- Ritme sirkadian atau jam biologis tubuh selama 24 jam berperan penting mengatur sistem pencernaan dan metabolisme manusia secara optimal.
- Gaya hidup modern seperti begadang dan pola makan tidak teratur dapat mengganggu ritme alami serta kesehatan mikrobioma usus.
- Menjaga konsistensi pola makan, hidrasi, kualitas tidur, serta mengelola stres membantu menyeimbangkan kembali jam biologis tubuh agar tetap sehat.
Menjaga jam tidur dan bangun yang konsisten juga membantu bakteri baik di usus menyesuaikan ritme biologisnya secara optimal.
Selain pola hidup, stres juga menjadi faktor penting yang memengaruhi hubungan antara usus dan jam biologis tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus sekaligus memicu gangguan pada ritme sirkadian.
Kortisol, hormon utama pemicu stres, diketahui dapat memengaruhi pergerakan usus dan membuat sistem pencernaan menjadi lebih sensitif dalam jangka panjang.
“Hubungan antara usus dan otak merupakan hal yang nyata, dan stres adalah salah satu faktor pengganggu terkuat dalam hubungan tersebut,” kata Dr. Vipada.
Ia menambahkan, jauh sebelum ilmu pengetahuan modern menjelaskan hubungan tersebut, banyak kebiasaan tradisional masyarakat Asia sebenarnya sudah menerapkan pola hidup yang selaras dengan ritme alami tubuh.
“Menghadirkan kembali pola hidup tersebut ke dalam gaya hidup perkotaan tidak membutuhkan kesempurnaan, melainkan perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten. Seiring waktu, tubuh akan menemukan kembali keseimbangannya,” tutup Dr. Vipada.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien