Perawatan Demensia Bukan Sekadar Mengatasi Lupa, Ini yang Perlu Dipahami Keluarga

Jum'at, 18 September 2026 | 13:21 WIB
ILustrasi demensia. (Kindel Media/Pexels)
BACA 10 DETIK
  • Kemenkes menyatakan penurunan daya ingat bukan proses penuaan normal, melainkan potensi gangguan neurokognitif seperti Alzheimer.
  • Dr. Zhao Yi Jing menjelaskan gejala berbahaya demensia meliputi hilangnya fungsi benda dan sering tersesat di rute familiar.
  • Penderita demensia memerlukan deteksi dini, evaluasi medis, perubahan gaya hidup sehat, serta dukungan keluarga yang berkelanjutan.

Suara.com - Demensia sering kali baru mendapat perhatian ketika seseorang mulai mengalami penurunan daya ingat yang cukup berat. Padahal, perubahan kemampuan berpikir dan menjalani aktivitas sehari-hari dapat muncul secara bertahap dan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

Merujuk pada materi edukasi Kementerian Kesehatan RI, penurunan daya ingat bukan merupakan bagian normal dari penuaan. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan neurokognitif yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Alzheimer merupakan penyebab sekitar 60-70 persen kasus demensia. Seiring bertambahnya populasi lanjut usia, jumlah orang dengan demensia (ODD) di Indonesia juga diperkirakan terus meningkat, dari sekitar 1,2 juta orang menjadi 2 juta pada 2030 dan mencapai sekitar 4 juta pada 2050.

Karena itu, perawatan demensia tidak hanya berkaitan dengan obat atau pemeriksaan di rumah sakit. Penanganannya membutuhkan deteksi dini, pemantauan kondisi, dukungan keluarga, serta upaya mempertahankan kemampuan pasien menjalani kehidupan sehari-hari.

Kapan Lupa Perlu Diperiksakan?

Salah satu tantangan dalam menghadapi demensia adalah membedakan lupa yang masih wajar dengan perubahan fungsi kognitif yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Dr. Zhao Yi Jing, Spesialis Neurologi dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura, menjelaskan bahwa lupa meletakkan barang, misalnya kunci, dapat terjadi pada proses penuaan normal.

Namun, situasinya berbeda apabila seseorang mulai kehilangan pemahaman mengenai fungsi benda tersebut, kesulitan melakukan rutinitas yang sebelumnya sudah sangat familiar, atau tersesat ketika melewati rute yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.

Perubahan seperti ini perlu menjadi perhatian, terutama jika terjadi berulang dan semakin memburuk.

“Namun, pada penderita demensia Alzheimer, gejalanya dapat memburuk hingga pasien lupa apa fungsi dari kunci tersebut, kesulitan menyelesaikan rutinitas harian yang seharusnya sangat familiar, atau tersesat di rute jalan yang sudah dilewati selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut merupakan sinyal bahaya neurologis yang membutuhkan evaluasi medis sesegera mungkin,” ujar Zhao.

Deteksi lebih awal penting karena memberikan kesempatan bagi pasien dan keluarga untuk memahami kondisi yang dihadapi sekaligus menyusun rencana perawatan sejak dini.

Perawatan Demensia Tidak Hanya Berfokus pada Daya Ingat

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer secara total. Namun, sejumlah pilihan perawatan dapat digunakan untuk membantu mengendalikan gejala kognitif maupun perilaku.

Pada pasien tertentu yang memenuhi kriteria medis, beberapa terapi terbaru juga dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit. Karena kondisi setiap pasien berbeda, pilihan terapi perlu ditentukan berdasarkan evaluasi medis.

Perawatan juga tidak berhenti pada pemberian obat. Pasien dapat membutuhkan dukungan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, menjaga asupan nutrisi, tetap aktif secara fisik, serta mempertahankan stimulasi kognitif sesuai kemampuan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com