Suara.com - Semasa hidupnya, Raden Ajeng Kartini rutin berkirim surat dengan teman-temannya di Eropa. Pasca Kartini meninggal, surat-surat tersebut dikumpulkan dan dijadikan buku berjudul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) pada tahun 1911 oleh J.H Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.
Namun, tak banyak orang tahu bahwa tujuan utama Abendanon membukukan kumpulan surat Kartini ternyata bukan untuk kepentingan sejarah. Peneliti dari Rumah Kartini, Daniel Tangkilisan, mengatakan bahwa Abendanon punya tujuan politik ketika menerbitkan surat-surat Kartini menjadi buku.
"Buku ini diterbitkan bukan dengan tujuan utama sejarah yang komprehensif, lengkap, dan menyeluruh, tapi sebenarnya ada tujuan politik," kata Daniel dalam Bincang Redaksi online bersama National Geographic, Senin (21/4/2020).
"Tujuan utama Abendanon sebenarnya untuk galang dana guna mendirikan sekolah khusus bagi murid-murid Jawa. Dia sempat mengusahakan saat masih menjabat di kantor pendidikan pribumi, tapi ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda. Dia pensiun juga mungkin karena tekanan," tambah Daniel.
Atas dasar itu kemudian Abendanon tidak seluruhnya mempublikasikan surat-surat Kartini dalam buku berbahasa Belanda tersebut. Pada tahun 1922, buku diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan terjemahan dari sastrawan Armijn Pane.
Menurut Daniel, dalam buku Habis Gelao Terbitlah Terang itu lebih banyak lagi surat Kartini yang disunting oleh Arminj.
"Judulnya sebenarnya berarti 'Melalui Gelap sampai Kepada Terang', bukan 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Tapi Arminj Pane lebih jauh lagi menyuntingnya. Tidak semua surat Kartini muncul," kata Daniel.
Ketika awal abad 21, pakar sejarah Indonesia berdarah Belanda Profesor Josst Coté melakukan penelitian selama seperempat abad terhadap tulisan Kartini. Kemudian banyak tulisan Kartini baru ditemukan, termasuk juga surat-surat dari adik-adik Kartini.
"Tulisan itu kemudian dibukukan dan diberi judul 'A Letters RA Kartini'. Tulisan Kartini bukan hanya surat, tapi juga nota kepada pemerintah, cerpen. Tulisan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris," ucap Daniel.
Baca Juga: Buruh Perempuan di Hari Kartini: RUU Cipta Kerja Tidak Memenuhi Hak-hak
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
Terkini
-
Dari Ngopi hingga Belanja, Ini Alasan Transaksi Digital Kian Jadi Andalan Sehari-hari
-
Tak Banyak yang Tahu, Pilihan Menu di Hotel Ternyata Bisa Berdampak pada Kelestarian Laut
-
Moisturizer Citra Pearly Glow UV Bisa Bikin Cerah? Cek Klaim dan Ulasan Pengguna
-
3 Review Facial Wash Non SLS Wardah, Tidak Bikin Wajah Ketarik setelah Cuci Muka
-
5 Cara Sederhana Redakan Stres Kerja agar Tidak Burnout, Mudah Dilakukan!
-
Belum Punya Riwayat Kredit? Kini Peluang Dapat Pembiayaan Bisa Lebih Besar Berkat Data Digital
-
Limbah Jahe Selama Ini Banyak Terbuang, Bagaimana Peneliti BRINDiubah Menjadi Sumber Energi Bersih?
-
6 Tips Feng Shui untuk Menjual Rumah, Cepat Laku dengan Harga Tinggi
-
Awas Tertipu, Begini Cara Membedakan Sunscreen Facetology Asli dan Palsu
-
Bukan Cuma Estetik, Begini Cara Memilih Lantai Rumah yang Awet, Aman, dan Minim Perawatan