Indotnesia - Klitih di Jogja sempat kembali meresahkan masyarakat. Fenomena sosial tersebut seringkali menyebabkan jatuhnya korban, mulai dari mengalami luka parah hingga meninggal dunia.
Bukan berasal dari aksi kriminal, klitih pada mulanya dimaknai sebagai kegiatan santai atau jalan-jalan yang jauh dari identik dengan tindakan kekerasan. Lalu, bagaimana sejarah awalnya? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa itu klitih?
Dilansir dari Suara.com, klitih berasal dari bahasa Jawa yang berarti suatu aktivitas untuk mencari kegiatan di luar rumah. Istilah tersebut juga dikaitkan untuk menyebut kegiatan berkeliling lingkungan guna mengisi waktu luang tanpa aktivitas spesifik.
Selain itu, klitih juga disebut berasal dari sebutan ‘Pasar Klitikan’ di Yogyakarta yaitu aktivitas santai sembari mencari barang bekas atau dalam bahasa Jawa dikenal ‘klitikan’.
Berdasarkan keterangan aparat kepolisian, akademisi, dan psikolog di Yogyakarta, aksi klitih mulai berkembang dari fenomena anak muda yang mencari jati diri dan pengakuan dari lingkungan sosial dengan merebut atribut sekolah lawannya.
Lahir dari geng pelajar
Aksi klitih tercatat telah dilakukan oleh beberapa geng pelajar sejak 1980-an dan semakin ramai pada 1990-an. Di Yogyakarta, terdapat dua geng besar legendaris yang disebut memiliki hubungan dengan sejumlah geng pelajar yaitu QZRUH dan JOXZIN.
Kedua geng tersebut bersaing dan mempertahankan daerah kekuasaan masing-masing. Geng QZRUH menguasai daerah kota Yogyakarta bagian Terban hingga sekitar Jalan Magelang. Sedangkan JOXZIN menguasai kawasan Jalan Malioboro sampai Yogyakarta bagian selatan.
Baca Juga: TikTok Sudah Mendaftar di Kominfo, Facebook Cs Terancam Diblokir
Seperti dilansir dari Suara.com, aksi klitih yang dilakukan oleh pelajar membuat mereka mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Bahkan, pelaku klitih mengklaim dirinya akan mendapatkan reputasi ‘bagus’ setelah melakukan aksi teror jalanan tersebut.
Dikenal sebagai istilah bermakna positif yang menggambarkan seseorang mengisi waktu luang, makna klitih kemudian berubah seiring berjalannya waktu menjadi aktivitas kriminal dengan menyerang seseorang secara acak menggunakan senjata tajam.
Kekerasan jalanan tersebut menjadi ajang adu gengsi dan pamer ‘keberanian’ dengan melakukan perundungan pada korban secara fisik hingga menyerang menggunakan senjata tajam.
Motif penyerangan yang acak, terkadang juga membuat klitih masuk kategori perampokan karena pelaku mengambil barang korban.
Fenomena klitih yang setiap tahunnya memakan korban dan meresahkan warga Jogja, disebut memiliki regenerasi melalui rekrutmen terstruktur.
Menurut Sosiolog Kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto, penjaringan anggota baru menantang anak muda, terutama pelajar bertujuan untuk membuat onar di masyarakat.
“Makin berani menyakiti membuat onar di luar, dia makin dielu-elukan sehingga kondisi psikologisnya membuatnya makin berani, itu fenomena seperti itu ada,” ucap Suprapto, seperti dikutip dari Suara.com.
Demikian penjelasan tentang sejarah klitih yang bermula dari ajang gengsi kekuatan geng pelajar hingga berkembang menjadi aksi kriminal menggunakan senjata tajam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini
-
Semarak Turnamen Bulu Tangkis di Mall Solo, 219 Peserta Ikut Bertanding
-
Komunikasi Politik Prabowo Dinilai Kerap Blunder, Akademisi: Bisa Rugikan Pemerintah
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana