Suara.com - Perhatian tertuju pada pemilik Waroeng Spesial Sambal (Waroeng SS) setelah banyaknya keluhan mengenai lamanya waktu penyajian makanan di restoran tersebut. Seorang pelanggan di media sosial mengungkapkan kekecewaannya karena harus menunggu satu jam untuk makanannya.
"Rekor banget makan di Waroeng SS Greenville, kita dateng around jam 12.30, makanannya baru keluar semua 13.30 . SEJAAAAM CHOY," tulis akun X @/BanyuSadewa membagikan pengalamannya.
Keluhan tersebut didukung oleh komentar lain yang menyebutkan bahwa lamanya penyajian sudah menjadi hal yang umum di Waroeng SS sejak lama karena banyaknya pelanggan dan makanan yang baru dibuat sesuai pesanan.
"Dari 2012 gue makan di SS memang lama 1-1,5jam dan itu normal saking ramenya & semua freshly made jadi kalo emang kelaperan banget makan di SS BUKAN pilihan yang tepat (ini udah well known rules btw). Tapi banyak yang ngeyel terus ngamuk2 pas lama mateng & dijadiin konten," sambung akun @/Roastingyo_u.
Lantas siapa pemilik Waroeng SS? Simak penjelasan berikut ini.
Pemilik Waroeng SS
Waroeng Spesial Sambal 'SS', sebuah rumah makan yang terkenal dengan beragam sambal segarnya serta masakan khas Indonesia didirikan oleh Yoyok Hery Wahyono di Yogyakarta pada tahun 2002. Kecintaan Yoyok pada dunia kuliner, khususnya dalam meracik sambal, menjadi motivasi utamanya dalam mengembangkan bisnis kuliner pedas ini.
Usaha ini berawal dari solusi tidak sengaja terhadap masalah ekonomi yang dihadapinya. Yoyok yang akrab disapa Mister Huuh-Haah, memulai Waroeng SS bersama rekannya sebagai warung tenda di pinggir jalan Kaliurang yang kini jadi kawasan kuliner mahasiswa karena dekat dengan beberapa universitas.
Waroeng SS dengan cepat menarik perhatian pelanggan melalui 15 jenis sambal, lauk, dan sayuran yang disajikan segar sesuai pesanan, dengan tingkat kepedasan yang dapat disesuaikan. Cabang pertama Waroeng SS, yang diberi nama Waroeng SS Perjuangan, didirikan pada 20 Agustus 2002, sebagai simbol perjuangan awal Waroeng SS untuk bertahan.
Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner pedas, Waroeng SS membuka cabang di beberapa lokasi di Yogyakarta. Popularitasnya kemudian menyebar ke kota Solo, yang mendorong Yoyok untuk membuka cabang pertamanya di Manahan pada tahun 2006.
Baca Juga: 5 Fakta DD Kin Tiew Resto Milik Mertua Jennifer Coppen, Apakah Halal?
Setelah sukses di Yogyakarta, Waroeng SS kemudian melebarkan sayap ke kota-kota lain, termasuk Semarang, Tangerang, Purwokerto, dan beberapa daerah di Jawa Timur. Kekinian, Waroeng SS siap mengembangkan usahanya ke negara tetangga karena bercita-cita jadi merek kuliner pedas khas Indonesia yang dikenal seluruh dunia.
Yoyok menegaskan bahwa seluruh cabang Waroeng SS berada di bawah pengelolaan manajemen pusat, tidak menggunakan sistem waralaba. Dalam mengembangkan usahanya, Yoyok tidak menetapkan target angka, melainkan fokus pada kualitas proses.
Menurut Yoyok, Waroeng SS adalah bisnis yang padat karya dan padat masalah. Timnya mengelola seluruh rantai bisnis, mulai dari menyiapkan makanan dan sambal hingga melayani pelanggan secara langsung. Rantai kerja yang panjang ini tentu berpotensi menimbulkan berbagai masalah.
"Alhamdulillah, konsep 'bendera sambal' ini diterima dengan baik dan terus berkembang," ujar Yoyok.
"Dari 15 jenis sambal, kini kami memiliki 32 jenis sambal berkat inovasi yang terus kami lakukan. Menurut saya, Waroeng SS telah menciptakan industri baru. Sambal kini bukan hanya pelengkap, tetapi juga menjadi daya tarik utama, karena banyak orang merasa tidak bisa makan tanpa sambal," sambungnya.
Ramai Dikritik Lama Penyajian Makanannya
Waroeng SS belakangan ini menghadapi kritik di media sosial terkait lamanya waktu penyajian makanan. Seorang pelanggan di X mengeluhkan pengalamannya menunggu selama satu jam untuk makanannya di cabang Greenville.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- Harga Beda Tipis: Mending Yamaha Gear Ultima, FreeGo atau X-Ride untuk Rumah Tangga?
Pilihan
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
Terkini
-
Apa Beda Undertone dan Skintone? Kunci agar Tak Salah Pilih Makeup hingga Pakaian
-
5 Sifat Orang yang Lahir di Bulan Mei, Tenang tapi Penuh Keteguhan
-
Achmad Zaky Dorong Pertukaran Pelajar IndonesiaMalaysia: Pendidikan adalah Investasi Terbesar
-
7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
-
Fungsional dan Eco-Friendly, VIVAIA Hadirkan Koleksi Kolaborasi dengan Seniman Prancis
-
5 Rekomendasi Sepatu Running Lokal Wanita, Ringan dan Terjangkau untuk Lari
-
5 Sunscreen di Indomaret Under Rp30 Ribu untuk Wajah Cerah dan Glowing
-
Resep Steak Andalan yang Bisa Beri Kamu Kesempatan Belajar Masak di Le Cordon Bleu
-
5 Rekomendasi Sampo Anti Ketombe di Alfamart dengan Harga Terjangkau
-
5 Sepatu Sekolah Anak Diskon di Sports Station, Brand Terkenal Mulai Rp170 Ribuan