Suara.com - Di zaman serba sosial media, tampaknya apa saja dilakukan untuk membuat konten. Termasuk jika harus menangis 100 jam hingga terancam nyaris buta.
Peristiwa ini dialami Komedian sekaligus Konten Kreator Nigeria, Tembu Daniel yang diduga kehilangan penglihatannya selama 45 menit setelah menangis berjam-jam.
Adapun kegiatan menangis bukan dilakukan tidak sengaja, tapi memang direncanakan demi membuat konten menangis selama 100 jam, untuk memecahkan rekor dunia untuk waktu terlama menangis terus menerus.
Hasilnya Tembu dengan nama akun @237_towncryer di Instagram, mulai melakukan aksi menangis maraton alias cry_athon pada 9 Juli, tapi terpaksa harus berhenti hanya dalam waktu 6 jam karena merasakan efek samping tidak terduga.
Ini karena ia mengalami sakit kepala, mata sembab, dan wajah bengkak. Namun gejala yang paling mengkhawatirkan adalah kebutaan sebagian yang berlangsung selama 45 menit.
"Saya harus mengatur ulang strategi dan mengurangi tangisan saya," ujar Tembu kepada para pengikutnya dikutip suara.com, Odditycentral, Kamis (21/7/2023).
Sayangnya sampai saat ini belum diketahui apakah Tembu berhasil melanjutkan 100 jam menangis maraton. Tapi akhirnya, Tembu memposting dirinya tetap mendapatkan Guinness Records, karena organisasi rekor dunia itu tetap bereaksi terhadap upaya pemecahan rekornya.
Bahkan Guinness Records menyatakan tidak akan memantau rekor semacam tangisan maraton terlama.
"Hanya untuk memadamkan beberapa rumor baru-baru ini, kami tidak akan pernah memantau rekor tangisan rekor terlama," tulis @GWR di Twitter.
Baca Juga: Cindy Maharani, Guru Bahasa Inggris yang Jadi Kreator Konten Gara-Gara Pandemi Covid-19
Sementara itu, meski Tembu gagal memecahkan rekor 100 jam menangis maraton, Tembu Daniel tetap jadi perhatian seperti yang didambakan. Ini karena ia jadi pemberitaan internasional dan viral di media sosial.
Melansir Lybrate, air mata adalah cara tubuh mengekspresikan diri sekaligus melindungi diri. Ada tiga jenis air mata yaitu air mata reflektif dan air mata basal yang bantuk menjaga mata tetap lembab dan bebas iritasi.
Ada juga air mata psikis, yaitu yang disebut dengan tangisan. Air mata ini muncul sebagai respons emosional.
Tapi ada beberapa efek buruk menangis bagi kesehatan, seperti menyebabkan kejang atau sesak napas akut. Bagi orang dengan sakit jantung parah, menangis lama bisa menyebabkan sakit jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Bangladesh Ngebet Gantikan India Lawan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
-
Kesaksian Warga Nagekeo Saat Gempa M 7 Guncang NTT: Kami Lari Bawa Lansia dan Tinggalkan Rumah
-
5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
-
Sampaikan Duka Mendalam, Wapres Gibran Pastikan Penanganan Darurat Gempa NTT Dipercepat
-
Ilusi Kenaikan Gaji: Kenapa Hidup Justru Terasa Makin Pas-pasan?
-
Keberhasilan Transformasi Desa Kemiren bersama Kang Edai dan Astra
-
Kondisi Darurat! Supermarket Diminta Bagikan Makan ke Korban Gempa NTT, Pemerintah Siap Ganti
-
Buka Pintu untuk Mees Hilgers, Eks Pelatih Manchester United: Tunjukkan Pesonamu
-
Kebiasaan Ngemil Keluarga Indonesia Berubah, Kini Buah Hadir dalam Bentuk Camilan Praktis
-
Sinopsis Coyote vs. Acme, Debut dengan Skor Tinggi dan Tuai Pujian Kritikus