Suara.com - Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pembangkit listrik tenaga surya dan angin di seluruh dunia menghasilkan listrik lebih banyak dibandingkan pembangkit berbahan bakar batu bara.
Temuan ini menandai tonggak sejarah dalam perjalanan global menuju energi bersih, menurut laporan lembaga riset iklim Ember Energy dikutip dari The Guardian pada Selasa, 7 Oktober 2025.
Dalam enam bulan pertama tahun 2025, energi terbarukan tumbuh lebih cepat dari peningkatan kebutuhan listrik dunia, menyebabkan konsumsi batu bara dan gas sedikit menurun.
Ember Energy mencatat, produksi listrik tenaga surya meningkat hampir sepertiga dibandingkan tahun lalu, memenuhi sekitar 83 persen pertambahan permintaan listrik global, sementara energi angin naik lebih dari 7 persen.
“Ini adalah momen penting dalam sejarah energi dunia,” kata Magorzata Wiatros-Motyka, analis senior listrik di Ember, dikutip dari The Guardian. “Pertumbuhan tenaga surya dan angin kini cukup cepat untuk mengikuti peningkatan kebutuhan listrik global. Kita sedang memasuki era baru di mana energi bersih mampu mengimbangi permintaan,” tambahnya.
Menurut laporan The Nation (7/10/2025), dua negara dengan populasi terbesar di dunia — Cina dan India — menjadi pendorong utama kenaikan kapasitas energi terbarukan. Kedua negara ini memperluas pembangkit tenaga surya dan angin dalam skala besar, berbeda dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa yang masih bergantung cukup kuat pada bahan bakar fosil.
Cina menambahkan kapasitas energi terbarukan lebih banyak dibandingkan gabungan seluruh negara lain di dunia, sehingga penggunaannya atas bahan bakar fosil turun 2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Sementara India berhasil meningkatkan produksi energi terbarukan hingga tiga kali lipat dari pertumbuhan permintaan listrik domestiknya, menyebabkan konsumsi batu bara dan gas turun masing-masing 3,1 persen dan 34 persen.
Namun, tidak semua wilayah menunjukkan tren serupa. Di Amerika Serikat, permintaan listrik justru tumbuh lebih cepat daripada kapasitas energi bersih yang tersedia, sehingga pembangkit batu bara meningkat 17 persen pada paruh pertama tahun ini.
Baca Juga: PLTP Ulubelu Jadi Studi Kasus Organisasi Internasional Sebagai Energi Listrik Ramah Lingkungan
Sementara di Uni Eropa, meski permintaan listrik relatif stabil, cuaca ekstrem yang mengurangi tenaga angin dan air membuat gas dan batubara masih harus diandalkan — naik masing-masing 14 persen dan 1,1 persen.
Lembaga Energi Internasional (IEA) dalam laporan terpisah memperkirakan bahwa kapasitas energi terbarukan global bisa lebih dari dua kali lipat pada akhir dekade ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen peningkatan kapasitas akan datang dari tenaga surya.
“Pertumbuhan energi bersih dunia dalam beberapa tahun mendatang akan didominasi oleh tenaga surya,” ujar Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA dilansir dari The Guardian. “Namun, sumber lain seperti angin, tenaga air, bioenergi, dan panas bumi juga akan terus berperan penting.”
Cina diprediksi akan tetap menjadi pasar terbesar bagi energi terbarukan hingga akhir dekade, sementara India menempati posisi kedua. Selain itu, beberapa negara berkembang seperti Arab Saudi, Pakistan, dan sejumlah negara Asia Tenggara juga bersiap memperluas penggunaan energi surya mereka secara signifikan.
capaian ini bukan sekadar kemenangan statistik, melainkan bukti nyata bahwa peralihan energi dunia mulai bergerak ke arah yang benar. Lonjakan pembangkit listrik tenaga surya dan angin menjadi sinyal bahwa transisi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan kini tak lagi sekadar wacana.
Meski begitu, tantangan masih besar. Di banyak negara maju, infrastruktur lama yang masih bergantung pada bahan bakar fosil serta fluktuasi cuaca ekstrem kerap menjadi hambatan dalam mempertahankan pasokan energi hijau secara stabil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Terkini
-
Kenapa Ida Hamidah Dicopot Dedi Mulyadi? Ini Kronologi Kasus Samsat Soekarno-Hatta
-
Serum Vitamin C Boleh Dipakai Setiap Hari? Ini Panduan dan 5 Rekomendasi yang Bagus
-
Syarat dan Cara Daftar SPPI Koperasi Desa Merah Putih 2026, Gajinya Tembus Rp8 Juta!
-
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
-
Day Cream Dulu atau Sunscreen Dulu? Ini Panduan untuk Wajah Glowing anti Flek Hitam
-
5 Sunscreen Lokal dengan Kualitas Premium untuk Cegah Penuaan Dini
-
Beda dari Selat Hormuz Iran, Apa Peran Selat Malaka bagi Indonesia?
-
Rambut Cepat Lepek padahal Baru Keramas? Ini 7 Cara Mengatasinya
-
Body Lotion Apa yang Bisa Atasi Belang? Ini 5 Pilihan Murah dan Bagus, Mulai Rp11 Ribuan
-
5 Rekomendasi Kompor Tanam Paling Awet dan Hemat Gas LPG