Suara.com - Mendaki gunung jadi salah satu rekreasi yang banyak digandrungi orang. Menjanjikan pemandangan alam yang eksotis, kegiatan di alam terbuka sebenarnya juga tinggi risiko terjadinya kecelakaan.
Pegiat alam yang juga pendaki senior Djukardi Adriana, atau akrab disapa Bongkeng, menyampaikan bahwa hampir seluruh kecelakaan di gunung dialami pendaki saat sedang turun. Ia menilai, kecelakaan terjadi karena pendaki kurang berhati-hati.
"Risiko kecelakaan, khususnya kematian, itu pada saat turun. Jadi 90 persen kejadian kecelakaan yang terjadi pada saat turun. Kurang hati-hati, pemikirannya pengen pulang, lalu capek jadi sudah gak fokus. Dalam pendakian gunung 90 persen kematian itu pada saat turun," katanya ditemui suara.com di Bandung, Sabtu (26/10/2020).
Ia menjelaskan bahwa ada dua faktor penyebab terjadi bahaya di gunung. Yakni faktor objek yang berasal dari alam seperti hujan, badai, atau tanah longsor atau faktor subjek, yang berasal dari manusia itu. Biasanya itu karena kurang pengetahuan teknik hidup di alam terbuka.
Selain mental dan fisik, Bongkeng menegaskan bahwa pengetahuan juga sangat penting dimiliki setiap pendaki. Ketiga hal itu tidak bisa dipisahkan.
"Tapi dengan kegiatan saat ini banyak digemari, dia mulai bermain, lambat laun insyaallah akan terbina dengan alam itu sendiri untuk menuju kesana. Karena kegiatan mendaki gunung akan membentuk karakter manusia," ucap Bongkeng yang juga anggota Perhimpunan Wanadri itu.
Telah 50 tahun aktif mendaki gunung di Indonesia juga luar negeri, Bongkeng tentu pernah mengalami cedera fisik. Termasuk keseleo yang paling umum dialami pendaki. Cedera fisik tidak membuatnya kapok berkegiatan di alam tapi justru jadi pemantik agar diri lebih berhati-hati.
Bongkeng mengaku, karena pernah terjatuh dan mengakibatkan kakinya keseleo saat sedang turun gunung, hingga saat ia selalu berjalan paling lamban.
"Karena turun terburu-buru. Sekarang saya kalau turun paling lama dari orang lain. Hati-hati. Karena saya pernah terjadi seperti itu jadi pelan-pelan. Seringnya tersesat karena ingin buru-buru pulang," ucapnya.
Baca Juga: Adinda Thomas Serius Lakukan Persiapan Naik Gunung Saat New Normal
Untuk memiliki pengetahuan mengenai pendakian, menurut Bongkeng, tidak harus bergabung dengan organisasi pegiat alam. Kemudahan akses informasi saat ini, bisa dimanfaatkan untuk belajar mengenai teknik hidup kegiatan di alam terbuka.
"Makanya saya di EAST membuat Mountain Jungle Course itu MJC, sekolah mendaki gunung, karena banyak sekarang teman-teman yang tidak punya bekal pengetahuan tapi ingin berkegiatan, tapi tidak ingin berorganisasi karena takut pada pendidikan dasarnya," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- Detik-detik Menteri Trenggono Pingsan di Podium Upacara Duka, Langsung Dilarikan ke Ambulans
Pilihan
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Hadapi Tantangan Kegagalan Mencari Utang Baru
-
5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
H-135 Kick Off Piala Dunia 2026, Dua Negara Ini Harus Tempuh Perjalanan 15.000 KM
Terkini
-
5 Moisturizer Gel yang Tidak Cocok Buat Kulit Kering
-
Berapa Kg Beras untuk Bayar Fidyah Puasa 30 Hari? Ini Bacaan Niat dan Panduan Lengkapnya
-
Usia 40 Pakai Sunscreen SPF Berapa? 7 Rekomendasi Untuk Cegah Penuaan Dini
-
5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
-
Cara Menghapus 'Open to Work', Fitur LinkedIn yang Dipakai Prilly Latuconsina
-
9 Promo Paket Viva Cosmetics dari Skincare hingga Bedak, Mulai Rp30 Ribuan
-
7 Rekomendasi Sunscreen untuk Pengendara Motor Sesuai Jenis Kulit
-
Bacaan Doa 'Allahumma Bariklana Fi Rajaba' Lengkap dengan Artinya
-
Kekayaan Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang Pilih Jadi Petani Ketimbang Menteri Kepolisian
-
4 Pilihan Lipstik Lokal Anti-Geser untuk Pemakaian Sehari-hari