Health / Konsultasi
Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB
Hantavirus. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengonfirmasi empat kasus infeksi Hantavirus sepanjang tahun 2026.
  • Hantavirus bukanlah penyakit baru karena telah diidentifikasi sejak tahun 1976 setelah diisolasi oleh ilmuwan dari Korea Selatan.
  • Kemenkes mencatat 23 kasus Hantavirus di berbagai wilayah Indonesia selama 2024 hingga 2026 dengan tingkat kematian mencapai 13 persen.

2. Hantavirus Dunia Baru (New World): Pada tahun 1993, muncul wabah di wilayah "Four Corners" Amerika Serikat. Virus ini menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit paru-paru berat yang mematikan.

Hal ini menunjukkan bahwa Hantavirus telah berevolusi dan tersebar di berbagai belahan dunia melalui inang utamanya, yakni tikus atau hewan pengerat (rodensia).

Hantavirus di Indonesia

Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia antara tahun 2024 hingga Mei 2026, dengan 3 kematian (CFR 13%) dan 20 pasien sembuh.

Sebagian besar kasus tergolong HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) dan tersebar di beberapa wilayah. Antara lain Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, NTT, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten.

Penularan Hantavirus pada manusia biasanya terjadi melalui:

  • Inhalasi: Menghirup partikel dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang terbawa udara (aerosol).
  • Kontak Langsung: Menyentuh benda yang terkontaminasi, lalu memegang mulut atau hidung.
  • Gigitan: Meski jarang, gigitan tikus yang terinfeksi dapat menularkan virus secara langsung.

Gejala Hantavirus tahap awal seringkali menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Namun, jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memburuk menjadi sesak napas akut atau gangguan fungsi ginjal.

Load More