Suara.com - Isu child grooming yang diangkat dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans kembali membuka diskusi publik tentang pentingnya perlindungan anak di Indonesia.
Kisah pilu yang dialami Aurelie sejak usia remaja membuat banyak orang mempertanyakan sejauh mana peran lembaga dan tokoh perlindungan anak dalam merespons laporan dari keluarga korban.
Nama Kak Seto pun ikut terseret dalam perbincangan netizen. Sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai "Sahabat Anak" ini disebut tidak memberikan respons sebagaimana diharapkan oleh keluarga Aurelie.
Di tengah panasnya isu tersebut, banyak masyarakat kemudian mencari informasi lebih jauh mengenai biodata dan pendidikan Kak Seto, serta kiprah panjang yang telah ia jalani. Berikut ulasan lengkapnya.
Profil Kak Seto
Seto Mulyadi, atau yang lebih akrab disapa Kak Seto, lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1951. Ia diketahui memeluk agama Islam.
Kak Seto dikenal luas sebagai psikolog anak, pendidik, pendongeng, sekaligus tokoh perlindungan anak yang telah aktif sejak usia muda.
Kak Seto sempat bercita-cita menjadi dokter, namun gagal diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia. Kegagalan tersebut justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Atas saran Pak Kasur, tokoh pendidikan anak legendaris Indonesia, Kak Seto beralih ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Secara akademik, Kak Seto menamatkan pendidikan Sarjana, Magister, hingga Doktor Psikologi di Universitas Indonesia. Pada tahun 2021, ia juga dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Psikologi Universitas Gunadarma.
Baca Juga: Rekam Jejak Kak Seto yang Ikut Terseret Isu Child Grooming Aurelie Moeremans
Latar pendidikan inilah yang menjadi dasar keahliannya dalam mendampingi dan memahami dunia anak-anak.
Sementara itu, Kak Seto menikah dengan Deviana dan dikaruniai empat orang anak. Ia juga memiliki saudara kembar bernama Kresno Mulyadi, yang berprofesi sebagai psikiater anak.
Kiprah Kak Seto sebagai Sahabat Anak Indonesia
Kak Seto mulai dikenal publik sejak 4 April 1970, ketika ia diperkenalkan langsung oleh Pak Kasur sebagai pendamping anak-anak dengan panggilan “Kak Seto”.
Sebelumnya, ia memang telah menjadi guru TK dan asisten di taman kanak-kanak milik Pak dan Bu Kasur. Dari sinilah kecintaannya pada dunia anak semakin tumbuh dan mengakar.
Namanya semakin populer saat ia rutin tampil di acara anak-anak seperti Aneka Ria Taman Kanak-Kanak. Kak Seto dikenal piawai mendongeng, bernyanyi, dan bermain sulap untuk anak-anak.
Kreativitas tersebut melahirkan karakter ikonik Si Komo, boneka sekaligus lagu anak-anak yang begitu melekat dengan sosoknya dan membuatnya dikenal luas di seluruh Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Masih Bolak-balik Bisnis ke Indonesia, Segini Kekayaan Shin Tae-yong
-
3 Jenis Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak Muda di Singapura
-
Lirik Lagu Erika oleh OSD HMT ITB yang Berisi Pelecehan Seksual
-
7 Rekomendasi Parfum Heaven Scent Best Seller, Wangi Mewah Tak Harus Mahal!
-
Penemuan Fosil Kupu-Kupu Berusia 34 Juta Tahun di Prancis, Kondisi Masih Utuh
-
5 Sepeda Lipat Ukuran 20 yang Nyaman dan Praktis, Mulai Rp800 Ribuan
-
Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
-
Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI
-
Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?
-
Kreatif Saja Tak Cukup, UMK Kuliner Perlu Bimtek untuk Tembus Pasar Lebih Luas