/
Sabtu, 10 September 2022 | 13:33 WIB
Bisnis sewa komik di Jogja yang masih eksis. (Indotnesia/ Eko Junianto)

Selain itu, cara peminjaman pada masa lalu juga menuntut konsumen untuk meninggalkan salah satu identitas atau sejumlah uang yang dimiliki sebagai jaminan. 

Meski sempat menerapkan sistem lawas tersebut, Teddy pun perlahan berinovasi dengan mengubah rental komik miliknya menjadi lebih terbuka dan tanpa harus meninggalkan identitas ketika akan meminjam.

Sadar akan risiko seperti banyak konsumen membaca di tempat dan buku tidak kembali, Teddy percaya pada prinsip kejujuran dan kepercayaan yang dimilikinya bahwa konsumen itu jujur dan ia harus memberikan mereka kepercayaan.

“Kita ubah kemudian, ndak boleh gitu karena KK kan kejujuran dan kepercayaan. Jadi, kita percayalah setiap konsumen itu jujur, kita kasih mereka kepercayaan. Karena itu, udahlah saya catat aja namanya. Kalau balikin ya sukur, kalau enggak ya kembali ke moral. Barang segitu tidak besar tapi dosanya sama kok. Itu akan mendidik dia sendiri.,” ungkapnya.

Walaupun kini Teddy hanya memiliki satu toko rental buku, ia juga berkeyakinan bahwa era buku cetak tidak akan mudah ditelan jaman meski digempur digitalisasi.

“KK itu kecil dibandingkan gelombang besar yang ada, gelombang informasi dunia ini yang ada. Tetapi KK ingin memberi makna bahwa kita berdiri, kita punya sesuatu yang berbeda dibandingkan yang lain,”

“Kamu boleh dapat informasi dari internet, kamu boleh dapat informasi dari orang tua guru dll. Tapi saya katakan, kamu akan punya imajinasi lebih pada saat membaca, membaca apa saja,” pungkas Teddy. 

Load More