Lifestyle / Komunitas
Kamis, 08 Januari 2026 | 15:45 WIB
Nyadran di Petilasan Girilangan, Gumelem, Susukan, Banjarnegara. [Suara.com/Citra Ningsih] - Nyadran 2026 Tanggal Berapa?
Baca 10 detik
  • Nyadran dilaksanakan bulan Sya'ban (Ruwah), untuk tahun 2026 ini kira-kira digelar tanggal berapa?
  • Tradisi yang dikenal dengan ziarah dan bersih-bersih makam ini biasanya dilakukan menjelang bulan puasa Ramadhan.
  • Kegiatan inti Nyadran meliputi gotong royong membersihkan makam (besik), berdoa bersama (kenduri), dan makan bersama sesama warga.

Suara.com - Menjelang bulan suci Ramadan 2026, ada satu tradisi yang selalu dinanti dan membawa kehangatan di berbagai daerah di Jawa. Tradisi itu adalah Nyadran.

Bukan sekadar ziarah kubur biasa, Nyadran adalah perayaan gotong royong, syukur, dan penghormatan kepada leluhur yang penuh makna.

Bagi kamu yang sudah mulai merencanakan agenda tahunan atau ingin pulang kampung, pertanyaan "Nyadran 2026 tanggal berapa?" pasti sudah muncul di benak.

Yuk, kita cari tahu jawabannya dan selami lebih dalam mengapa tradisi ini tetap relevan untuk generasi milenial dan Gen Z.

Perkiraan Tanggal Nyadran 2026

Nyadran adalah tradisi yang dilaksanakan pada bulan Sya'ban dalam kalender Hijriah, atau yang sering disebut bulan Ruwah dalam kalender Jawa.

Pelaksanaannya tidak memiliki satu tanggal pasti yang seragam di seluruh daerah, karena setiap komunitas atau desa memiliki acuannya sendiri.

Namun, kita bisa memperkirakannya berdasarkan kapan awal bulan Ramadan 2026 tiba.

  • Awal Puasa 1 Ramadan 1447 H/2026: Diperkirakan jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026 atau Kamis, 19 Februari 2026.
  • Bulan Ruwah/Sya'ban: Berlangsung sebelum bulan Ramadan, yaitu sekitar pertengahan Januari 2026 (sekitar 19/20 Januari 2026) hingga pertengahan Februari 2026 (16/17 Februari 2026).
  • Waktu Pelaksanaan Nyadran: Umumnya, Nyadran digelar pada pertengahan bulan Ruwah, sering kali pada tanggal 10, 15, atau 20 Ruwah.

Dengan perhitungan tersebut, tradisi Nyadran 2026 diperkirakan akan berlangsung antara tanggal 29 Januari 2026 hingga 8 Februari 2026.

Tanggal ini pun masih bergantung pada keputusan penetapan 1 Ramadhan 1447 H/2026 yang belum resmi diumumkan untuk seluruh Indonesia.

Baca Juga: Serba-Serbi Mudik Gratis Lebaran 2026, Jateng Siapkan 349 Unit Bus!

Sementara ini, hanya Muhammadiyah yang sudah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada tanggal 18 Februari 2026 dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Untuk pemerintah dan NU belum memberikan keputusan.

Penting untuk diingat, tanggal Nyadran 2026 ini adalah perkiraan umum. Untuk tanggal pastinya, kamu perlu mengonfirmasikannya dengan kalender desa atau sesepuh di daerahmu masing-masing, karena biasanya tanggal ditentukan berdasarkan musyawarah adat setempat.

Nyadran Lebih dari Sekadar Ziarah

Mungkin kamu mengira Nyadran hanyalah kegiatan membersihkan makam keluarga lalu berdoa. Padahal, esensinya jauh lebih dalam dari itu.

Kata "Nyadran" berasal dari bahasa Sanskerta "sraddha" yang berarti keyakinan. Tradisi ini merupakan wujud akulturasi budaya Jawa, Hindu-Buddha, dan Islam yang berjalan harmonis.

Secara garis besar, rangkaian acara Nyadran meliputi:

1. Besik

Kegiatan membersihkan makam leluhur secara gotong royong. Ini adalah simbol bakti dan cara kita memastikan tempat peristirahatan terakhir para pendahulu kita bersih dan terawat.

2. Kenduri atau Slametan

Ini adalah jantung dari acara Nyadran. Warga akan berkumpul di satu tempat (biasanya dekat area makam atau balai desa) untuk berdoa bersama, memohonkan ampunan bagi arwah leluhur, dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3. Makan Bersama

Setelah doa selesai, semua warga akan menyantap hidangan yang dibawa bersama-sama. Makanan khas seperti apem, ketan, dan kolak sering kali menjadi menu wajib. Momen ini melambangkan kebersamaan, kerukunan, dan semangat berbagi.

Mengapa Nyadran Masih Relevan untuk Kamu?

Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, tradisi seperti Nyadran menawarkan sesuatu yang berharga. Ini bukan cuma ritual kuno, tapi juga sarat dengan nilai-nilai yang justru kita butuhkan sekarang.

1. Menghubungkan Kembali dengan Akar

Nyadran adalah cara konkret untuk "mengingat asal". Di tengah kesibukan, kita sering lupa siapa kita dan dari mana kita berasal. Tradisi ini mengajak kita sejenak menengok ke belakang, menghormati perjuangan para leluhur.

2. Kekuatan Komunitas Nyata

Lupakan sejenak interaksi di media sosial. Nyadran adalah tentang gotong royong yang sesungguhnya. Bekerja bakti membersihkan makam dan makan bersama dari wadah yang sama membangun ikatan sosial yang tulus dan kuat.

3. Praktik Syukur dan Ikhlas

Inti dari Nyadran adalah mendoakan leluhur dan bersyukur atas nikmat yang kita terima. Ini adalah latihan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih rendah hati, ikhlas, dan penuh rasa terima kasih.

Nyadran bukan hanya untuk generasi tua. Ini adalah warisan budaya yang perlu kita jaga bersama. Jika di keluargamu ada tradisi Nyadran, ikutlah berpartisipasi.

Bantu membersihkan makam, siapkan makanan, dan yang terpenting, dengarkan cerita-cerita dari orang tua atau kakek-nenekmu tentang para leluhur. Jika kamu tidak memiliki tradisi ini, cobalah untuk mengamatinya dengan penuh hormat.

Jadi, sudah siap menyambut Nyadran 2026? Ini bukan hanya soal membersihkan makam, tapi juga membersihkan hati untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Bagaimana tradisi Nyadran di daerahmu? Apakah ada keunikan tersendiri? Bagikan ceritamu di kolom komentar di bawah ini!

Load More