- Ritme sirkadian atau jam biologis tubuh selama 24 jam berperan penting mengatur sistem pencernaan dan metabolisme manusia secara optimal.
- Gaya hidup modern seperti begadang dan pola makan tidak teratur dapat mengganggu ritme alami serta kesehatan mikrobioma usus.
- Menjaga konsistensi pola makan, hidrasi, kualitas tidur, serta mengelola stres membantu menyeimbangkan kembali jam biologis tubuh agar tetap sehat.
Suara.com - Banyak orang mengira kesehatan usus hanya dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi setiap hari. Padahal, tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pengatur waktu alami yang ikut menentukan bagaimana pencernaan bekerja secara optimal.
Sistem ini dikenal sebagai ritme sirkadian atau jam biologis tubuh selama 24 jam. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, kebiasaan begadang, makan tidak teratur, hingga terlalu lama menatap layar pada malam hari ternyata dapat mengganggu ritme alami tersebut.
Dampaknya bukan hanya membuat tubuh mudah lelah, tetapi juga memengaruhi kesehatan usus dan metabolisme secara keseluruhan. Nutrition Education and Training Lead – Asia Pacific Herbalife, Dr. Vipada Sae-Lao, menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ketepatan waktu biologis yang luar biasa.
“Ritme sirkadian, atau jam biologis internal tubuh selama 24 jam, secara diam-diam mengatur pola tidur, rasa lapar, serta kinerja setiap sistem tubuh sepanjang hari. Jam biologis ini tidak hanya berada di otak, tetapi juga terdapat di hampir setiap sel tubuh, menjaga seluruh tubuh tetap selaras dengan ritme alami siang dan malam,” jelasnya.
Menurut Dr. Vipada, sistem pencernaan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling sensitif terhadap ritme waktu tersebut, termasuk bakteri baik di dalam usus atau mikrobioma usus.
Penelitian menunjukkan bahwa bakteri usus dan jam biologis tubuh saling berkomunikasi untuk membantu menjaga metabolisme, sensitivitas insulin, kesehatan jantung, sistem kekebalan tubuh, hingga berat badan tetap optimal.
Namun, pola hidup modern perlahan mulai mengganggu keseimbangan alami tersebut. Begadang, jadwal makan yang berubah-ubah, kerja shift, hingga paparan layar di malam hari dapat membuat ritme sirkadian menjadi tidak sinkron.
“Tantangannya adalah gaya hidup modern secara perlahan mengganggu komunikasi alami tersebut. Ketika jam biologis tidak lagi sinkron, kondisi usus pun ikut terganggu, sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan, ketidakseimbangan gula darah, dan peradangan dalam jangka panjang,” ujar Dr. Vipada.
Kabar baiknya, menjaga keseimbangan jam biologis dan kesehatan usus sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari.
Baca Juga: Pertolongan Pertama saat GERD Kambuh, Ini 5 Langkah yang Bisa Dilakukan
Salah satunya adalah menjaga pola makan yang lebih teratur. Sarapan bergizi di pagi hari dinilai penting karena setelah berpuasa semalaman, sistem pencernaan berada dalam kondisi optimal untuk menyerap nutrisi.
Selain itu, tubuh juga bekerja lebih baik ketika waktu makan dilakukan secara konsisten setiap hari, idealnya dalam rentang delapan hingga 12 jam. Pola makan yang teratur membantu menjaga energi tetap stabil sekaligus mendukung metabolisme tubuh.
Dr. Vipada juga menekankan pentingnya hidrasi yang dilakukan secara sadar dan teratur. Air membantu seluruh proses pencernaan, mulai dari produksi air liur, membantu penyerapan nutrisi, hingga melancarkan pergerakan sisa makanan dalam usus.
“Segelas air sebelum makan pertama di pagi hari dapat membantu memulai proses pencernaan sekaligus mengaktifkan jam biologis tubuh,” jelasnya.
Tidak hanya soal makan dan minum, kualitas tidur juga memiliki hubungan erat dengan kesehatan usus. Sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk melambat dan beristirahat sebelum tubuh benar-benar tidur.
Karena itu, konsumsi makanan berat, tinggi lemak, terlalu manis, maupun kafein menjelang tidur sebaiknya dihindari. Sebagai gantinya, aktivitas ringan seperti membaca, peregangan lembut, atau minum teh herbal dapat membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai