/
Senin, 25 April 2022 | 16:00 WIB

Indotnesia - Mirip seperti permainan menumpuk gelas dengan mengandalkan kecepatan tangan atau sport stacking/cup stacking, permainan dice stacking selain asyik juga memiliki banyak manfaat.

Dice stacking merupakan permainan menumpuk dadu dengan menggunakan gelas. Permainan ini awalnya dikenalkan di Jerman, hingga akhirnya sampai ke Indonesia sekitar tahun 2009.

Permainan seni menyusun dadu menggunakan trik sulap murni, jadi tidak mengandalkan alat sulap yang menghasilkan ‘magic’.

Dengan mengutamakan kecepatan dan keterampilan, permainan gelas dan dadu yang tersusun terlihat seperti sulap.

Di Indonesia, ada seorang pria yang sudah menggeluti seni permainan dice stacking, namanya Abel Brata. 

“Sebenarnya sejarah dice stacking ini dia berasal dari trik sulap yah. Tapi trik sulap yang adalah skill atau keterampilan. Bukan trik yang menggunakan alat khusus. Ini murni keterampilan,” katanya.

Dice stacking mengacu pada prinsip sains yang disebut inersia atau kelembaman. Inersia adalah kecenderungan benda untuk mempertahankan diri agar tetap diam atau tetap bergerak. Jadi, dadu akan tetap bertahan di dalam gelas walaupun saat gelas kita goyang-goyangkan.

Di Jerman, permainan ini rutin dilombakan setiap tahunnya, terhitung sejak tahun 2008. Sekarang, di Indonesia sudah cukup banyak magician yang memainkan ini dan orang-orang lain juga belajar memainkannya.

Cara Bermain

Untuk memainkan dice stacking ada dua alat yang dibutuhkan, yaitu gelas dan dadu. Permainan ini dilakukan di meja atau alas datar. Lalu, mulai lah bermain.

1. Siapkan dadu di atas meja dan susun dengan jarak sedemikian rupa, sehingga kita mudah mengambilnya satu-satu.

2. Miringkan cangkir mencapai 45 derajat. 

3. Ayunkan bolak-balik dengan cepat dan ambil dadu di meja.

4. Ulangi semua proses ini sampai semua dadu masuk dalam gelas.

5. Patikan dadu tertumpuk vertikal.

6. Ketika dadu dirasa sudah tertumbuk, pegang gelas pada sudut hampir 90 derajat.

Load More