Suara.com - Kesetaraan gender adalah hak asasi manusia yang mendasar bagi semua warga Negara, tanpa memandang usia, Agama, atau ras.
Hal ini harus diwujudkan di semua aspek, mulai dari pengentasan kemiskinan hingga kesehatan, pendidikan, dan perlindungan terhadap perempuan dan laki-laki.
Jika tidak, Meinita Fitriana Sari, M.Psi., Psikolog dari UPT Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta mengatakan, diskriminasi berbasis gender dapat dengan mudah ditemukan.
"Diskriminasi berbasis gender bisa terjadi pada siapa saja di lingkungan sosial, mulai dari lingkungan kerja hingga lingkungan terkecil yaitu keluarga," jelas dia dalam edukasi kesetaraan gender dengan tema “Empowering Women, Towards Gender Equality” kepada sekitar 100 ibu bersama Unicharm di Jakarta pada Rabu (4/12/2024).
Contoh diskriminasi yang umum terjadi kata dia adalah, misalnya masih adanya budaya patriarki dimana laki-laki mempunyai kekuasaan lebih dibanding perempuan.
Kesenjangan pendidikan dan perlindungan hukum antara laki-laki dan perempuan, hingga tidak seimbangnya pembagian tugas dan kekerasan dalam rumah tangga.
Namun, mewujudkan masyarakat tanpa diskriminasi berbasis gender memerlukan waktu dan upaya yang besar. Untuk menghapus hal ini di dalam masyarakat, kata Meinita bisa dimulai dari keluarga.
Berikut cara membangun keluarga berbasis kesetaraan gender menurut Meinita.
1. Komunikasi yang terjalin antara suami dan istri
Baca Juga: Silsilah Keluarga Gus Miftah, Putra Mbah Moen Pernah Sebut Bukan Anak Kiai
Untuk membangun keluarga berbasis kesetaraan gender, suami dan istri perlu berkomunikasi dengan baik tentang kerjasama untuk mengatasi ketidakseimbangan.
"Misalnya dengan pembagian kerja rumah tangga. Harapannya bisa dikomunikasikan sehingga itu ga cuma tanggung jawab suami atau istri saja," pungkas dia.
2. Pemenuhan yang sama dalam pendidikan
Terkait pemenuhan pendidikan untuk anak, sebaiknya, suami dan istri memberikan hak yang sama untuk anak, terlepas dari gendernya.
"Pendidikan yang formal mungkin sudah sama, tapi pendidikan tidak formal seringkali masih dibedakan. Persilahkam untuk anak perempuan ikut eksul bola, atau laki-laki ikut kursus masak," ucapnya lagi.
3. Pembagian tugas domestik dalam keluarga yang seimbang
Berita Terkait
-
Psikologi Remaja, Mengatasi Krisis Identitas dan Tekanan Sosial
-
Ulasan Family by Choice: Drama Korea Trending Tentang Keluarga Tak Sedarah
-
Rekam Jejak Keluarga Ragnar Oratmangoen di Indonesia yang Bukan Orang Sembarangan: Saya Ingin Keluar dari Belanda!
-
Silsilah Keluarga Gus Miftah, Putra Mbah Moen Pernah Sebut Bukan Anak Kiai
-
Dulu Cuma Tukang Ojek, Terjawab Rahasia Haji Isam Bisa Kaya Raya
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
8 Sunscreen dengan Klaim Non-Comedogenic, Solusi Kulit Rentan Komedo dan Jerawat
-
5 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 7 Juli 2026, Keberuntungan Berpihak pada Mereka
-
Masa Sulit Berakhir, 5 Shio Ini Berpeluang Hoki 7 Juli 2026
-
3 Sabun Muka Rekomendasi Dokter Estetika yang Ampuh Jaga Skin Barrier
-
Usia 40 Tahun Pakai Sunscreen SPF Berapa? Ini 8 Rekomendasi Terbaiknya
-
4 Shio Paling Hoki yang Diprediksi Cuan dan Sukses Besar pada 7 Juli 2026
-
Empat Siswa dari Wolo Raih Beasiswa ke Sekolah Unggulan, Potret Pentingnya Pemerataan Pendidikan
-
Mencukur atau Mencabut Bulu Ketiak, Mana yang Lebih Aman?
-
Seni Komunikasi di Dunia Kerja: Mengubah Obrolan Biasa Jadi Pelayanan yang Bikin Pelanggan Nyaman
-
Bukan Sekadar Tren, Ini Bukti Kuliner Nusantara Kini Jadi 'Raja' di Negeri Sendiri