/
Jum'at, 07 Juli 2023 | 15:39 WIB
Presiden Jokowi makan bersama dengan Prabowo Subianto (Instagram/Prabowo)

Pengamat politik Adi Prayitno menyoroti sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kerap menampilkan gesture politik yang multitafsir.

Jokowi beberapa kali memperlihatkan kedekatannya dengan sejumlah tokoh politik hingga ketua umum partai politik (parpol).

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai arah dukungan Jokowi dalam pemilihan presiden (pilpres) 2024 mendatang. Apalagi Jokowi merupakan kader dari dari PDI Perjuangan (PDIP).

Belakangan, Jokowi saat berpidato di perayaan puncak Bulan Bung Karno beberapa waktu lalu seperti tidak memiliki semangat untuk mendukung penuh calon presiden (capres) PDIP Ganjar Pranowo.

Hal ini kontras dengan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPR RI Puan Maharni yang bepidato penuh dengan semangat di hadapan para kader di acara tersebut.

“Giliran Jokowi yang pidato kok rasa-rasanya kurang semangat. Jokowi itu sepertinya memang rada-rada kurang at home ya kalau bicara politik apa pun di PDIP, serasa bukan di rumahnya,” kata Adi, dikutip Liberte Suara, Jumat (7/7/2023), dari YouTube KompasTV.

Adi menambahkan, Jokowi terkesan lebih nyaman dan penuh semangat saat berpidato di hadapan para relawan. Apa pun bisa disampaikan oleh Jokowi hingga memakan waktu berjam-jam.

“Beda kalau Jokowi bicara di depan para relawan, Jokowi akan terus terang bicara tentang bagaimana portofolio politik capres di 2024, bagaimana pentingnya sustainabilty development setelahnya, yang bisa memastikan (program kerja) Jokowi itu bisa dilanjutkan semua,,” terangnya.

Yang menjadi pertanyaan, lanjut Adi, apa alasan Jokowi tidak menunjukkan semangat mendukung capres PDIP.

Baca Juga: CEK FAKTA: Cerdik! Prabowo Gabung Koalisi Perubahan dan Nyatakan Siap Perang Lawan Istana Demi Anies

“Saya merasa ada jarak psikologis yang sepertinya membuat Pak Jokowi itu enggak happy karena diposisikan sebagai orangyang selalu menjadi petugas parai. Jadi Jokowi itu sadar betul,” ujarnya.

“Ketika Jokowi terus menerus disebut sebagai petugas partai padahal Jokowi itu adalah presiden yang dipilih oleh ratusan juta pemilih di Indonesia,” sambungnya.

Adi membandingkan sikap Jokowi terhadap PDIP dengan ketika Jokowi bersama para elite politik dari partai lain. Bahkan Presiden kerap memperlihatkan momen saat bersenda gurau.

“Cukup menarik karena akan selalu dibandingkan. Contoh kalau di acara Golkar nyaman sekali Jokowi bercanda, di acara Perindo juga begitu, di acara PPP juga begitu apalagi di sayap politik yang dibangun oleh Jokowi,” terang dia.

“Jokowi kelihatan lebih nyaman dan happy kalau bicara dengan partai-partai koalisi pendukung yang lainnya karena seakan-akan partai koalisinya ini kan selalu menjadikan Jokowi sebagai mercusuar dalam menentukan pilihan politiknya,” jelasnya, menambahkan.

Hubungan yang naik dan turun antara Jokowi dengan PDIP menurut Adi juga dipicu ketika pengumuman Ganjar sebagai capres beberapa waktu lalu. Adi meyakini, Jokowi seperti tidak dilibatkan padahal ia adalah orang yang pertama mendukung Ganjar.

Load More