Suara.com - Bau vagina yang ringan sebenarnya suatu yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, vagina yang menjijikkan dan berbau amis bisa sangat mematikan dan bisa berarti lebih dari sekadar peringatan kebersihan.
Beberapa masalah kesehatan dapat menyebabkan perubahan pada organ intim dan reproduksi, oleh karena itu setiap gejala yang terlihat harus dipertimbangkan.
Ini termasuk vagina bau amis. Lantas, apa sebenarnya sebabnya, berikut ini rangkumannya seperti dilansir dari Times of India.
Vaginitis bisa menjadi penyebab
Penyebab paling umum dari bau amis pada vagina adalah vaginitis, yaitu peradangan pada vagina yang dapat menyebabkan gejala seperti keputihan, gatal, dan nyeri. Ini terjadi karena perubahan keseimbangan bakteri vagina atau infeksi. Selain itu, menopause dapat menyebabkan penurunan kadar estrogen, yang dapat menyebabkan vaginitis.
Bakteri vaginosis (BV)
Vaginosis bakteri adalah infeksi yang terjadi karena pertumbuhan berlebih dari bakteri yang secara alami ditemukan di vagina. Ketegangan dalam keseimbangan alami vagina ini menyebabkan peradangan, yang menyebabkan gejala seperti nyeri vagina, gatal, atau terbakar disertai keluarnya cairan putih atau abu-abu tipis dan bau seperti ikan yang kuat, terutama setelah berhubungan seks.
Trikomoniasis
Menurut Mayo Clinic, trikomoniasis adalah infeksi menular seksual (IMS) umum yang disebabkan oleh parasit. Wanita yang tertular infeksi ini mengalami berbagai gejala termasuk keputihan yang berbau busuk, gatal pada alat kelamin dan buang air kecil yang menyakitkan, sesuai dengan kesehatan tubuh.
Baca Juga: Wahai Wanita Kata Dokter Boyke Jangan Sampaik Lakukan ke Bagian Organ Intim
Untuk memastikan diagnosis Anda, Anda harus melihat semua gejala infeksi vagina umum lainnya yang mungkin menyertai bau amis. Ini termasuk keputihan putih keabu-abuan, kuning kehijauan, atau putih, yang menyebabkan gatal dan iritasi. Anda juga mungkin mengalami bau amis setelah berhubungan seks atau sensasi terbakar saat buang air kecil. Jika Anda mengalami salah satu atau semua gejala ini, pastikan untuk mengunjungi dokter.
Meskipun siapa pun bisa terkena vaginosis bakteri atau trikomoniasis, hal itu dapat dicegah dengan kebiasaan sehat. Ini termasuk:
- Mempraktikkan kebersihan kesehatan seksual yang baik
- Tidak douching
- Mengenakan celana dalam berbahan katun yang tidak terlalu ketat
- Minum banyak air
- Yang terpenting, praktikkan seks aman dengan menggunakan kondom
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur: 3 Penumpang KRL Tewas dan 38 Korban Luka-luka Dilarikan ke 4 RS
-
KAI Fokus Evakuasi dan Normalisasi Jalur Pasca KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur
-
Tabrakan Hebat di Stasiun Bekasi Timur: KRL vs Argo Bromo Anggrek, Jeritan Penumpang Pecah!
-
Rekam Jejak Jenderal Dudung Abdurachman: Dari Pencopot Baliho Kini Jadi Tangan Kanan Presiden
-
Reshuffle Kabinet: Qodari Geser dari KSP ke Bakom, Dudung Ambil Alih Peran Strategis di Istana
Terkini
-
Belajar Selamatkan Bumi Sejak Sekolah: Pentingnya Pendidikan Iklim untuk Generasi Muda
-
Kulit Perih dan Merah Akibat Sunburn? Ini 4 Rekomendasi Toner Penyejuk yang Wajib Dicoba
-
Update Daftar Nama 81 Korban Kecelakaan KA Argo Bromo Vs KRL, 7 Meninggal Dunia
-
Apa Jenis Bedak yang Cocok untuk Kondangan? Cek 5 Rekomendasi Produk Berikut
-
13 Perjalanan Kereta Jarak Jauh Dibatalkan 28 April 2026, Imbas Kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo
-
4 Sepatu Puma Palermo Termurah di Website Resmi, Paling Worth It 2026
-
Terpopuler: Nama Ayah Kandung Syifa Hadju Terungkap, Pilihan Cushion Tahan Keringat
-
4 Shio Paling Hoki 28 April 2026, Keberuntungannya Tak Terbendung
-
Lebih dari Sekadar Cantik: Mengapa Privasi Menjadi 'Kemewahan' Baru dalam Perawatan Estetika
-
Merayakan Hari Kartini, Perusahaan Wajib Bangun Ekosistem Kerja yang 'Family-Friendly' bagi Wanita