- Tren olahraga ketahanan yang meningkat di Indonesia berisiko menyebabkan cedera serius jika penggiatnya mengabaikan batasan kemampuan sistem muskuloskeletal.
- Dr. Alan Cheung memperingatkan bahwa memaksakan latihan saat cedera dapat memicu kerusakan jaringan permanen hingga penyakit degeneratif seperti osteoartritis.
- Penting bagi penggiat olahraga untuk melakukan peningkatan beban latihan secara bertahap, memperhatikan nutrisi, dan melakukan pemulihan tubuh yang memadai.
Salah satu hal yang disarankan adalah menghindari lonjakan beban latihan secara drastis. Penambahan jarak lari, frekuensi latihan, maupun intensitas olahraga sebaiknya dilakukan secara bertahap agar otot dan tulang memiliki waktu untuk beradaptasi.
Pemulihan juga tidak hanya berarti beristirahat. Tidur yang cukup serta asupan nutrisi yang seimbang berperan penting dalam proses perbaikan jaringan tubuh. Mineral seperti kalsium dan vitamin D dibutuhkan untuk menjaga kepadatan tulang, terutama bagi atlet perempuan yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan tulang.
Di sela-sela jadwal latihan, pelari juga dianjurkan melakukan cross-training dengan olahraga berdampak rendah seperti berenang, bersepeda, atau mendayung. Aktivitas tersebut tetap menjaga kebugaran kardiovaskular tanpa memberikan tekanan berlebihan pada sendi.
Selain itu, latihan kekuatan (strength training) yang berfokus pada otot inti, paha, pinggul, hingga betis juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas tubuh. Otot yang kuat membantu menyerap benturan saat berlari sehingga tekanan tidak langsung diterima oleh sendi lutut maupun panggul.
Performa Jangka Panjang Lebih Penting
Popularitas maraton, triathlon, hingga kompetisi seperti HYROX menunjukkan semakin banyak masyarakat Indonesia menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup.
Namun, mengejar finish line seharusnya tidak mengorbankan kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Dengan mengenali tanda-tanda awal cedera, memberi waktu yang cukup bagi tubuh untuk pulih, serta membangun fondasi otot dan tulang yang kuat, para atlet maupun pelari rekreasional tidak hanya dapat tampil optimal saat berlomba, tetapi juga tetap aktif berolahraga selama bertahun-tahun ke depan.
Baca Juga: Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima
-
Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes