- The 6th Siloam Oncology Summit 2026 di Jakarta membahas transformasi layanan kanker melalui pendekatan terapi presisi dan personal.
- Teknologi PET-CT scan kini berperan krusial dalam membantu akurasi diagnosis serta pemantauan respons terapi pasien kanker darah.
- Imunoterapi CAR T-cell menjadi inovasi medis mutakhir untuk meningkatkan efektivitas pengobatan kanker darah melalui stimulasi sistem imun.
Suara.com - Perkembangan pengobatan kanker terus bergerak menuju era terapi yang lebih presisi dan personal. Jika sebelumnya penanganan kanker identik dengan operasi, kemoterapi, dan radioterapi, kini teknologi diagnostik dan terapi berbasis imunologi mulai mengubah lanskap pengobatan kanker, khususnya kanker darah.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam The 6th Siloam Oncology Summit 2026 yang digelar MRCCC Siloam Semanggi pada 22–24 Mei 2026 di Jakarta.
Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan perkembangan layanan kanker saat ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan tenaga medis dan kolaborasi lintas disiplin.
“Siloam International Hospitals percaya bahwa kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan fasilitas, tetapi juga oleh kesiapan dan kompetensi tenaga kesehatannya. Karena itu, kami berkomitmen memperkuat kapabilitas klinis melalui pembelajaran berkelanjutan, kolaborasi lintas disiplin, dan koneksi dengan komunitas medis global,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS. Menurutnya, perkembangan precision oncology menuntut pendekatan terapi yang semakin personal dan berbasis biomarker serta teknologi diagnostik modern.
“Perkembangan terapi kanker modern tidak hanya berfokus pada peningkatan survival pasien, tetapi juga kualitas hidup melalui pendekatan terapi yang lebih personal dan minim efek samping,” kata dr. Edy.
PET-CT Bantu Diagnosis hingga Pemantauan Terapi Kanker
Salah satu teknologi yang kini semakin berperan penting dalam diagnosis dan pemantauan terapi kanker darah adalah PET-CT scan.
Dokter spesialis kedokteran nuklir dari MRCCC Siloam Semanggi, dr. Ivana Dewi Mulyanto, Sp.KN(K), FANMB, menjelaskan bahwa PET-CT membantu dokter melihat aktivitas metabolik dalam tubuh menggunakan FDG (fluorodeoxyglucose).
Baca Juga: Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
Melalui teknologi ini, dokter dapat memetakan area dengan aktivitas metabolik tertinggi sehingga membantu menentukan lokasi biopsi yang paling tepat. Namun, dr. Ivana menegaskan bahwa hasil PET-CT tetap harus dikonfirmasi melalui biopsi karena FDG juga dapat ditangkap oleh jaringan inflamasi atau infeksi, bukan hanya sel kanker.
Menurutnya, PET-CT kini memiliki peran penting terutama pada kasus limfoma, mulai dari menentukan stadium penyakit, mengevaluasi respons terapi, hingga mendeteksi kekambuhan kanker.
“Kolaborasi antara dokter hematologi, patologi, radiologi, dan kedokteran nuklir sangat penting agar pasien mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat,” jelas dr. Ivana.
Imunoterapi Jadi “Tombol Keempat” Pengobatan Kanker
Selain kemajuan teknologi diagnostik, inovasi besar juga terjadi dalam pengobatan kanker darah melalui imunoterapi. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik di MRCCC Siloam Semanggi, dr. Chospiadi Irawan, Sp.PD-KHOM, menyebut imunoterapi kini menjadi “tombol keempat” terapi kanker setelah operasi, kemoterapi, dan radioterapi.
“Imunoterapi merupakan upaya untuk menstimulasi sistem imun agar mampu mengeradikasi sel kanker,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi