- Aspermigas ingatkan risiko keamanan CNG sangat tinggi untuk rumah tangga.
- Tekanan CNG mencapai 25 kali lipat LPG, sangat rawan meledak jika malfungsi.
- Pemerintah diminta evaluasi matang aspek keselamatan dan praktikalitas CNG.
Suara.com - Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal memberikan catatan terkait upaya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang sedang mengembangkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG).
Moshe menilai pengembangan CNG untuk menggantikan LPG untuk kebutuhan rumah tangga memiliki tantangan yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat.
"Untuk industri sebenarnya sudah lama. Industri juga sudah didorong oleh pemerintah untuk menggunakan CNG, menggantikan LPG. Tapi kalau untuk masyarakat, apalagi rumah tangga, saya sih tidak begitu menganjurkan ya. Karena masalah risiko safety ini sangat-sangat besar," ujar Moshe saat dihubungi Suara.com pada Kamis (7/5/2026).
Dia menjelaskan bahwa CNG memiliki karakteristik yang berbeda dengan LPG. Tekanan CNG mencapai 200–250 bar, sementara LPG hanya 5–10 bar. Artinya, tekanan CNG 25–30 kali lebih tinggi dan sangat beresiko meledak jika terjadi malfungsi.
"Kebayangkan. Sedangkan LPG sering kita dengar kan, banyak kecelakaan, tabung yang meledak dan lain sebagainya. Ini bayangkan, tekanannya itu setidak-tidaknya itu bisa 25 kali lipat daripada LPG," kata Moshe.
Faktor keamanan inilah yang menjadi alasan utama mengapa pada saat program konversi energi tahun 2007, pemerintah lebih memilih LPG sebagai pengganti minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga.
Moshe mengakui bahwa CNG sudah lazim digunakan oleh sektor industri, seperti perhotelan dan restoran. Menurutnya, sektor-sektor tersebut memiliki kapasitas untuk menerapkan prosedur keamanan dan penempatan tabung yang ketat.
"Di hotel misalnya, tabung CNG bisa diletakkan di luar ruangan atau di area khusus untuk meminimalkan risiko. Namun, untuk skala rumah tangga hal ini sulit dilakukan karena tekanan CNG bisa 25 kali lipat lebih tinggi (dibanding LPG)," jelasnya.
Dengan besarnya risiko tersebut, Moshe meminta agar Kementerian ESDM mempertimbangkan kembali pengembangan CNG sebagai pengganti LPG dengan berdasarkan aspek keselamatan dan lingkungan.
Baca Juga: Siap-Siap Ganti Gas Melon ke CNG, Apakah Bisa Pakai Kompor LPG Biasa?
"Jadi, tolong pemerintah pikir matang-matang, evaluasi dengan benar, jangan berdasarkan feeling-feeling saja. Kalau mau implementasi sesuatu, tolong semua aspeknya, ekonomiannya, praktikalitasnya, manfaatnya bagi masyarakat seperti apa," kata Moshe.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
IHSG Terbang Tinggi 1,15% Hari Ini, 370 Saham Menghijau
-
Alasan Perang Iran Bikin Harga BBM Tetap Mahal Meski Pasokan Minyak Dunia Melimpah
-
RUPST Bank Jago: Laba Tumbuh 115 Persen, Tetapkan Direksi Baru
-
BRI Life Catat Penurunan Klaim Rp1,17 Triliun di Kuartal I-2026
-
Profil Blueray Cargo: Perusahaan Spesialis Impor yang Seret Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama
-
PT Krakatau Osaka Steel Tutup dan PHK Ratusan Buruh, Kemenperin Prihatin
-
Penuhi Free Float, Prajogo Pangestu Lego Saham CUAN Sebesar Rp 467 M
-
Prioritaskan Transparansi, BRI Dukung Proses Hukum Kasus KoinWorks
-
Rupiah Menguat ke Rp 17.333/US$, Harapan Damai di Timur Tengah Jadi Tenaga
-
Segini Jumlah Uang yang Diterima Para Bos Bea Cukai di Hotel Borobudur