Suara.com - Anda yang menjalani masa kanak-kanak di era 70-an dan 80-an, pasti akrab dengan beragam lagu anak Indonesia macam Tik Tik Bunyi Hujan, Naik Delman, Desaku, Nenek Moyang, hingga Aku Seorang Kapiten. Kini, lagu-lagu tersebut mungkin tak pernah lagi terdengar, kecuali di rumah-rumah ketika para orangtua berdendang menyanyikan lagu-lagu tersebut untuk anak-anaknya.
Ya, meski lawas, lagu anak Indonesia yang pernah populer di masanya itu seakan tak pernah hilang dari ingatan kita, generasi 70-an dan 80-an. Tak heran, meski saat ini anak-anak lebih banyak mendengar dan menyanyikan lagu dewasa ataupun lagu anak berbahasa Inggris, sebagian dari mereka masih mengenal lagu anak Indonesia macam Balonku, Nina Bobo, Bintang Kecil, Pelangi Pelangi, dan mungkin masih banyak lagi lainnya.
Tapi pertanyaannya, seberapa banyak orangtua yang masih rutin mengajak anak-anaknya menyanyikan lagu tersebut? Berapa banyak di antara kita, para orangtua, yang mau melestarikan lagu anak Indonesia lawas tersebut agar tak punah hingga generasi selanjutnya?
Jawabannya, mungkin tak banyak. Tak sedikit orangtua yang lebih bangga ketika anak-anaknya fasih menyanyikan lagu anak berbahasa Inggris. Bahkan, banyak pula yang bangga ketika anak-anaknya dianggap pandai menirukan lagu barat dewasa lengkap dengan koreografinya.
Adalah hak setiap orangtua untuk memilih hal seperti apa yang ingin ia banggakan dari anak-anaknya. Tapi, tak ada salahnya kita mencoba bernostalgia dengan lagu anak Indonesia yang dulu pernah kita nikmati saat menjadi anak-anak, dan memperkenalkannya pada anak-anak kita kini. Siapa tahu, sama seperti kita dulu, mereka pun menikmatinya, kan?
Anda butuh alasan kuat untuk meyakinkan diri kenapa lagu anak Indonesia ini perlu disosialisasikan kembali? Ini dia 5 alasannya.
1. Lagu anak Indonesia diciptakan dengan maksud, pesan, dan fungsi tertentu
Lagu anak Indonesia klasik macam Bintang Kecil, Pelangi Pelangi, Satu Satu Aku Sayang Ibu, hampir semuanya punya lirik yang sederhana, pendek, dan mudah dihapal. Dan semua lagu pun mengandung maksud, pesan, dan fungsi tertentu. Misal Nina Bobo yang fungsinya relaksasi atau menenangkan, lagu Bangun Tidur yang edukatif, bahkan ada juga lagu macam Ular Naga untuk mengiringi permainan kanak-kanak.
Hal ini dibenarkan oleh Audrey Meirina, salah satu host tayangan interaktif Sofa Kuning yang menampilkan lagu-lagu anak Indonesia yang diaransemen ulang sesuai selera zaman, yang mengatakan bahwa lagu anak Indonesia itu sangat edukatif.
"Lagu kita mengajarkan pantun, pergi ke sekolah, gosok gigi, dan masih banyak lagi. Dan semua itu pakai bahasa kita sendiri. Melodinya pun sangat indah," katanya.
Baca Juga: The 90's Festival 5th Edition Berkolaborasi dengan #SaveLaguAnak
Ia kemudian membandingkan lagu anak Indonesia dengan Baby Shark yang juga populer di kalangan anak-anak. "Meski punya banyak versi, intinya lagu ini cuma menceritakan 'Bayi hiu hiu hiu, ayah hiu hiu hiu (sambil berdendang)'. Ini cuma ear catchy untuk anak-anak joget-joget saja," katanya.
2. Lagu anak Indonesia diciptakan khusus untuk anak-anak
Anda mungkin sering mendengar anak-anak menyanyikan lagu dewasa yang menceritakan soal cinta atau perselingkuhan. Bahkan, beberapa lagu barat, tak sedikit yang liriknya mengandung kata kasar dan provokatif, yang seharusnya tak diucapkan oleh anak-anak.
Tentu bukan salah lagu-lagu tersebut, karena lagu-lagu itu memang diciptakan untuk dikonsumsi orang dewasa, bukan anak-anak. Kitalah sebagai orangtua yang bersalah, karena tidak memperdengarkan lagu yang sesuai untuk anak.
Aqi Singgih, suami Audrey yang sama-sama menjadi host di Sofa Kuning, termasuk orangtua yang miris dengan fakta ini. "Anak-anak akan menyanyikan apa yang orangtuanya dengarkan. Orangtuanya dengerin lagu Selena Gomez, ya anak nyanyi lagu Selena Gomez. Orangtua mendengarkan Ariana Grande, anak akan nyanyi lagu Ariana Grande, yang mungkin liriknya bukan untuk anak-anak. Ini yang membuat anak dewasa terlalu cepat," kata Aqi yang juga vokalis band Alexa ini.
3. Lagu anak Indonesia punya melodi yang indah
"Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku"
Familiar dengan potongan lirik lagu Desaku di atas? Indah, bukan, nadanya?
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Banjir Rendam 40 Titik Palembang, Dua Lansia Sakit Tak Berdaya hingga Dievakuasi dari Rumah Terendam
-
Baru 17 Tahun, Siti Khumaerah Sudah Diterima di 5 Kampus Dunia
-
Sidoarjo Mencekam! Tim Jibom Turun Tangan Selidiki Ledakan Maut di Pabrik Baja Waru
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
Terkini
-
5 Shio Diprediksi Paling Beruntung 7 April 2026, Siap-siap Banjir Rezeki
-
7 Eye Cream untuk Mata Panda dan Kerutan, Siap Tampil Segar
-
7 Body Lotion Kaya Vitamin untuk Kulit Kering, Bikin Lembap Seharian Modal Rp17 Ribu
-
8 Parfum Murah Tahan Lama di Bawah Rp300 Ribu untuk Tampil Percaya Diri
-
Daftar Harga Parfum Wanita di Alfamart, Banyak Pilihan Aroma Sesuai Karaktermu
-
5 Bedak Wardah Terbaik untuk Makeup Sehari-hari Mulai Rp50 Ribuan
-
Pertama di Indonesia, Restoran Cepat Saji Gelar Open House Lebaran di 10 Kota
-
Reog Ketemu Barongsai! Yuk, Intip Serunya Pesta Budaya Rakyat di Pecinan Modern
-
Ancaman Banjir dan Longsor, Eiger Adventure Land Angkat 6 Ton Sampah di Puncak
-
6 Rekomendasi Sepatu Lari Hoka selain Clifton untuk Long Run dan Race