/
Senin, 26 Juni 2023 | 21:04 WIB
Ilustrasi balita. (pixabay.com)

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan (Kemkes) melaporkan DKI Jakarta menjadi provinsi dengan prevalensi balita stunting terendah kedua di Indonesia pada 2022.

Artinya, sekitar 14 dari 100 balita di Ibu Kota memiliki tinggi badan di bawah rerata anak seusianya sehingga prevalensi balita stunting di Ibu Kota sebesar 14,8% tahun itu. 

DKI Jakarta mampu memangkas angka balita stunting sebesar dua poin dari tahun sebelumnya. Pada SSGI 2021 prevalensi balita stunting di provinsi ini mencapai 16,8%.

Angka prevalensi stunting DKI Jakarta tersebut menurun dibanding 2021, sekaligus mencapai level terbaiknya dalam tujuh tahun terakhir seperti terlihat pada grafik.

Novita Agustina, menyatakan stunting terkait erat dengan masalah kurang gizi.

"Stunting pada anak merupakan dampak dari defisiensi nutrisi selama seribu hari pertama kehidupan. Hal ini menimbulkan gangguan perkembangan fisik anak yang irreversible, sehingga menyebabkan penurunan performa kerja," kata Novita, dilansir yankes.kemkes.co.id, dikutip Liberte Suara, Senin (26/6/2023).

Stunting bukan hanya bisa terjadi pada anak dari keluarga kurang mampu. Ada pula kasus stunting dalam keluarga yang berkecukupan ekonomi, karena orang tuanya kurang memerhatikan asupan nutrisi anak.

"Anak stunting memiliki rerata skor Intelligence Quotient (IQ) sebelas poin lebih rendah dibandingkan rerata skor IQ pada anak normal. Gangguan tumbuh kembang pada anak akibat kekurangan gizi, bila tidak mendapatkan intervensi sejak dini, akan berlanjut hingga dewasa," lanjutnya.

Namun demikian, angka stunting di Ibu Kota berada di bawah ambang batas yang ditetapkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%. Ini mengindikasikan bahwa stunting di DKI Jakarta masih tergolong rendah.

Baca Juga: Ganjar Pranowo 'Ikut Campur' Selesaikan Masalah di DKI Jakarta, Denny Siregar: Itu Berarti...

Load More