Suara.com - Angin kencang kembali melanda sejumlah daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya hari ini. Sejak malam hingga pagi, tiupan angin yang datang tiba-tiba disertai hujan membuat aktivitas warga terganggu dan meningkatkan risiko bencana.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup signifikan adalah Kabupaten Sleman, Yogyakarta di mana angin kencang menyebabkan pohon tumbang di beberapa titik dan mengganggu jaringan listrik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat dampak angin kencang terjadi di empat kapanewon, yakni Cangkringan, Pakem, Sleman, dan Turi. Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Haris, menjelaskan bahwa angin kencang mulai bertiup sejak Jumat malam hingga siang hari ini masih terpantau aktif.
Di Kapanewon Cangkringan, pohon tumbang dilaporkan menimpa jaringan listrik di dua lokasi berbeda. Kondisi serupa juga terjadi di Kapanewon Pakem, dengan dua titik pohon tumbang yang mengganggu jaringan kelistrikan.
Sementara itu, di Kapanewon Sleman terdapat dua titik pohon tumbang yang melintang di jalan dan sempat menghambat arus lalu lintas. Di wilayah Turi, pohon tumbang kembali dilaporkan menimpa jaringan listrik, sehingga berpotensi menimbulkan pemadaman sementara.
Melihat kondisi tersebut, BPBD mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama saat berada di luar ruangan. Hingga siang hari, angin kencang masih dirasakan di beberapa wilayah Sleman dan sekitarnya, sehingga potensi kejadian serupa masih bisa terjadi.
Penjelasan BMKG soal Penyebab Angin Kencang di Sejumlah Daerah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta menjelaskan bahwa angin kencang yang melanda Sleman dan wilayah DIY bukanlah fenomena tunggal. Salah satu pemicunya adalah pengaruh tidak langsung dari Siklon Tropis Luana yang berada di sekitar pantai barat laut Australia.
Meski pusat siklon berada cukup jauh dari Indonesia, dampaknya tetap terasa melalui penguatan pola angin di lapisan atmosfer atas. BMKG mencatat adanya aktivitas angin kencang di lapisan 925 mb atau sekitar 762 meter di atas permukaan laut, dengan kecepatan berkisar antara 10 hingga 45 knot atau setara 18–83 km/jam.
Baca Juga: Trah HB II: Kerja Sama Rp 90 Triliun dengan Inggris Tak Sebanding dengan Harta Jarahan Geger Sepehi
Wilayah dengan topografi cukup tinggi, seperti Sleman bagian utara, memiliki potensi lebih besar terdampak angin kencang akibat kondisi ini.
Selain pengaruh siklon, BMKG juga menegaskan bahwa dinamika atmosfer di selatan Pulau Jawa masih sangat aktif. Pola angin yang menguat bersamaan dengan pertumbuhan awan hujan turut meningkatkan potensi cuaca ekstrem secara lokal, termasuk angin kencang yang datang mendadak.
Berdasarkan pemantauan BMKG, angin kencang hari ini tidak hanya berpotensi terjadi di Sleman. Wilayah lain di DIY yang perlu mendapat perhatian lebih meliputi Bantul, Kota Yogyakarta, Kulon Progo bagian utara, serta Gunungkidul.
BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi, terutama pada siang hingga malam hari. Hujan ini dapat disertai angin kencang dan petir, sehingga meningkatkan risiko pohon tumbang, kerusakan atap rumah, gangguan jaringan listrik, hingga kecelakaan lalu lintas akibat jarak pandang yang menurun.
Kondisi cuaca yang sering dirasakan warga pun cenderung mendadak. Dalam banyak kasus, cuaca semula cerah, namun dalam hitungan menit angin bertiup kencang dan hujan turun cukup deras. Fenomena ini erat kaitannya dengan pertumbuhan awan konvektif yang cepat di atmosfer.
Secara lebih luas, BMKG juga mengingatkan adanya potensi peningkatan cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebutkan bahwa gangguan dinamika atmosfer saat ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan, yang dapat berdampak pada banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi.
Berita Terkait
-
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Angin Kencang 24-25 Januari, Wilayah Mana yang Terdampak?
-
Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
-
Trah HB II: Kerja Sama Rp 90 Triliun dengan Inggris Tak Sebanding dengan Harta Jarahan Geger Sepehi
-
Pemprov DKI Tingkatkan Modifikasi Cuaca Hingga Tiga Kali Sehari, Termasuk ke Wilayah Penyangga
-
Sambut Tahun Baru Imlek 2026, Satoria Hotel Yogyakarta Tawarkan Perayaan Ramah Keluarga
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Tips Memilih Warna Bedak sesuai Warna Kulit untuk Makeup Flawless
-
3 Kombinasi Ombre Wardah Staylock Lip Matte Sesuai Undertone Kulit, Tahan 20 Jam Tanpa Crack!
-
Tekan Biaya Produksi, Pemerintah Resmi Beri Bea Masuk 0 Persen untuk Sektor Ini
-
Nabila Gardena Mendadak Viral Dikaitkan Koruptor Alwin Albar, Ini Sosoknya
-
Apa Itu Tender Rakyat? Skema Baru Program Bedah Rumah yang Diklaim Lebih Transparan
-
Jejak Karbon Makanan Tidak Sama bagi Semua Orang, Penelitian Ungkap Kelompok dengan Dampak Terbesar?
-
Parfum Apa yang Cocok untuk Anak Sekolah dengan Aroma Ringan dan Segar? Ini 4 Rekomendasinya
-
Waspada Sindikat Transnasional: Jangan Tergiur Janji Manis Kerja di Luar Negeri
-
Cari Ketenangan di Akhir Pekan? Kunjungi Cetiya Tian Shi Hua, Spot Spiritual Anyar di Jakarta
-
Tujuan MBG vs Efek Samping: Program yang Mulai Kehilangan Arahnya Sendiri