Tidak perlu menunggu UU KIA disahkan dengan sederet syarat rumitnya, CEO Opal Communication, Kokok Herdhianto Dirgantoro, ternyata sudah selangkah lebih maju dibanding pemerintah maupun mayoritas perusahaan Indonesia lainnya.
Tak main-main, Kokok memberikan cuti melahirkan 6 bulan untuk semua karyawan perempuannya tanpa syarat njelimet. Itu artinya, Kokok memberikan cuti cuma-cuma lengkap dengan upah setengah tahun penuh dan tanpa potongan.
Hebatnya, kebijakan cuti melahirkan 6 bulan ini tidak menganggu operasional perusahaan. Bahkan secara tidak langsung, keleluasaan ini malah meningkatkan loyalitas karyawan terhadap perusahaannya.
“Sebagai catatan, kebijakan cuti melahirkan tidak hanya bertujuan meningkatkan loyalitas. Tujuan lainnya adalah agar karyawati bisa fokus recovery fisik dan mental pasca melahirkan, dapat lebih rileks sehingga produksi ASI lebih lancar dan membangun komunikasi nonverbal dengan bayi sedini mungkin,” ungkap Kokok.
Kebijakan humanis Kokok ini juga berlanjut dengan fasilitas cuti ayah selama satu bulan dan digaji penuh. Apalagi peran suami cukup vital saat dampingi istri melahirkan dan bantu rawat bayi baru lahir.
Lagi-lagi, kondisi ini sangat kontras dengan UU KIA yang hanya memberikan cuti melahirkan untuk ayah selama dua hari, ditambah tiga hari bila dibutuhkan.
Diakui para pekerja perempuan, di luar cuti melahirkan yang cukup, mereka pun sesungguhnya teramat membutuhkan peran suami di bulan pertama pascapersalinan. Itu sebabnya, tak sedikit suara yang mendukung adanya pemberian cuti ayah, agar peran suami bisa maksimal untuk mendampingi istri dan membantu rawat anak.
Kisah karyawan lelaki di PT Opal Communication, Isro Kurniawan, mungkin bisa jadi inspirasi karena ia termasuk salah satu yang beruntung mendapat cuti melahirkan untuk ayah selama sebulan penuh. Menurut pengakuannya, untuk memastikan cuti ayah yang diberikan tepat guna, selama waktu cuti tersebut, perusahaan akan menelepon sang istri pada waktu-waktu tertentu untuk memastikan dirinya memang benar terlibat membantu dan mengurus buah hati.
"Satu bulan saja saya ikut membantu istri menjaga anak ternyata capek juga. Selama saya satu bulan di rumah ikut membantu istri mandiin (anak), ganti popok, dan sebagainya. Biasanya mungkin dulu itu tugas istri aja. Ternyata setelah 1 bulan juga banyak yang harus dikerjakan," ungkap Isro.
Baca Juga: Bye-bye Fatherless Country! CEO Ini Beri Cuti Ayah 40 Hari Demi Bangun Ikatan Dengan Anak
Respon Penuh Harap Karyawan Perempuan Soal Cuti Melahirkan 6 Bulan
Mendapat fasilitas cuti melahirkan 6 bulan, nyatanya tidak menjamin karyawan perempuan sehat emosional saat merawat bayi baru lahir. Psikolog Klinis, Ikhsan Bella Persada berkata bahwa ibu menyusui bisa mengalami frustasi jika suami tidak mau terlibat mengurus buah hatinya.
"Yang bikin ibu baru stres juga karena kurangnya keterlibatan suami dalam pengasuhan, yang mana di awal pasca melahirkan, ibu butuh banget support dari pasangan baik secara fisik ataupun emosional," jelas Ikhsan.
Hal ini seolah membuktikan bahwa wacana cuti melahirkan 6 bulan tidak bisa berdiri sendiri, sehingga alangkah baiknya jika cuti ayah pun bisa menjadi pertimbangan ke depannya.
Di sisi lain, penambahan cuti melahirkan ini memang jadi kesempatan bagi para ibu untuk dapat memberi ASI eksklusif selama 6 bulan kepada anaknya. Karena diketahui, kecukupan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan berperan penting dalam mencegah stunting.
Namun syarat rumit yang dibuat pemerintah, mengikis harapan tersebut. Ini karena artinya, tidak semua karyawan perempuan berhak atas cuti melahirkan 6 bulan. Inilah sebabnya, Tiara berharap cuti diberikan cuma-cuma.
"Jadi benar-benar 6 bulan, karena di UU dibilang 6 bulan ini dengan syarat, kalau misalkan sakitlah atau ada gangguanlah segala macam. Maunya itu nggak berlaku, jadi benar-benar 6 bulan," kata Tiara menggebu-gebu.
Catatan lain, Tiara juga berharap cuti melahirkan 6 bulan bukan jadi alasan semua pengasuhan dan perawatan anak diserahkan kepada perempuan, melainkan tetap butuh keterlibatan suami sebagai ayah.
"Kita sebagai ibu, sebagai perempuan ngurus anak sendiri, sementara suami harus kerja per 3 hari doang, itu agak berat. Harusnya yang ngurus anak bukan cuma perempuan doang tapi suami juga ikut ngebantuin, minimal nemenin. Jadi cuti buat suami 2 minggulah udah ngebantu banget," pungkas Tiara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Jadwal Pasar Murah di Kampar dan 4 Kecamatan Wilayah Pekanbaru
-
Debut Gemilang Mitchell Baker, Cetak Hattrick untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
-
Agustiar Sabran Resmi Pimpin PB Percasi 2026-2030, Ini Targetnya
-
Usut Etik Kasat Narkoba Tangsel, Polda Metro Tegaskan AKP Pardiman Tak Terkait Kasus Etomidate
-
Bukan Sekadar Angkat Beban, Ini Wajah Baru Tren Gym Modern yang Wajib Kamu Tahu!
-
Komplotan Buzzer Diciduk Polda Metro Jaya, Rp220 Juta Hasil Pembayaran Disita
-
Hasil Babak Pertama: Mitchell Baker Gemilang, Timnas Indonesia Unggul 3-0
-
Kronologi CR-V Terguling di Depan Kejari Palembang, Tabrak Dua Mobil Parkir Usai Hindari Motor
-
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Airlangga Tak Ambil Pusing: Yang Penting Institusi Berjalan
-
Kronologi Komplotan Curanmor Bersenpi di Gandus Terbongkar, Satu Ditangkap dan Dua Masih Buron