Indotnesia - Kemunculan wabah baru menggegerkan masyarakat di India karena menyerah sebagian warganya. Wabah itu disebut kebal terhadap antibiotik dan yang dikenal dengan superbug.
Mansir BBC, kasus itu pertama kali teridentifikasi di rumah sakit Kasturba, Maharashtra, India Barat. Beberapa pasien di sana mengalami resistensi antibiotik atau kebal terhadap antibiotik.
Lalu, apa itu sebenarnya superbug?
Melansir Mayoclinic, superbugs adalah strain bakteri, virus, parasit atau jamur yang resisten terhadap sebagian besar antibiotik dan obat lain yang biasa digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkannya.
Resistensi obat (resistensi antimikroba) adalah fenomena alami yang dapat diperlambat, tetapi tidak dihentikan. Karena seiring waktu kuman seperti bakteri, virus, parasit dan jamur mampu beradaptasi dengan obat yang dirancang untuk membunuh mereka dan berubah menjadi kebal terhadap mereka.
Akibatnya, pengobatan standar sebelumnya dilakukan untuk mengatasi beberapa infeksi menjadi kurang efektif bahkan terkadang menjadi tidak efektif.
Superbug termasuk bakteri resisten yang dapat menyebabkan pneumonia, infeksi saluran kemih, dan infeksi kulit. Hingga kini para peneliti terus mengevaluasi bagaimana kuman ini mengembangkan resistensi. Mereka juga mempelajari cara mendiagnosis, mengobati, dan mencegah resistensi antimikroba.
Gejala Superbug
Melansir Healthline, bagi sebagian orang, terinfeksi superbug tidak menimbulkan gejala sama sekali. Ketika orang sehat membawa kuman tanpa gejala, mereka dapat menginfeksi orang yang rentan tanpa menyadarinya.
Baca Juga: Geram Lesti Kejora Cabut Laporan KDRT Rizky Billar, Warganet Minta KPI Boikot Leslar dari TV
Namun, superbug juga bisa menunjukkan gejala yang sangat bervariasi tergantung pada organisme mana yang menyerang. Beberapa gejala umum di antaranya, demam, kelelahan, diare, batuk, hingga pegal-pegal.
Gejala-gejala tersebut memang mirip dengan gejala infeksi penyakit lainnya. Perbedaannya adalah gejala superbug membuat penderita tidak bisa merespon antibiotik atau obat anti jamur.
Mengutip Mayo Clinic, beberapa kebiasaan dapat meningkatkan kemunculan dan penyebaran kuman antibiotik.
1. Menggunakan atau menyalahgunakan antibiotik
2. Memiliki praktik pencegahan dan pengendalian infeksi yang buruk
3. Hidup atau bekerja dalam kondisi yang tidak bersih
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Seragam Sekolah yang Layak Masih Jadi Mimpi Sebagian Anak Indonesia
-
Indonesia Gabung WAICO, Pemerintah Tegaskan AI Bukan Ajang Pilih Kubu China-AS
-
3 Sunscreen Jepang agar Kulit Tampak Awet Muda, Lengkap Review Pembeli
-
Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil
-
Kemendag Menang Sengketa WTO, Akses Ekspor Rp7,34 Triliun ke Eropa Berhasil Diselamatkan
-
Tumpuk Sampah Sembarangan di Jakarta Bisa Berujung Denda Rp 500 Ribu
-
Meski Amplop Dikembalikan, KPK Bisa Jerat Raja Juli dengan Pasal Suap dan Gratifikasi
-
Anak Kecanduan Gawai Picu Gagal Ginjal dan Diabetes, Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras
-
Sopir Truk Wing Box Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Pantura yang Tewaskan 12 Pengantar Pengantin
-
Lebak Darurat Air Bersih, Kemarau Panjang Landa 90 Desa di 23 Kecamatan