.
Cara Mencegah Hantavirus
Lantaran belum ada vaksin yang digunakan secara luas, langkah pencegahan menjadi hal paling penting.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya
-
Hantavirus Mirip Flu? Ketahui Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya
-
BPOM Catat 10 Kematian Akibat Campak, Akses Vaksin Inovatif Dikebut
-
15 Tanaman Penghambat Sel Kanker Menurut Penelitian, dari Kunyit hingga Daun Sirsak
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?