Suara.com - Indonesia memasuki musim hujan. Biasanya akan ada banyak ulat jati. Di beberapa daerah hewan ini diburu untuk dikonsumsi.
Teksturnya yang lembut dengan rasa gurih banyak disukai. Konon, ulat jati memiliki banyak kandungan protein, mineral, vitamin, lemak, dan karbohidrat.
Meski begitu, bagi sebagian orang memandang ulat jati tergolong makanan ekstrem. Lantas, bagaimana dengan Islam. Apakah ulat jati halal atau haram?
Berbicara ulat, pada dasarnya ada yang memandang sebagai sesuai menjijikkan. Maka dalam Islam dijelaskan hukum mengenainya.
Para ulama menggolongkan makanan yang menjijikkan haram hukumnya untuk dikonsumsi.
Namun, kategori menjijikkan ini bersifat subjektif, tergantung naluri manusia. Beberapa memandang makanan yang dianggap menjijikkan oleh sebagian orang hal biasa.
Hukum Memakan Ulat Jati Menurut Ulama
Buya Yahya dalam suatu pengajian yang ditayangkan di akun YouTube miliknya pada Oktober 2021 pernah membahas hukum mengenai mengonsumsi ulat. Akan tetapi, ulama asal Cirebon itu lebih menekankan akhlak atau adab, tidak hanya sekadar hukum.
Dia pun mengajak untuk memahami adab atau tata cara makan sesuai yang diajar Nabi Muhammad SAW. "Ini kita adab yuk akhlak cara makan baginda Nabi, jangan memakan makanan membahayakan dan seterusnya. Yuk ada makanan sehat dan seterusnya," ujarnya dikutip dari kanal YouTube Buya Yahya.
Baca Juga: Cara Mengusir Ulat Jati Supaya Tidak Masuk Rumah Dan Menyebabkan Gatal
Buya kemudian menjelaskan mengenai pandangan sejumlah ulama mengenai hukum mengonsumsi ulat.
Dalam zumhur ulama, termasuk Imam Syafii, Hambali, dan Hanafi, ulat merupakan jenis makanan yang tidak boleh dikonsumsi.
Hewan yang hanya boleh dikonsumsi tanpa disembelih ialah ikan dan belalang. Selain itu, maka termasuk bangkai. "Sehingga zumhur ulama tidak boleh kita makan demikian itu." katanya.
Kecuali ulat itu termakan secara tidak sengaja atau berada di dalam makanan yang halal. Misalkan, ada di dalam buah apel. "Tapi tidak boleh anda pilah ulatnya anda taruh di piring kemudian anda sendokin sendiri," katanya lagi.
Namun dalam mazab Maliki menggolongkan ulat dalam kategori bisa dimakan asalkan harus disembelih. Caranya bisa dengan wayumitu atau yang menjadikannya mati, seperti menyelupkan dalam air panas.
Kendati begitu, Buya Yahya kembali mengingatkan mengenai mendahulukan akhlak. Sebab, bila fiqih untuk main-main. "Kemudian selagi di negeri kita mazabnya Imam Syafii maka anda jangan makan ulat," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
Siapkan Uang Rp100 Miliar! Orang Terkaya RI Ini Serok 84 Juta Lembar Saham saat IHSG Anjlok
-
5 HP Memori 512 GB Paling Murah, Terbaik untuk Gamer dan Kreator Konten Budget Terbatas
-
7 HP RAM 8 GB Rp2 Jutaan Terbaik dengan Baterai Jumbo, Cocok buat Multitasking dan Gaming Harian
-
IHSG Anjlok, Purbaya: Jangan Takut, Saya Menteri Keuangan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
Terkini
-
7 Concealer Full Coverage untuk Noda Hitam Wajah Usia 50 Tahun, Hasilnya Natural
-
Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali Setelah Maghrib untuk Apa? Ini Penjelasannya
-
5 Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Berminyak Paling Murah di Indomaret
-
Apa Warna Lipstik untuk Bibir Tipis? Ini 5 Rekomendasi Produknya
-
5 Sunscreen Wardah untuk Cegah Kerutan dan Flek Hitam di Usia 55 Tahun ke Atas
-
7 Rekomendasi Lipstik untuk Bibir Gelap agar Terlihat Muda dan Fresh
-
5 Rekomendasi Sunscreen yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam
-
5 Serum Wardah Paling Laris untuk Hempas Flek Hitam dan Kerutan di Usia 50-an
-
KUIS: Tes Keterampilan Berpolitik ala Tokoh Sejarah, Kamu Titisan Genghis Khan atau Figur Lain?
-
Tak Sekadar Juara, Ini Cerita Inspiratif di Balik Kompetisi Robotik Siswa Indonesia