Suara.com - Proses persalinan gentle birth, yang merupakan suatu konsep persalinan alami dan memperhatikan semua aspek tubuh manusia secara lebih holistik, belakangan menjadi perhatian bagi banyak para ibu di Indonesia, karena membawa momen membahagiaakan.
Khususnya, setelah sejumlah selebriti tanah air memilih melakukan persalinan dengan cara ini, sebut saja Andien Aisyah. Pada 7 Januari 2017 lalu, Andien dan suami memutuskan untuk melahirkan anaknya, yang diberi nama Anaku Askara Biru, dengan water birth.
Sebanyak 15 galon air hangat disiapkan untuk mengisi sebuah kolam di rumahnya sendiri, yang ditemani oleh beberapa orang bidan. Tepat pada bukaan kedelapan, ia dan suami masuk bersama ke kolam tersebut.
Selama persalinan Andien terus bergerak dan mencari posisi ternyaman untuk membantu Kawa mencari jalan lahirnya sendiri, mulai dari setengah berjongkok, jongkok, duduk, menungging dan posisi lainnya.
Apa yang dilakukan Andien adalah sesuai dengan konsep gentle birth, yang percaya bahwa setiap manusia, memiliki insting tentang bagaimana proses melahirkan yang nyaman bagi tubuhnya sendiri.
Gentle birth bisa dilakukan di mana saja dan tanpa harus berada di tempat tidur dengan posisi berbaring. Meski begitu, tetap harus diawasi oleh tenaga medis profesional.
Mirip dengan Andien, cara persalinan ini juga dipilih Ayudia Bing Slamet untuk melakukan persalinan anak pertamanya, Dia Sekala Bumi. Bedanya, artis satu ini memilih sebuah klinik di Bali yang dinamakan Bumi Sehat dan tidak di dalam air.
Klinik milik seorang bidan asal Hawai yang menetap di Bali bernama Robin Lim ini, memang sudah populer dalam membantu persalinan setiap ibu dengan konsep Gentle Birth.
Baca Juga: Deretan Foto Persalinan Sandra Dewi
Hasilnya, ibu akan merasakan proses persalinannya sebagai momen membahagiakan, menyenangkan, minim trauma dengan penuh kesadaran dan kasih sayang. Dengan persalinan 'ramah' jiwa dan penuh kehangatan ini, bayi dipercaya akan tumbuh berdasarkan perasaan positif tersebut, yang akan ia warisi secara fisik, mental dan spirit hingga ia dewasa.
Atas dasar itulah, Dyah Pratitasari, yang dikenal sebagai Prenatal - Postpartum Yoga Teacher, Birth Doula & Breastfeeding Counsellor, mendirikan sebuah komunitas yang ia namakan Komunitas Gentle Birth Untuk Semua (GBUS) pada April 2011 lalu.
Komunitas GBUS sebagai forum nirlaba, kata Prita, ingin mengajak semua komponen masyarakat, terutama kaum perempuan, agar memberdayakan dirinya semaksimal mungkin dengan ilmu dan keterampilan. Tujuannya, agar setiap kehamilan berjalan sehat, serta persalinan berjalan aman, nyaman, lancar, dan minim trauma.
Menurut perempuan yang akrab disapa Prita ini, ada alasan khusus ia menambahkan kata "untuk semua" di belakang nama gentle birth dalam komunitas ini. Ia ingin, gentle birth bisa dinikmati dan dirasakan oleh semua orang dalam semua jenis atau metode persalinan.
Karena memang seharusnya, kata dia, persalinan itu terjadi dengan lembut, penuh cinta, penuh kasih dan minim trauma. Itu semua bisa dirasakan oleh setiap orang, dengan cara apapun yang mereka pilih, bukan hanya mereka yang melahirkan di dalam air, di rumah, di atas kasur, tapi mereka yang juga melahirkan di rumah sakit, bahkan di meja operasi.
Komunitas ini, kisah Prita, awalnya terbentuk sebagai wujud syukur atas pengalaman positif yang ia rasakan bersama suami, seiring kelahiran anak keduanya.
"Menandai bahwa, oh ternyata kalau kita menyikapi kehamilan dan persalinan dengan cara yang berbeda, dengan positif, outcome-nya bisa beda juga. Pengalaman yang kami dapatkan bisa beda juga. Nah, pengalaman itu yang ingin kami share ke teman-teman yang lain, ibu-ibu yang lain," ujar dia saat suara.com temui di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Ia memulai ide dengan membuat sebuah forum di Grup Facebook dengan nama Gentle Birth Untuk Semua. Forum tersebut ia isi dengan berbagai artikel dan tulisan informatif karyanya sendiri dan beberapa teman lain.
Semakin lama, semakin banyak yang ikut bergabung, mulai dari para profesional, seperti bidan, dokter, psikolog hingga ibu rumah tangga. Hingga saat ini, anggota di Grup Facebook tersebut sudah lebih dari 37 ribu orang.
Dari kegiatan aktif secara online, kegiatan GBUS mulai beralih pada kegiatan offline yang disesuaikan dengan kebutuhan para anggotanya.
Secara berkala, anggota GBUS mengadakan 'kopi darat' untuk mendiskusikan beberapa topik secara lebih mendalam.
Mulai 2013, mereka mengadakan kelas prenatal yoga hingga saat ini di Taman Tabebuya, Jakarta Selatan, satu bulan sekali, yakni di minggu pertama atau kedua. Di sela kelas prenatal yoga, kata Prita, biasanya kegiatan juga diisi dengan bincang-bincang santai, talkshow, hingga workshop yang membahas berbagai hal, mulai dari cara untuk menghindari baby blues pascamelahirkan, bagaimana tampil cantik saat menyusui, hamil sehat dan lainnya.
Untuk tahun ini, kata dia, selain kelas prenatal yoga, akan dihadirkan pula kelas postpartun yoga dan yoga with kids, untuk memfasilitasi para ibu yang sudah melahirkan dan ingin tetap mengikuti kegiatan GBUS bersama anak-anak mereka.
"Dengan adanya kopdar ini, yang pertama kita ingin setiap ibu punya akses untuk belajar yoga. Yang kedua, dengan ketemu satu sama lain, yang saya ingin capai adalah ibu jadi punya support system, punya teman untuk sharing, punya teman untuk cerita terkait kehamilan dan persalinannya," ujar dia.
Nah, bagi Anda yang ingin bergabung, Prita mengatakan tak ada persyaratan khusus yang diberlakukan, khususnya bagi ibu hamil yang ingin mengikuti kegiatan ini. Hanya tinggal datang mengikuti kelas Yoga yang tersedia. GBUS juga memberlakukan sumbangan sukarela, yang nantinya akan dimasukkan ke dalam sistem kas atau didonasikan untuk mereka yang membutuhkan.
"Bagi yang mau ikutan, bisa mulai datang dari trimester kedua untuk kelas prenatal yoga, kalau postpartum yoga amannya setelah dua bulan melahirkan. Nanti pasti akan diinfokan terlebih dahulu di fanpage kami," tutup dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Gaya Hidup Aktif Jadi Makin Stylish, Ini Cara Baru Olahraga yang Sekaligus Fashionable
-
Kecantikan Masuk Era Regeneratif, Perawatan Kulit Kini Fokus ke Kesehatan Sel Jangka Panjang
-
5 Potret Gaya Hidup Mewah Vanessa Nabila, Wanita yang Dekat dengan Gubernur Ahmad Luthfi
-
Lipstik Orange Cocok untuk Kulit Apa? Ini 5 Pilihan yang Murah dan Bagus
-
6 Shio Paling Beruntung pada Rabu 13 Mei 2026, Ada Shio Babi dan Kuda
-
Urutan Basic Skincare Wardah untuk Kulit Berjerawat, Wajah Jadi Bersih dan Sehat
-
Organisasi Jepang Gelar Sayembara Cari Rumah Angker di Indonesia, Siapkan Imbalan Rp50 Juta
-
Zulfan Hasdiansyah Bagikan Wawasan di Middle East Youth Summit 2026
-
YBB Umumkan Pemenang Middle East Youth Summit 2026 di Makkah
-
Dialami Ayu Aulia, Benarkah Aborsi Bisa Sebabkan Wanita Kehilangan Rahim?