Kandita pun pergi mengembara sendirian, penuh kesedihan dan keputusasaan. Ia berkelana hingga mencapai pantai selatan Jawa, tepatnya di daerah Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.
Di sana, ia memutuskan untuk melompat ke laut yang ganas, berharap air laut bisa menyembuhkan penyakitnya atau mengakhiri penderitaannya.
Namun, keajaiban terjadi. Saat tubuh Kandita menyentuh air laut, penyakitnya hilang seketika. Tubuhnya berubah menjadi sempurna kembali, bahkan lebih cantik dari sebelumnya.
Alih-alih mati, ia justru menjadi makhluk abadi yang menguasai lautan selatan. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Nyi Roro Kidul, ratu yang berpakaian hijau kebiruan, warna yang melambangkan laut dan misteri.
Legenda Nyi Roro Kidul menjelaskan mengapa pantai selatan Jawa, seperti Pantai Parangtritis di Yogyakarta atau Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, sering dikaitkan dengan keberadaannya. Masyarakat percaya bahwa ombak besar dan arus kuat di sana adalah manifestasi kekuatan Nyi Roro Kidul.
Asal-usul Nyi Roro Kidul tidak hanya terbatas pada satu versi. Di Jawa Barat, cerita ini sering dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Galuh, yang juga bagian dari wilayah Sunda kuno sekitar abad ke-13.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa Nyi Roro Kidul adalah keturunan langsung dari raja-raja Sunda, dan legenda ini muncul sebagai bentuk penghormatan terhadap alam serta peringatan akan bahaya laut selatan.
Ada pula variasi di mana Nyi Roro Kidul dihubungkan dengan perjanjian spiritual antara raja-raja Mataram di Jawa Tengah dengan penguasa laut, tetapi akar utamanya tetap di Jawa Barat.
Misalnya, dalam cerita lain, Nyi Roro Kidul disebut sebagai putri dari Prabu Siliwangi yang keenam, yang melarikan diri karena konflik istana.
Baca Juga: Viral Detik-Detik Damkar Salatiga Evakuasi Balon Pedagang Terbang dan Tersangkut di Pohon!
Pengaruh legenda Nyi Roro Kidul di masyarakat Jawa Barat sangat mendalam. Di daerah seperti Cianjur Selatan atau Sukabumi, mitos ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masyarakat setempat sering melakukan ritual penghormatan, seperti larangan memakai baju hijau di pantai karena dianggap sebagai warna milik ratu, atau upacara labuhan di mana barang-barang ditawarkan ke laut untuk memohon keselamatan.
Legenda ini juga mengajarkan nilai moral, seperti pentingnya keadilan, kesetiaan, dan penghormatan terhadap alam. Di era modern, cerita ini diabadikan dalam seni, seperti lukisan, tarian, dan film, yang memperkuat identitas budaya Sunda.
Bahkan, hotel-hotel di pantai selatan sering menyediakan kamar khusus untuk "tamu istimewa" yang diyakini sebagai Nyi Roro Kidul.
Secara historis, mitos Nyi Roro Kidul mungkin muncul sebagai penjelasan atas fenomena alam, seperti gelombang tinggi dan badai di Laut Selatan, yang sering menelan korban.
Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa legenda ini berkembang pada masa kekalahan Sultan Agung dari Mataram dalam ekspedisinya ke Batavia, di mana kekuatan alam dianggap sebagai sekutu ratu laut.
Namun, terlepas dari aspek mistisnya, cerita Nyi Roro Kidul mencerminkan kekayaan folklor Indonesia yang menyatukan sejarah, mitos, dan pelajaran hidup.
Pada intinya, asal-usul Nyi Roro Kidul di Jawa Barat adalah kisah tragis tentang seorang putri yang berubah menjadi dewi laut, simbol kekuatan perempuan dan harmoni dengan alam. Legenda ini terus hidup, mengingatkan kita pada warisan budaya yang harus dilestarikan.
Berita Terkait
-
Viral Detik-Detik Damkar Salatiga Evakuasi Balon Pedagang Terbang dan Tersangkut di Pohon!
-
Camat Sungai Bahar Klarifikasi Insiden Drum Band: Bukan Rayakan Ultah Istri, Tapi...
-
Benarkah Upacara HUT RI ke-80 di Pati Diganggu Pendemo? Viral di Medsos dan Polisi Bongkar Faktanya!
-
Viral Paskibraka Papua Barat Daya Nyaris Tumbang, Dibantu Rekannya hingga Tugas Selesai
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI ke-81, Tradisi Panjat Pinang Kembali Meriahkan Kalimalang
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?