Suara.com - Di sudut selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Desa Bajiminasa, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, sebuah inisiasi berdampak sedang tumbuh. Bukan di ruang rapat atau kantor pemerintah, tapi dari pekarangan rumah dan tangan-tangan perempuan desa yang mulai menggenggam kendali atas lingkungan dan kehidupannya.
Namanya Serikat Perempuan Bajiminasa (SPB). Komunitas ini lahir dari inisiatif para perempuan di Bajiminasa untuk belajar, melakukan kegiatan pertanian berkelanjutan dengan metode alami atau organik. Tak hanya pemberdayaan perempuan, komunitas ini juga memiliki misi besar untuk melindungi serta memelihara ekosistem di Daerah Aliran Sungai Balantieng.
Nurul Daqmar, 32 tahun, mengatakan komunitas SPB lahir tidak sengaja. Lahir pada 7 Mei 2024, embrio SPB muncul berawal dari proses pelatihan sederhana tentang pemanfaatan pekarangan rumah yang digagas oleh Gerakan Tani (Gertani) Bajimanasa. Jadi, SPB bukan dari rahim pemerintah maupun organisasi luar.
“Awalnya ada yang namanya Gertani. Di situ kami dipanggil untuk membuat pelatihan pemanfaatan pekarangan. Hingga akhirnya Gertani melontarkan ide untuk membuat perkumpulan perempuan yang namanya Serikat Perempuan Bajiminasa. Di situ awal mulanya,” ujar Daqmar yang merupakan Ketua SPB, beberapa waktu silam.
Komunitas tersebut tak pelak memantik minat para perempuan dari berbagai dusun. Menurut Daqmar, ada 5 dusun di Desa Bajiminasa. Kelima dusun tersebut mengirimkan perwakilan dari perempuan untuk bergabung dalam inisiasi SPB. Hingga kiwari, SPB memiliki lebih dari 100 anggota yang tersebar di lima dusun tersebut.
“Ada beragam lapis usia yang tergabung di SPB. Mulai dari anak-anak muda di Bajiminasa, ada juga orang tua yang berusia di atas 50 tahun. Di awal terbentuk, kami memiliki 25 anggota, sekarang ada 100 anggotanya. Ada 5 dusun di Bajiminasa. Masing-masing dusun mengirimkan perwakilan untuk bergabung di SPB,” kata dia.
Junaedi Hambali, Direktur Balang Institute, mengatakan SPB dibentuk sebagai bagian dari program kemitraan bersama Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dalam menjaga serta memelihara kelestarian ekosistem DAS Balantieng yang berada di wilayah Desa Bajiminasa.
“Serikat Perempuan Bajiminasa (SPB) berada di wilayah tengah Daerah Aliran Sungai Balantieng. SPB dibentuk melalui fasilitasi program kemitraan dengan GEF SGP Indonesia. SPB dibentuk sebagai wadah dan tempat belajar perempuan di Desa Bajiminasa,” ujar Junaedi.
Inisiasi komunitas ini berawal dari kegiatan bernama Festival Harmoni Balantieng. Acara itu digelar pada Oktober 2024 silam. Tema acara tersebut sejalan dengan misi pemberdayaan perempuan untuk menjaga ketahanan pangan, yakni “Perempuan Berdaya, Pangan Terjaga”. Para perempuan di Bajiminasa dikumpulkan untuk merawat ekosistem di DAS Balantieng.
Baca Juga: Elegi Kopi Organik di Hulu DAS Balantieng, Harmoni Lingkungan dan Ekonomi
“Tujuan utamanya itu yakni melibatkan perempuan untuk turut melindungi ekosistem di DAS Balantieng. Narasumber yang didorong adalah perempuan di sana yaitu perempuan lokal untuk bercerita gimana pengalamannya kemudian gimana melihat situasi desanya,” ujar Junaedi.
Aktivitas Serikat Perempuan Bajiminasa
Kegiatan utama SPB tidak hanya kumpul-kumpul belaka. Mereka belajar memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur-sayuran. Meski belum memiliki program mandiri, mereka berkolaborasi dengan Gertani Bajimanasa. Kegiatan mereka tidak menentu, terkadang sebulan sekali, terkadang sepekan. Yang jelas, kegiatan itu berdampak kepada mereka.
“Kalau dengan Gertani, kami memang melakukan pelatihan pemanfaatan pekarangan untuk bertanam sayuran. Kegiatan itu paling menonjol dan bermanfaat untuk kami. Terkait rutinitas, bisa sebulan sekali atau seminggu sekali. Tapi terkadang, mereka sibuk bekerja di sawah,” terang Daqmar.
Nah, imbuh Daqmar, kegiatan pertanian SPB pun bukan sekadar soal produksi pangan dan penanaman sayuran di pekarangan. Fokus mereka pun terkait keberlanjutan. Mereka mulai diajarkan cara membuat pupuk alami. Bahan-bahannya dari limbah rumah tangga, yang keseharian mereka temui di dapur dan rumah.
“Kemarin kami juga sempat diajarin menggunakan pupuk alami, diajarin bikinnya mulai dari bahan, cara bikin, sampai dari pemakaian. Itu ada yang (terbuat) dari ikan, gula merah, batang pisang, hingga sampah dapur,” kata Daqmar.
Ya, pupuk alami ini memang tidak hanya menyehatkan tanah dan membantu tanaman agar tumbuh subur. Pupuk alami atau organik juga menjadi solusi pengelolaan limbah rumah tangga. Memang, pembentukan bank sampah pun mulai digaungkan pemerintah setempat. Tapi, itu masih sekadar wacana.
Berita Terkait
-
Elegi Kopi Organik di Hulu DAS Balantieng, Harmoni Lingkungan dan Ekonomi
-
Lawan Modernisasi, Cerita Remaja Bulukumba Pelestari Tradisi Penyadap Nira
-
Kunjungan Presiden RI ke Bulukumba: Pantai Pasir Putih Tanjung Bira Sarat Nilai Ekonomi
-
7 Destinasi Bulukumba Masuk Unggulan Kemenparekraf, Pemkab Siapkan 25 Andalan Lagi
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Survei Ipsos 2026: Koneksi ke Platform Belanja Online Kini Jadi Alasan Orang Pilih Bank Digital
-
Biar Muka Glowing Alami Pakai Apa? Ini Skincare Murah Viva yang Bisa Dicoba
-
3 Zodiak yang Kehidupannya akan Lebih Baik Setelah 13 Mei 2026, Waktunya Jemput Kebahagiaan!
-
Siap-Siap Kaya, 7 Shio Ini Mendadak Banjir Rejeki Tanpa Diduga pada Bulan Mei 2026
-
6 Shio Paling Beruntung dan Berlimpah Cuan Pada 14 Mei 2026
-
5 Skincare Laneige untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Bisa Lawan Keriput hingga Garis Halus
-
Di Tengah Krisis Ikim, Mahasiswa Engineering Didorong Hadirkan Solusi Lingkungan Berkelanjutan
-
Pendidikan Aksa Uyun, Anak Soimah yang Sudah Jadi Direktur di Usia Muda
-
5 Fakta Celyna Grace Finalis Indonesian Idol 2026, Dijuluki The Next Rossa
-
6 Compact Powder Murah tapi Bagus untuk Usia 40an, Wajah Nampak Halus Bebas Kilap