Ade Indra Kusuma
Kamis, 19 Desember 2019 | 19:30 WIB
Kawasan Situs Kuno Rumah Gajah Mungkur [Suara.com/Tovan]

Suara.com - Berkunjung ke Situs Kuno Rumah Gajah Mungkur Gresik

Kampung Kemasan dan Rumah Gajah Mungkur Wisata Edukasi Kota Gresik

Pada tahun 1853 berdiri sebuah rumah yang dibangun seorang keturunan China bernama Bak Liong yang memiliki kepandaian dalam mengolah emas.

Bangunan yang terletak ditepi sungai kecil dan berakhir di lautan bebas berada di kota Gresik yang saat itu gersang dan tandus.

Dikisahkan, Bak Liong  yang mempunyai keterampilan membuat kerajinan dari emas ini menjadikannya terkenal hingga banyak penduduk yang datang untuk membuat atau memperbaiki perhiasan emasnya. Selain itu, dibangunnya rumah ditepi sungai agar memudahkan dalam transportasi.

Kawasan Situs Kuno Rumah Gajah Mungkur [Suara.com/Tovan]

Hingga saking terkenalnya tempat untuk pengrajin emas itu, akhirnya kawasan yang ditempati Bak Liong ini dinamakan Kampung Kemasan (tukang emas) oleh warga sekitar yang sekarang menjadi jalan Nyai Ageng Arem- Arem, Kelurahan Pakelingan, kabupaten Gresik.

Kemudian, dua tahun berselang, tepatnya tahun 1855, datanglah Haji Oemar bin Ahmad yang dikenal sebagai pedagang Kulit mendirikan sebuah rumah dua lantai di kawasan ini. Lantai pertama untuk keluarga dan untuk menyimpan kulit, lantai dua untuk tempat sarang burung walet.

Enam tahun kemudian tepatnya tahun 1861, Haji Oemar mendirikan tiga buah rumah lagi yang terletak disebelah kiri rumahnya yang pertama di kampung kemasan dan satu buah rumah yang terkenal dengan rumah Gajah Mungkur.

Haji Oemar memiliki tujuh anak bernama Asnar, Marhabu, Abdullah, H. Djaelan, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar. Diantara ketujuh anak Haji Oemar yang tertarik untuk melanjutkan usaha perkulitan yakni Asnar, H. Djaelan, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar yang kemudian melanjutkan usaha bapaknya dengan mendirikan pabrik penyamakan kulit yang berlokasi di desa Kebungson Gresik.

Dari hasil penyamakan kulit dan hasil penjualan liur walet yang ada di lantai dua masing-masing rumah itu, anak-anak Haji Oemar bin Ahmad ini berhasil mendirikan beberapa rumah di Kampung Kemasan yang saling berhadapan.

Salah satu keturunan Haji Oemar bin Ahmad yang juga pemerhati sejarah di Gresik itu Oemar Zaenuddin (79) mengatakan arsitektur rumah tinggal di kampung kemasan mendapat pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan China dan Eropa atau belanda yang terlihat baik dari bentuk, ruang, elemen, ornamen maupun makna simbolik yang berada didalamnya.

Adanya ciri khas perpaduan budaya pada bangunan di kampung Kemasan ini merupakan suatu warisan bangsa yang harus dilestarikan di tengah era globalisasi ini, dimana terdapat banyak bangunan lain yang telah kehilangan identitas serta sejarah yang dimilikinya karena gencarnya renovasi dan modernisasi. 

"Jadi bangunan rumah di Kampung Kemasan ini kakek buyut saya yang membangun, bukan orang turunan China. Hanya saja, yang menjadi arsitek kala itu memang didatangkan dari negeri China. Karena itu, pengaruh kebudayaan Cina dan Eropa khususnya Belanda kental di rumah-rumah yang ada di Kemasan ini. Bisa dikatakan masih ada hubungan saudara semua penghuni disini," jelas Oemar kepada Suara.com.

Lebih lanjut Oemar menjelaskan ciri arsitektur China yang telihat pada rumah-rumah di Kampung Kemasan ini dapat aspek fisik (ruang dan elemen) dan aspek nonfisiknya (makna simbolik).

Aspek fisik yang merupakan ciri arsitektur Cina yang terdapat pada bangunan di kampung ini adalah penggunaan sumbu axis dan penggunaan elemen penutup lantai dengan pola ornamentasi octagons and squares.

Selain itu, terdapat makna simbolik pada penggunaan warna merah dimana warna tersebut melambangkan kemakmuran, keberuntungan, kebajikan dan kebenaran. Warna memberikan lambang yang berbeda-beda dan pada umumnya digunakan pada elemen tertentu untuk sebuah bangunan. 

"Jika Anda melihat, jelas sekali arsitektur China dari simbol-simbol dan Belanda bisa di lihat dari pilar dan jendelanya yang khas Eropa. Tapi yang harus di ingat, bangunan ini bukan orang cina (Bak Liong) yang membangun tapi kakek buyut saya ( Haji Oemar bin Ahmad)," ungkapnya saat di temui di rumahnya, Kamis (19/12/2019).

Oemar Zaenuddin menceritakan pada masa itu, Kampung Kemasan tergolong sebagai kawasan elit di Gresik kota. Sebab, kampung ini berdekatan dengan Pelabuhan Gresik yang saat itu menjadi pintu utama dan pusat perdagangan Kota Gresik dan sekitarnya. Banyak pedagang atau saudagar dari Gresik atau luar Gresik (Nusantara) bahkan dari mancanegara datang dan singgah di kota Gresik.

"Wilayah Kampung Kemasan dan sekitarnya itu dulu pusat bisnis, kawasan elit pada masa itu. Kampung Kemasan sangat dekat dengan pelabuhan yang menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di indonesia, dimana banyak pedagang datang dan singgah di kota Gresik ini termasuk kakek buyut saya yang berdagang kulit ke seluruh pulau Jawa," jelasnya.

Kawasan Situs Kuno Rumah Gajah Mungkur [Suara.com/Tovan]

Selain itu, Kampung Kemasan juga menjadi daya tarik untuk wisata ilmu pengetahuan, banyak pelajar, mahasiswa khusunya arsitek dan peneliti yang datang berkunjung. Mereka rata-rata ingin mengetahui desain dan tata letak bangunan serta meneliti berapa tahun usia bangunan itu.

"Sering pelajar datang kesini, mahasiswa (arsitektur) juga ada yang dari kampus di Jatim dan luar Jatim datang. Para peneliti dari Indonesia dan luar negeri seperti Belanda, Perancis, Cina dan lainnya juga ada yang datang. Kampung kemasan ini menjadi tempat wisata tapi wisata edukasi," tegas pria yang biasa disapa pak Nood itu.

Kontributor : Tofan Kumara