- Warga Jakarta Timur dan Bekasi melakukan aksi protes di Gedung DPRD DKI Jakarta pada Kamis, 7 Mei 2026.
- Massa menuntut pengusutan dugaan korupsi proyek RDF Rorotan senilai Rp1,3 triliun yang dinilai penuh dengan kejanggalan pengadaan.
- Operasional proyek RDF Rorotan memicu keluhan polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan warga di kawasan JGC dan sekitarnya.
Suara.com - "Bau busuk" dugaan korupsi proyek RDF Rorotan senilai Rp1,3 triliun memicu gelombang protes warga Jakarta Timur dan Bekasi yang mengepung Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Selain menuntut pengusutan atas dugaan penggelembungan harga pengadaan, warga mendesak pemerintah bertanggung jawab atas polusi udara yang disebut menyebabkan anak-anak di kawasan JGC hingga Harapan Indah terserang ISPA dan pneumonia akibat operasional fasilitas yang dianggap ilegal tersebut.
Acep Edy Setiawan, salah satu peserta aksi asal JGC, Jakarta Timur, menegaskan bahwa pembangunan RDF Rorotan sejak awal diduga tidak sesuai aturan. Ia menyoroti ketiadaan sosialisasi AMDAL lingkungan maupun AMDAL lalu lintas kepada warga terdampak di sekitar JGC, Harapan Indah (HI), hingga Metland.
"Hari ini kami melihat bahwa RDF Rorotan itu berdiri tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Banyak pertanyaan yang belum terjawab hari ini, dari tahun 2023 sampai saat ini belum bisa dijawab oleh Pemprov DKI Jakarta tentang AMDAL lingkungan, AMDAL lalin yang hari ini seharusnya bangunan itu berdiri secara bertahap," ujar Acep di depan Gedung DPRD DKI Jakarta.
Acep menduga ada upaya pemaksaan operasional fasilitas tersebut demi menutupi keterlibatan oknum tertentu.
"Kenapa semua ini dipaksakan? Seolah-olah ingin menutupi adanya oknum-oknum yang terlibat di era pada saat 2019-2024. Dan saya rasa ini bukan waktunya kita menutup-nutupi orang yang dugaan kita adalah melakukan korupsi," tegasnya.
Dugaan mark-up dan anggaran fantastis
Massa aksi juga menyoroti kejanggalan dalam proses pengadaan proyek senilai Rp1,3 triliun tersebut. Acep menyebut ada indikasi pemilihan kontraktor dengan harga yang lebih mahal meski tersedia opsi yang lebih efisien.
"1,3 triliun dalam proses pengadaannya pun hari ini dipertanyakan karena pada saat pengadaan itu ada harga yang lebih murah tapi dia tidak ambil harga itu. Kenapa dia ambil yang harga mahal, dugaan dari PT Asiana? Ini yang kemudian harus ditelusuri," ungkap Acep.
Ia juga menyinggung insiden kebakaran di lokasi pada Maret lalu yang dinilai terkesan ditutup-tutupi.
Baca Juga: Anak-anak Kena ISPA hingga Pneumonia, Warga Terdampak RDF Rorotan Siapkan Gugatan Class Action
"Baru ditrial... mau 100 ton udah kebakaran. Bagaimana kalau dalam anggaran 1,3 triliun itu 2.500 ton per hari? Bagaimana coba itu? Berarti kan indikasi adanya korupsinya ini bisa sama-sama kita lihat," tambahnya.
Tak hanya soal anggaran, massa juga mempertanyakan perpindahan lokasi proyek yang semula direncanakan di Bantar Gebang atau Marunda, namun kemudian dipindahkan ke Rorotan tanpa sosialisasi yang jelas kepada warga terdampak.
"Kenapa terjadi perpindahan lokasi yang hari ini masyarakat tidak tahu sama sekali? Seolah-olah ingin menutupi adanya oknum-oknum yang terlibat di era pada saat 2019-2024," ujar Acep.
Terkait dugaan penyelewengan anggaran yang disuarakan dalam aksi tersebut, Melinda, seorang pengusaha di Kelurahan Pejuang, menekankan bahwa warga menyerahkan sepenuhnya pembuktian kepada aparat penegak hukum.
"Kalau indikasi justru seharusnya kita kembalikan lagi kepada pihak-pihak yang berwenang gitu ya untuk menyelidiki ini. Kan kami bilang ini adalah indikasi. Yang mana kita kembalikan untuk membuktikan itu, kita nggak bisa kasih statement di sini, biar akan dijalankan," pungkas Melinda.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Anak-anak Kena ISPA hingga Pneumonia, Warga Terdampak RDF Rorotan Siapkan Gugatan Class Action
-
Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!
-
Tinggal Sejak 1980, Kini Digusur PAM Jaya Tanpa Kejelasan Rusun, Warga Protes
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!
-
Aksi 4 Mei: Kala Mahasiswi Pertanyakan Nurani Penguasa Soal Nasib Guru Honorer
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Pusat Tes TOEFL dan Bahasa Asing Hadir di Makassar, Jangkau Sulawesi hingga Papua
-
Manga Romantis The Dangers in My Heart Resmi Tamat dalam Tiga Chapter Lagi
-
Membaca Bu, Aku Ingin Pelukmu: Beratnya Rindu Ketika Ibu Tak Lagi Ada
-
AC Panasonic Premium Inverter HU Series, AC Hemat Listrik, Cepat Dingin & Udara Lebih Bersih
-
Gudang Buku dan Alat Musik SDN 04 Srengseng Sawah Terbakar, Petugas Damkar Tiba dalam 4 Menit
-
Saepul Rencanakan Mutilasi Depok Demi Gasak Motor Korban
-
Jalan Hertasning Nyaris Rampung! Ini Update Terbaru Proyek Jalan Rp2,5 Triliun di Sulsel
-
Dari Rival Jadi Ikon: Jejak Tajam Pemain 'Pengkhianat' di Persib dan Persebaya
-
Polisi Ungkap Fakta Baru Kasus Mutilasi Depok, Pelaku Tergabung dalam Grup Komunitas Gay
-
Riset Terbaru: Siram Atap dengan Air Hujan Terbukti Tekan Penggunaan AC saat Gelombang Panas