- Gatal pada kulit yang terus-menerus bisa menjadi indikasi awal adanya gangguan fungsi pada organ hati atau liver.
- Gangguan hati terjadi akibat penumpukan racun dalam darah karena proses penyaringan tubuh tidak berjalan secara optimal.
- Pola hidup tidak sehat seperti begadang dan konsumsi makanan tinggi lemak dapat memicu penurunan fungsi liver tersebut.
Suara.com - Banyak orang menganggap gatal-gatal pada kulit hanyalah masalah biasa, seperti alergi, cuaca, atau iritasi ringan.
Namun tahukah Anda? Dalam beberapa kondisi, gatal-gatal yang muncul terus-menerus dan tidak biasa ternyata bisa menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada organ hati atau liver.
Sayangnya, gejala ini sering tidak disadari karena terlihat sepele. Padahal, liver memiliki peran penting dalam menyaring racun di dalam tubuh. Ketika fungsi hati terganggu, racun dan zat tertentu dapat menumpuk dalam darah dan memicu rasa gatal pada kulit.
Kenapa Gangguan Liver Bisa Menyebabkan Gatal?
Hati atau liver bekerja sebagai “filter alami” tubuh. Organ ini membantu membersihkan racun, mengatur metabolisme lemak, dan memproses berbagai zat dalam tubuh.
Saat liver mengalami gangguan seperti: Fatty liver (perlemakan hati), Hepatitis, Peradangan hati, Penumpukan lemak berlebih, Gangguan saluran empedu, maka proses pembuangan zat sisa dalam tubuh menjadi tidak optimal. Akibatnya, zat tertentu dapat menumpuk dan memicu rasa gatal di kulit.
Biasanya gatal akibat gangguan liver memiliki ciri:
Gatal muncul tanpa ruam yang jela, Sering terasa di malam hari, Tidak membaik meski sudah memakai obat gatal biasa, Disertai tubuh mudah lelah, Kulit tampak kusam atau kekuningan, Perut terasa tidak nyaman, Nafsu makan menurun, Jika kondisi ini berlangsung lama, sebaiknya jangan dianggap sepele.
Kebiasaan Sehari-Hari yang Bisa Memicu Gangguan Liver
Tanpa disadari, banyak kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele ternyata dapat memperberat kerja hati secara perlahan. Sering begadang misalnya, dapat mengganggu proses regenerasi sel hati karena liver bekerja maksimal saat tubuh beristirahat di malam hari.
Ketika waktu tidur berkurang, proses pembuangan racun dalam tubuh juga menjadi tidak optimal. Ditambah lagi pola makan yang tidak sehat seperti terlalu sering mengonsumsi gorengan, makanan cepat saji, makanan tinggi lemak, serta minuman manis dapat memicu penumpukan lemak pada hati atau yang dikenal dengan fatty liver.
Kurangnya konsumsi air putih juga membuat tubuh lebih sulit membuang racun secara alami sehingga hati harus bekerja lebih keras setiap hari.
Belum lagi stres berlebihan akibat pekerjaan atau aktivitas padat dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan kesehatan organ hati secara keseluruhan. Jarang berolahraga pun menjadi salah satu penyebab lemak lebih mudah menumpuk di tubuh, termasuk di area liver.
Jika kebiasaan-kebiasaan ini terus dilakukan dalam jangka panjang, fungsi hati dapat menurun perlahan tanpa disadari dan memicu berbagai keluhan seperti tubuh mudah lelah, perut terasa tidak nyaman, kulit kusam, hingga gatal-gatal yang tidak biasa.
Baca Juga: Indra Bekti Turun 12 Kilogram Gegara Diet dan Sakit, Aldila Jelita Protes: Kekurusan!
Karena itu, penting untuk mulai menjaga kesehatan liver sejak dini dengan memperbaiki pola hidup, tidur cukup, memperbanyak air putih, rutin berolahraga, dan menjaga pola makan agar fungsi hati tetap optimal dan tubuh tetap sehat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Tips Menjaga Kesehatan Liver Sejak Dini
Menjaga kesehatan liver perlu dilakukan sejak dini karena hati memiliki peran penting dalam proses metabolisme dan pembuangan racun di dalam tubuh. Salah satu langkah utama yang dapat dilakukan adalah menjaga pola tidur agar proses regenerasi sel hati berjalan optimal.
Selain itu, konsumsi sayur dan buah perlu diperbanyak karena mengandung serat, vitamin, dan antioksidan yang baik untuk kesehatan hati.
Pola makan juga harus diperhatikan dengan mengurangi makanan tinggi lemak, gorengan, serta minuman manis yang dapat memicu penumpukan lemak pada hati.
Rutin berolahraga dan mencukupi kebutuhan air putih membantu metabolisme tubuh tetap baik serta mendukung proses detoksifikasi alami. Di sisi lain, menghindari alkohol, rokok, dan mengelola stres dengan baik juga penting untuk menjaga fungsi liver tetap stabil.
Sebagai pendukung, penggunaan herbal pendamping kesehatan hati juga dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga fungsi liver agar tetap optimal, terutama bagi individu dengan aktivitas padat dan pola hidup yang kurang teratur.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius
-
Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya