Suara.com - Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sudah menginfeksi jutaan orang dan menewaskan ribuan lainnya. Namun menurut ahli, ancaman krisis iklim di masa depan bisa menimbulkan dampak yang lebih parah.
Dilansir ANTARA, Penasihat Senior Menteri LHK bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Konvensi Internasional Nur Masripatin, yang menyebut kecepatan perubahan iklim dan dampaknya dirasakan semakin meningkat.
Dalam Persetujuan Paris, negara-negara sepakat untuk menahan lajur peningkatan suhu global hingga di bawah dua derajat Celcius. Namun, menurut Nur Masripatin, saat ini saja sudah terjadi kenaikan di atas satu derajat.
Dunia sudah melihat dampak dari wabah seperti pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Karena itu mengantisipasi dan mengekang dampak perubahan iklim adalah hal penting karena ancaman yang ditimbulkannya, terutama bagi generasi muda yang akan merasakannya.
"Krisis iklim dibayangkan akan jauh lebih dahsyat dari pada krisis COVID-19 ini. Jadi ini PR bersama, mari tongkat estafet kita berikan kepada yang muda dan generasi seterusnya," katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia (DPPPI) Sarwono Kusumaatmadja mengatakan dampak perubahan iklim akan terasa lebih cepat dan para pemuda akan menghadapi kondisi iklim yang lebih menantang.
Dalam Indonesia Youth Climate Summit (IYCS) 2020 virtual yang dipantau dari Jakarta pada Jumat, Sarwono mengatakan bahwa karakter bencana yang disebabkan perubahan iklim yang dulu terjadi secara perlahan (slow onset) kini memperlihatkan gejala dampak dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Menteri Negara Lingkungan Hidup RI 1993-1998 itu mengatakan bahwa hal tersebut menyebabkan Indonesia, yang memasuki masa bonus demografi, harus bisa melakukan hal-hal penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat.
Di mana menurut dia membutuhkan tiga hal dasar yaitu pangan, energi dan air.
Baca Juga: Gawat! Setengah Laut Dunia Sudah Kena Dampak Perubahan Iklim
"Para pemuda-pemudi kita atau orang-orang yang dalam usia produktif akan menghadapi suatu kondisi iklim yang demikian menantang," tutup Sarwono.
Berita Terkait
-
Sekretariat DPRD DKI Jakarta Sosialisasi Pilah Sampah
-
Dari Plastik jadi Energi: Bagaimana Get Plastic Dorong Perubahan Cara Pandang tentang Sampah?
-
Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global
-
Perubahan Iklim Masuk ke Ruang Kelas: Ketika Suhu Sekolah Mulai Mengganggu Proses Belajar
-
NHM Raih Penghargaan PROPER Biru, Cerminan Kinerja Pengelolaan Lingkungan yang Taat
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
5 Foundation Stick 'Dupe' Dior yang Bikin Wajah Auto Mulus, Harga Mulai Rp40 Ribuan
-
5 Weton Paling Ditakuti Makhluk Halus Menurut Primbon Jawa
-
8 Hal yang Harus Dipersiapkan saat Pemadaman Listrik Bergilir
-
Hari Susu Sedunia 2026: Kebiasaan Kecil Minum Susu yang Bisa Berdampak Besar bagi Kesehatan
-
Keliling Jakarta Tanpa Takut Sinar UV, Menemukan Cerita di Setiap Sudut Kota
-
Silsilah Keluarga Roy Suryo, Keturunan Keraton Mana?
-
Bukan Sekadar Game, eSports Jadi Pintu Masuk Literasi Finansial dan Transformasi Digital
-
5 Moisturizer Anak untuk Mencerahkan Kulit Wajah yang Kusam dan Sensitif
-
5 Rekomendasi Sabun Cuci Muka untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat
-
3 Shio yang Beruntung Selama 22-28 Juni 2026, Rezeki Datang Bertubi-tubi