Suara.com - Hampir setengah dari perempuan di Asia Tenggara yang bekerja di bidang teknologi percaya bahwa efek Covid-19 telah memperlambat kemajuan karir mereka, meskipun 64 persen perempuan memercayai bahwa kesetaraan gender lebih mungkin dicapai melalui struktur bekerja jarak jauh.
Hal ini disampaikan dalam laporan Women in Tech baru dari perusahaan global cybersecurity Kaspersky, "Where are we now? Understanding the Evolution of women in technology". Laporan ini mengungkapkan bahwa hampir sepertiga perempuan (25 persen) Asia Tenggara yang bekerja di industri teknologi cenderung lebih memilih bekerja di rumah daripada di kantor.
Jumlah serupa juga menunjukkan bahwa mereka merasa bekerja dari rumah paling efisien, dan sebanyak 28 persen mengungkapkan bahwa mereka memiliki otonomi lebih besar ketika tidak bekerja di kantor, sedikit lebih rendah daripada hasil global sebesar 33 persen.
Namun, statistik yang lebih memprihatinkan dari laporan tersebut menyoroti bagaimana potensi bekerja jarak jauh bagi perempuan di bidang teknologi tidak cukup diimbangi dengan perkembangan sosial dalam dinamika bekerja dari rumah ini.
Hampir setengah dari perempuan di Asia Tenggara (46 persen) yang bekerja di bidang teknologi telah berjuang keras untuk menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan keluarga mereka sejak Maret 2020. Tren ini paling menonjol di Amerika Utara, tetapi turut menjadi konsisten di seluruh dunia.
Menggali lebih dalam, alasan ketidakseimbangan ini menjadi lebih jelas ketika responden perempuan ditanyai tentang tugas sehari-hari yang ternyata mengurangi produktivitas atau kemajuan pekerjaan. Sebanyak 66 persen mengatakan sebagian besar dilakukan untuk membersihkan rumah, 68 persen bertanggung jawab atas sekolah di rumah, dan 56 persen harus menyesuaikan jam kerja mereka untuk menjaga keluarga.
Akibatnya, 48 persen perempuan percaya bahwa efek Covid-19 sebenarnya telah memperlambat, bukannya meningkatkan, kemajuan karir mereka secara umum.
"Efek pandemi nyatanya sangat berbeda bagi para perempuan. Beberapa menghargai fleksibilitas yang lebih besar dan meminimalisir perjalanan dari bekerja di rumah, sementara yang lain berbagi bahwa mereka di ambang kelelahan," jelas komentar Dr Patricia Gestoso, Head of Scientific Customer Support di BIOVIA dan anggota inti dari jaringan para perempuan profesional, Ada’s List.
Untuk mengatasi hal ini, ia melanjutkan, jika perusahaan harus memastikan pemangku kepentingan seperti para manajer dapat membangun strategi selaras untuk mendukung karyawan berupa pertanggungjawaban dan perhatian penuh kepada mereka.
Baca Juga: Ini Saran Menteri Nadiem untuk Ayah yang Bingung Pilih Karir atau Keluarga
Tren signifikan lainnya yang muncul akibat pandemi adalah kehadiran karyawan jarak jauh dan hibrida dalam organisasi secara bersamaan. Ini bisa menjadi tantangan bagi para pekerja perempuan yang bekerja dari jarak jauh karena mereka mungkin memeroleh akses lebih sedikit ke manajemen puncak yang bekerja dari kantor.
"Sehingga ini berpotensi mengurangi kesempatan mereka untuk mendapatkan tugas tambahan yang mengarah pada promosi, misalnya. Perusahaan harus menyadari dampak tersebut dan membuat perencanaan untuk meminimalkannya," ungkap Dr Patricia lagi.
Selanjutnya, sebanyak 46 persen perempuan yang berkecimpung di bidang teknologi di Asia Tenggara (dibandingkan dengan 39 persen laki-laki) percaya bahwa lingkungan kerja yang setara adalah poin terbaik untuk kemajuan karir, dan 64 persen berpikir bahwa bekerja jarak jauh adalah cara optimal untuk mencapai kesetaraan tersebut. Karenanya, sektor teknologi saat ini harus dapat memanfaatkan momentum ini dengan baik untuk keberlanjutan di masa depan.
Merici Vinton, Co-Founder dan CEO di Ada's List menambahkan, perusahaan perlu memberikan sinyal, baik melalui budaya dan kebijakan, bahwa mereka akan memberikan orangtua yang bekerja (baik perempuan maupun laki-laki) fleksibilitas yang dibutuhkan selama pandemi (dan seterusnya).
Perusahaan juga perlu memahami bahwa representasi memang penting dan memiliki perempuan dalam kepemimpinan, tim mayoritas perempuan dan pewawancara perempuan menunjukkan bahwa ada ruang bagi perempuan di perusahaan mereka.
"Sehingga, kami akhirnya dapat melihat banyak perusahaan sukses bermitra dengan organisasi perempuan eksternal yang dapat mendorong lebih maju, dan juga memberikan inspirasi eksternal untuk karyawan Anda," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Penjualan Eceran Juli 2026 Diprediksi Tumbuh 0,9 Persen, Makanan dan Minuman Jadi Penopang
-
Daftar Tuduhan Mantan Presiden Suriah Bashar Al Assad Hingga Divonis Hukuman Mati
-
WNI Jadi Korban Tewas! Ini Kronologi Kapal Kargo Diserang Rudal di Selat Bab el-Mandeb
-
Duel 2 Serum Wardah untuk Atasi Jerawat: Acne Care vs Acne Relief, Mana yang Beri Hasil Instan?
-
Bintang Harry Potter Cuan Besar Gabung OnlyFans, Gaji 12 Bulan Setara Main Film Bertahun-tahun
-
Desil Tak Sesuai Fakta, Ini Cara Pembaruan Data DTKS Offline dan Online
-
2 ABK WNI Selamat dari Serangan Drone di Selat Bab Al-Mandeb Alami Luka-luka
-
Iran Tahan Pembukaan Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Tembus 88 Dolar AS
-
Pesan Menyentuh Audy Item untuk Iko Uwais Usai Keguguran di Usia Kandungan 7 Minggu
-
3 Zodiak yang Beruntung dan Punya Nasib Baik 12 Agustus 2026, Keinginan akan Terwujud