Jumlah panennya pun terbilang cukup menggiurkan selama dua tahun Hamzah bertani kopi. Dari panen terakhir bersama orangtua, misalnya, Hamzah berhasil menghasilkan sekitar satu ton kopi. Adapun jenis yang paling awam ditanam di Desa Kahayya yakni kopi jenis Arabika.
“Kurang lebih (panen) satu ton. Saya kan tujuh bersaudara. Setiap orang panennya berbeda. Yang satu ton itu saya dan orangtua. Kopi yang ditanam di sini jenis Arabica. Di sini fokusnya ke Arabica. Untuk varietasnya, para petani tidak tahu menahu. Mereka tahunya Arabica,” tutur Hamzah.
Hidup Tenang, Mandiri, dan Lebih Bermakna
Setelah lebih dari satu dekade merantau, Hamzah mengaku sempat merasa asing saat pertama kali kembali. Namun, perasaan itu perlahan sirna tergantikan oleh kenyamanan hidup di kampung halaman yang damai dan tenang. Hamzah mengaku, “rasanya masih agak asing. Tapi hidup di sini lebih enak, lebih nyaman dan tenang di kampung.”
Bertani kopi memang memberikan Hamzah kebebasan. Nggak cuma itu, dia juga mendapatkan otonomi yang tidak dia rasakan saat bekerja di kota besar. Bahkan, selama menetap di Desa Kahayya, Hamzah mengadopsi gaya slow living, yakni konsep hidup yang lebih bermakna dan menikmati segala sesuatunya. Dalam hal ini, Hamzah menikmati ritme hidup sebagai petani.
“Seru. Gak ada tekanan juga. Kan kalau kerja di luar itu, ada atasan. Kemungkinan besar ada tekanan setiap hari. Nah, kalau bertani itu bebas. Yang penting disiplin, mau pagi keluar atau siang. Kita yang mengatur sendiri,” cerita Hamzah mensyukuri hidupnya kini.
Hamzah pun tak puas hanya bertani kopi. Kini, dia dan keluarganya ternyata tengah mengembangkan lahan kebun kopi menjadi destinasi wisata berbasis alam. Bahkan, mereka menyiapkan segala fasilitas umum untuk pengunjung hingga strategi untuk membuka kemungkinan wisata edukatif.
“Kami juga mau mengadakan kegiatan wisata sambil petik kopi. Jadi pengembangannya nggak sekadar camping. Tapi ada edukasi soal kopi,” kata Hamzah.
Anak Muda Jangan Gengsi Jadi Petani
Nah, sebagai anak muda yang memilih kembali bertani di desa, Hamzah menyadari minimnya keterlibatan generasi muda. Apalagi kekinian, pertanian bukanlah salah satu bidang yang paling diminati anak-anak muda. Karena itu, dia berharap kisahnya bisa menginspirasi pemuda lain agar tidak ragu memilih jalur yang serupa.
“Saat ini tidak banyak petani kopi yang muda. Apalagi, sekarang juga orientasi anak muda itu pengen kerja di kota. Ini yang sekarang saya rasakan selama tinggal di desa. Dari saya untuk anak muda, jangan gengsi untuk bertani, terutama bertani kopi. Apalagi kopi seperti yang dikenali di sini, cukup menjanjikan untuk para pemuda,” ungkap Hamzah.
Baca Juga: Novel Kedai Bunga Kopi: Kisah Inspiratif Perempuan dan Aroma Perjuangan
Dengan latar belakang akademis di bidang kehutanan, serta kecintaan terhadap tanah kelahirannya, Hamzah menunjukkan bahwa bertani bisa menjadi profesi yang menjanjikan—bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup.
“Kalau dari segi perbedaan di kota atau di kampung sendiri, banyak sekali. Mulai dari kedekatan kita sama keluarga, apalagi mayoritas (keluarga) ada di kampung. Nah, kalau dari segi pendapatan, dengan nominal atau jumlah yang sama tentunya lebih senang (tinggal) di kampung,” terang Hamzah.
Apalagi, imbuh dia, melihat perkembangan kopi sekarang dibanderol dengan harga yang cukup menjanjikan ke depannya. Hal itulah salah satunya yang membuat dirinya enggan untuk kembali mencicipi hingar bingar kota.
“Saat ini saya belum kepikiran untuk kembali ke kota, masih kepengen di kampung,” kata Hamzah.
Dengan setiap biji kopi yang disemai, Hamzah menanam harapan: bahwa kembali ke desa bukan kemunduran, melainkan langkah maju untuk hidup. Dia kini lebih dekat dengan alam, keluarga, dan masa depan yang tentunya lestari cum berkelanjutan.
Berita Terkait
-
Novel Kedai Bunga Kopi: Kisah Inspiratif Perempuan dan Aroma Perjuangan
-
Rekomendasi 5 Resto Mirip Kopi Klotok, Suasana Masih Sepi Tanpa Antri
-
Jadi Produsen Kopi Terbesar ke-4 Dunia, Pemerintah Janji Sejahterakan Petani
-
Cerita Serikat Perempuan di Bajiminasa, Menanam Asa untuk Sungai Balantieng
-
Kopi Bikin Awet Muda? Studi Harvard Buktikan Manfaat Tak Terduga
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna
-
Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas
-
Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI
-
KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya