Suara.com - Ada beragam cerita rakyat nusantara, termasuk urang Banjar Kalimantan Selatan tempo dulu yang mengandung nilai-nilai filosofi dan bermakna yang bisa menjadi renungan serta pelajaran bagi masyarakat hingga kini.
Cerita rakyat Banjar Kalsel yang bisa menjadi i'tibar atau contoh itu seperti "Pilanduk dan Biawak" yang mungkin terlupakan atau kurang disimak dengan baik, serta menjadikannya sebuah pelajaran berharga bagi kehidupan manusia, terutama kaum Muslim.
Pilanduk adalah sebutan urang Banjar Kalsel tempo dulu terhadap pelanduk atau kancil, yang dalam cerita rakyat/dongeng nusantara tergolong binatang cerdik/raja akal serta jenaka.
Sebagaimana hukum kalangan kaum Muslim, pelanduk yang dulu banyak terdapat di hampir seluruh nusantara dan juga di Kalsel, kini mulai langka, tergolong binatang yang halal bagi umat Islam untuk dikonsumsi.
Berbeda dengan biawak, bagi kaum Muslim haram mengonsumsinya, antara lain karena kukunya seperti cakar serta tergolong buas yaitu mangsa binatang yang masih hidup.
Biawak yang bisa hidup di dua alam, yaitu di darat dan di air atau jenis ampibi tersebut juga banyak terdapat di hampir seluruh wilayah Indonesia, oleh karena itu tampaknya belum termasuk satwa langka yang dilindungi undang-undang.
Sebagai indikator belum tergolong binatang langka dan mendapat perlindungan hukum, di kota/daerah tertentu masih ada warga yang menjual sate biawak.
Sementara sate pelanduk sulit ditemukan, karena keberadaannya terancam punah sehingga dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.
Seperti halnya di "Bumi Perjuangan Pangeran Antasari" atau "Bumi Lambung Mangkurat", Kalsel hingga tahun 1960-an masyarakat masih ramai "bagarit" atau berburu/mencari pelanduk, terutama di daerah hulu sungai "Banua Anam" di provinsi tersebut.
Namun belakangan, sejak tahun 1980-an hampir tidak terdengar lagi urang Banua Anam bagarit pelanduk, terkecuali "minjangan" atau rusa liar.
Menjangan pun belakangan sulit ditemukan di alam bebas, kecuali diusahakan melalui penangkaran.
Daerah hulu sungai atau Banua Anam Kalsel yang meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan dan Kabupaten Tabalong itu bagian dari kawasan Pegunungan Meratus.
Cerita Pelanduk Cerita pelanduk dan biawak tersebut tergolong singkat, namun berisi makna mendalam yang semestinya menjadi motivasi bagi kaum Muslim untuk senantiasa berbuat atau berperilaku yang baik dan benar sesuai tuntunan Islam.
Kendati cerita rakyat Banjar Kalsel, namun dalam penulisannya menggunakan Bahasa Indonesia agar khalayak dapat memahami maknanya, kecuali terkadang menggunakan bahasa daerah setempat guna mengetahui keaslian alur ceritanya.
Al kisah pada zaman dahulu, ada pelanduk berjalan-jalan ke sana-ke mari di belantara Pegunungan Meratus untuk mencari makan.
Makanan pelanduk di Bumi Perjuangan Pangeran Antasari antara lain buah "kujajing" (kujajing sp), salah satu tanaman hutan Meratus.
Buah kujajing bentuknya seperti jambu biji (jambu klotok), hanya saja lebih renyah, sehingga pelanduk mudah memakannya.
Tetapi pohon kujajing tersebut juga sudah terancam punah seiring perambahan hutan dan ramainya bisnis perkayuan melalui Hak Pengusahaan Hutan (HPH).
Jadi kelangkaan pelanduk seiring dengan terganggunya habitat antara lain karena pembukaan lahan secara besar-besaran untuk usaha lain, seperti perkebunan yang marak di Kalsel sejak tahun 1980-an.
Dalam perjalanan pelanduk atau Si Kancil yang terkenal cerdik serta jenaka itu bertemu sekelompok petani yang bergotong-royong "manugal" atau menanam padi di lahan kering/perbukitan.
Kemudian di antara petani tersebut secara tiba-tiba melihat sang pelanduk itu, dan langsung berteriak; 'pilanduuuk...'. Para petani itupun mengejar pelanduk tersebut, namun tidak berhasil menangkapnya.
Oleh karena kejaran dan petani hendak menangkapnya, pelanduk itu pun lari kencang, terbirit-birit agar bisa lolos.
Si pelanduk bernafas tersengal-sengal dan dengan mulut ternganga menjulurkan lidah sambil mengeluarkan air liur.
Pada saat pelanduk menganga menjulurkan lidah dan mengeluarkan air liur itu, biawak melihat dan mendekati, serta langsung bertanya, ada apa gerangan yang terjadi? Kepada biawak itupun, pelanduk berujar, bahwa dirinya habis menikmati makan yang enak tetapi terasa pedas, sehingga "taliur" (mengeluarkan air liur yang tak sengaja).
Dengan kebohongannya, pelanduk mengatakan, bahwa di sebelah bukit (maksudnya tempat dia dikejar = red) ada orang bergotong-royong manugal, mereka baik hati, sehingga setiap yang datang kesana selalu mendapatkan jamuan makan.
Mendengar penuturan pelanduk tersebut, biawak pun tak berpikir panjang langsung menuju tempat orang manugal itu, dengan harapan mendapatkan jamuan enak sebagaimana cerita pelanduk.
Namun apa yang terjadi? Nasib sial biawak. Begitu sekelompok petani melihat biawak, langsung berterik-teriak; biawaaak... dan mereka kejar untuk ditangkap.
Biawak pun juga lari tunggang-langgang agar bisa lolos dari tangkapan para petani tersebut, dan akhirnya kembali bertemu dengan pelanduk.
Ketika bertemu dengan pelanduk tersebut, biawak pun "manumpalak" (mengembalikan cerita pelanduk tentang kebaikan petani yang ternyata sebaliknya = red).
"Ujar 'ikam' (kamu) petani itu baik, ternyata aku mereka 'sasahi' (kejar) juga untuk ditangkap," ucap biawak kepada pelanduk.
Sang pelanduk pun menjawab ocehan biawak tersebut dengan ucapan, "ikam nang haram haja disasahi urang, apalagi aku nang halal menjadi sasaran mereka" (kamu yang haram saja mereka kejar, apalagi aku yang halal).
Berita Terkait
-
Bayar Zakat Bisa Sekaligus Pangkas Pajak? MUI Dorong Pemerintah Ubah Skema Tax Credit
-
Tiga Pembantai Polisi di Katingan Diciduk! Serang Petugas Pakai Parang Saat Gerebek Narkoba
-
Polisi Gugur dan Dua Anggota Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba, DPR Minta Pelaku Ditindak Tegas
-
Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
-
Ribuan Bacang Halal Dibagikan, Perayaan Peh Cun Jadi Simbol Kebersamaan Lintas Agama
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
On Squad Race Debut di Jakarta, Lomba Estafet Urban Satukan Komunitas Pelari dalam Format Unik
-
6 Shio Paling Beruntung pada 8 Juli 2026, Hoki Menghampiri Sepanjang Hari
-
Apa Itu Teknik Baking dalam Makeup? Ini Caranya agar Riasan Tahan Lama
-
Review Viva Velvet Cushion yang Cuma Rp70 Ribuan: Hasilnya Flawless dan Samarkan Pori-Pori
-
Dari Matras ke Yacht, Tren Gaya Hidup Sehat Kini Hadir dengan Cara yang Lebih Seru
-
Apa Bedanya Tone Up Cream dan Moisturizer? Sering Dianggap Sama Padahal Fungsinya Beda
-
Beda Cushion Emina Hijau dan Ungu: Intip Kandungan, Manfaat, dan Harganya
-
Ramalan Horoskop 8 Juli 2026, 3 Zodiak Ini Bakal Diselimuti Keberuntungan
-
Budget Rp35 Ribuan Dapat Serum Apa? Ini 3 Pilihan untuk Kulit Glowing dan Cerah
-
5 Alasan Mengapa Sepatu Jalan Kaki Tidak Cocok Dipakai Lari, Dampaknya Bisa Fatal