Bisnis / Energi
Kamis, 07 Mei 2026 | 16:48 WIB
Ilustrasi. Pengembangan CNG untuk menggantikan LPG untuk kebutuhan rumah tangga memiliki tantangan yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Aspermigas ingatkan risiko keamanan CNG sangat tinggi untuk rumah tangga.
  • Tekanan CNG mencapai 25 kali lipat LPG, sangat rawan meledak jika malfungsi.
  • Pemerintah diminta evaluasi matang aspek keselamatan dan praktikalitas CNG.

Suara.com - Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal memberikan catatan terkait upaya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang sedang mengembangkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti  liquefied petroleum gas (LPG). 

Moshe menilai pengembangan CNG untuk menggantikan LPG untuk kebutuhan rumah tangga memiliki tantangan yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat. 

"Untuk industri sebenarnya sudah lama. Industri juga sudah didorong oleh pemerintah untuk menggunakan CNG, menggantikan LPG. Tapi kalau untuk masyarakat, apalagi rumah tangga, saya sih tidak begitu menganjurkan ya. Karena masalah risiko safety ini sangat-sangat besar," ujar Moshe saat dihubungi Suara.com pada Kamis (7/5/2026). 

Dia menjelaskan bahwa CNG memiliki karakteristik yang berbeda dengan LPG. Tekanan CNG mencapai 200–250 bar, sementara LPG hanya 5–10 bar. Artinya, tekanan CNG 25–30 kali lebih tinggi dan sangat beresiko meledak jika terjadi malfungsi. 

"Kebayangkan. Sedangkan LPG sering kita  dengar kan, banyak kecelakaan, tabung yang meledak dan lain sebagainya. Ini bayangkan, tekanannya itu setidak-tidaknya itu bisa 25 kali lipat daripada LPG," kata Moshe. 

Faktor keamanan inilah yang menjadi alasan utama mengapa pada saat program konversi energi tahun 2007, pemerintah lebih memilih LPG sebagai pengganti minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga.

Moshe mengakui bahwa CNG sudah lazim digunakan oleh sektor industri, seperti perhotelan dan restoran. Menurutnya, sektor-sektor tersebut memiliki kapasitas untuk menerapkan prosedur keamanan dan penempatan tabung yang ketat.

"Di hotel misalnya, tabung CNG bisa diletakkan di luar ruangan atau di area khusus untuk meminimalkan risiko. Namun, untuk skala rumah tangga hal ini sulit dilakukan karena tekanan CNG bisa 25 kali lipat lebih tinggi (dibanding LPG)," jelasnya.

Dengan besarnya risiko tersebut, Moshe meminta agar Kementerian ESDM  mempertimbangkan kembali pengembangan CNG sebagai pengganti LPG dengan berdasarkan aspek keselamatan dan lingkungan. 

Baca Juga: Siap-Siap Ganti Gas Melon ke CNG, Apakah Bisa Pakai Kompor LPG Biasa?

"Jadi, tolong pemerintah pikir matang-matang, evaluasi  dengan benar, jangan berdasarkan feeling-feeling saja. Kalau mau implementasi sesuatu, tolong semua aspeknya, ekonomiannya, praktikalitasnya, manfaatnya bagi masyarakat seperti apa," kata Moshe.

Load More