Pulau Rempang banyak dibicarakan publik belakangan ini. Sejatinya, Pulau Rempang merupakan pulau kecil yang menjadi bagian dari zona berikat Kawasan Industri Batam. Tak hanya menjadi bukti dari kekayaan Indonesia sebagai Negara Kepulauan, Pulau Rempang juga memiliki banyak keistimewaan yang menarik untuk dibahas, termasuk mengenai sejarah Pulau Rempang.
Dengan mengetahui sejarah Pulau Rempang, masyarakat dapat mengenali dan memahami lebih jauh andil Pulau Rempang dalam mewujudkan cita-cita Indonesia menjadikan Batam sebagai wilayah yang berdaya saing dengan Singapura, negara kecil namun menjadi salah satu pusat perekonomian dunia. Simak selengkapnya dalam informasi berikut ini.
Sejarah Pulau Rempang
Pulau Rempang memiliki luas wilayah sebesar 16.583 hektare dan terletak di sebelah tenggara Pulau Batam. Pulau Rempang terdiri atas dua kelurahan, yakni Rempang Cate dan Sembulang yang keduanya masuk dalam wilayah Kecamatan Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau. Tak hanya itu, Pulau Rempang diketahui memiliki 16 kampung tua yang menjadi permukiman masyarakat asli Pulau Rempang sejak tahun 1834 silam.
Ada dua kelompok masyarakat yang mendiami Pulau Rempang-Galang, yakni kelompok masyarakat Melayu dan Tionghoa serta kelompok masyarakat adat Pulau Rempang-Galang yang dikenal sebagai Orang Darat atau Orang Oetan (Orang Hutan).
Masyarakat adat Orang Oetan diketahui hidup terpisah dari masyarakat secara umum. Mereka tinggal di dalam hutan-hutan Pulau Rempang yang belum banyak terjamah publik. Sayangnya, populasi Orang Oetan terus menyusut menjadi sekitar 30 jiwa yang terdiri atas tujuh keluarga pada tahun 2008 silam. Menurut legenda, Orang Oetan berasal dari Lingga dan mereka dikatakan mirip dengan suku asli Johor dan Melaka, yakni Orang Jakun.
Menurut catatan sejarah, Pulau Rempang dan Pulau Galang pada awalnya tidak termasuk dalam Otorita Batam dan menjadi bagian dari Pemerintah Daerah Riau. Hingga akhirnya pada tahun 1992, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan pulau-pulau di sekitarnya menjadi bagian dari wilayah Pulau Batam. Melalui Keppres Nomor 28 Tanggal 19 Juni 1992, pemerintah melakukan perluasan wilayah kawasan industri Pulau Batam.
Kawasan tersebut kemudian dikenal dengan Balerang, yakni Batam, Rempang, dan Galang. Pengembangan kawasan tersebut didukung oleh pembangunan infrastruktur yang membuat wilayah Batam, Rempang, dan Galang saling terhubung melalui Jembatan.
Diketahui, pemerintah telah membangun enam jembatan untuk menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton, Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, Pulau Nipah dengan Pulau Setokok, Pulau Setokok dengan Pulau Rempang, dan Pulau Rempang dengan Pulau Galang. Secara keseluruhan, panjang keenam jembatan tersebut mencapai 1.568 meter.
Baca Juga: Kahiyang Ayu Tak Berhasil Lolos CPNS, Ini yang Sebenarnya Terjadi
Popularitas, Keindahan Alam, dan Potensi Ekonomi Pulau Rempang
Jauh sebelum wacana pemerintah menjadikan Pulau Rempang sebagai bagian dari pengembangan wilayah Batam, popularitas Pulau Rempang di mata mancanegara sudah jauh ada bahkan sejak era Perang Dunia II. Pulau Rempang memiliki tempat spesial di benak para serdadu Jepang.
Tak kurang dari 27.000 serdadu Jepang menjadikan Pulau Rempang sebagai tempat bernaung selama masa Perang Dunia II. Memori Pulau Rempang dan orang-orang Jepang itu pun diabadikan melalui Tugu Minamisebo atau dikenal sebagai Tugu Jepang yang dibangun di Sembulang pada tahun 1981 silam.
Tugu tersebut dibangun oleh lembaga nonprofit yang dibentuk oleh warga Jepang, yakni Rempang Friendship Association (RFA). Tugu tersebut menjadi penanda wafatnya ratusan serdadu Jepang saat menunggu kepulangan mereka ke Jepang pada masa Perang Dunia II. Jejak sejarah tersebut masih dapat dilihat melalui monumen berdiameter 3x3 meter, lengkap dengan nama dan foto tentara Jepang yang wafat.
Popularitas Pulau Rempang kian mumpuni berkat keindahan alam yang tak kalah dari destinasi-destinasi unggulan lainnya di Indonesia. Sebagai wilayah kepulauan, Pulau Rempang sangat kaya dengan pantai-pantainya yang memikat.
Melansir Beach Searcher, Pulau Rempang memiliki laut yang tenang, air laut berwarna kristal biru kehijauan, dan pantai berpasir yang indah. Hal itulah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk bertandang ke Pulau Rempang setiap tahunnya. Sejumlah pantai yang wajib dikunjungi di Pulau Rempang di antaranya adalah Pantai Melur, Pantai Dendang Melayu, Pantai Viovio, Pantai Jembatan 5, Panti Melayu, dan Pantai Sembulan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Drama Overtime Antar Perbanas ke Asia, Ubaya Kuasai Takhta Putri Campus League 2026
-
Sebut Bukan Insiden Kebetulan, Nandang Sutisna Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
-
Banyak Keluarga Melakukannya, Merencanakan Akhir Hayat Kini Jadi Bagian dari Financial Planning
-
Dari Live Shopping ke PayLater, Begini Cara Generasi Digital Berbelanja Sekarang
-
Siap-Siap Merinding Sekaligus Ngakak, Film Dukun Magang Tampilkan Kuntilanak Hitam
-
Jelajah Tri: Dari Benteng Kuto Besak hingga Ampera, Palembang Makin Terkoneksi di Era Digital
-
Curhat Ratu Sofya, Belum Terima Honor Sepeserpun usai Main Film Dosa
-
Sengkarut Data Alamat di Hari Pertama SPMB Malang 2026
-
2 Oknum Perwira Polda Jatim Diduga Terlibat Jaringan Narkoba Internasional
-
Perempuan Tak Sekadar Belanja, Bazar Fesyen Bertransformasi Jadi Ruang Bertumbuh dan Berjejaring