- Setiap tahun, sebanyak 2.500 bayi di Indonesia lahir dengan talasemia mayor yang memerlukan transfusi darah rutin seumur hidup.
- Pemerintah dan berbagai pihak menyelenggarakan rangkaian kegiatan sepanjang Mei 2026 guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang skrining dini talasemia.
- Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan memperkuat pengendalian talasemia sekaligus memutus rantai penurunan penyakit genetik antar generasi di Indonesia.
Di mana, meliputi webinar nasional pada 19 Mei, aksi donor darah pada 21 Mei, serta kampanye digital melalui kompetisi media sosial pada 16–30 Mei 2026.
Seluruh kegiatan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya skrining dini sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian talasemia di Indonesia.
Webinar nasional “United for Thalassemia” menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, PMI, dokter spesialis anak, hingga POPTI sebagai kelompok advokasi penyandang talasemia.
Diskusi membahas strategi nasional pengendalian talasemia, akses layanan dan pembiayaan di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), perkembangan deteksi dini dan tata laksana, hingga pentingnya keberlanjutan pasokan darah bagi pasien.
“Deteksi dini, edukasi, dukungan terhadap penyandang talasemia, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan adalah bagian penting dalam memperkuat penanggulangan talasemia di Indonesia. Tanpa skrining, talasemia dapat terus berulang antar generasi, padahal risiko ini dapat dikenali lebih awal melalui pemeriksaan yang tepat,” ujar dr. Andi Saguni, M.A., dari Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pasien talasemia, Sysmex Indonesia juga menggelar aksi donor darah untuk membantu menjaga ketersediaan darah bagi pasien talasemia mayor yang membutuhkan transfusi secara rutin.
Selain itu, kampanye digital melalui kompetisi media sosial juga dilakukan untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Masyarakat diajak membagikan foto dan cerita inspiratif mengenai dukungan keluarga, peran tenaga kesehatan, harapan hidup penyandang talasemia, hingga pentingnya skrining dan edukasi sebagai langkah pencegahan.
Melalui peringatan World Thalassemia Day 2026, berbagai pihak berharap kesadaran masyarakat terhadap talasemia terus meningkat.
Upaya deteksi dini dan skrining diharapkan dapat menjadi langkah penting untuk memutus rantai talasemia di Indonesia sekaligus melindungi generasi mendatang dari risiko penyakit genetik ini.
Baca Juga: Iblis dalam Darah: saat Teror Mistis Menyusup ke Nadi, Malam Ini di ANTV
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai