Lifestyle / Komunitas
Selasa, 10 Februari 2026 | 07:25 WIB
Literasi Keuangan Dimulai dari Rumah: Membangun Kebiasaan Finansial Anak Sejak Dini (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Keluarga berperan krusial membangun literasi keuangan anak melalui praktik nyata sehari-hari, bukan sekadar teori di kelas.
  • Indeks literasi keuangan pelajar Indonesia masih rendah (56,42%), menuntut pendekatan ekosistem melibatkan keluarga dan sekolah.
  • Program JA SparktheDream menargetkan 2.300 siswa SMP hingga 2026 melalui edukasi holistik dengan melibatkan guru dan orang tua.

Suara.com - Di tengah kemudahan transaksi digital dan beragam pilihan finansial yang kini bisa diakses hanya lewat gawai, anak-anak semakin cepat bersentuhan dengan uang, namun belum tentu memahami cara mengelolanya. 

Di sinilah peran keluarga menjadi krusial. Literasi keuangan tidak cukup dikenalkan lewat teori di ruang kelas, tetapi perlu dibangun melalui praktik sederhana yang hidup dalam keseharian anak, dimulai dari rumah.

Melibatkan anak dalam diskusi keuangan keluarga, mengajarkan pencatatan sederhana pengeluaran, hingga membiasakan pengambilan keputusan finansial kecil dengan pendampingan orang tua, menjadi fondasi penting agar anak memahami nilai dan fungsi uang secara nyata. 

Pendekatan ini membantu anak melihat bahwa mengelola keuangan bukan sekadar hitung-hitungan, melainkan kebiasaan dan sikap yang akan memengaruhi masa depan mereka.

Hal tersebut sejalan dengan pandangan Dewi R.D. Amelia, CFP, yang menekankan bahwa pengelolaan keuangan tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, melainkan oleh kebiasaan sehari-hari. 

Menurutnya, memahami ke mana uang digunakan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mulai memikirkan perlindungan keuangan merupakan praktik dasar yang sangat menentukan rasa aman di masa depan. 

“Keputusan-keputusan kecil yang diambil hari ini, mulai dari menentukan prioritas, menabung, hingga merencanakan tujuanakan berdampak besar bagi ketenangan hidup di kemudian hari,” jelasnya. 

Untuk itu, literasi keuangan perlu disampaikan secara praktis, relevan, dan bisa langsung diterapkan. Tantangan literasi keuangan ini semakin terasa di era digital. 

Rudy F. Manik, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, menyoroti bahwa anak-anak kini tumbuh di tengah ekosistem keuangan yang semakin kompleks. 

Baca Juga: 7 Tanda Keuangan Sehat yang Wajib Disyukuri di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

Kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital, termasuk dompet digital, membawa peluang sekaligus risiko jika tidak dibarengi pemahaman yang memadai. 

Kondisi ini tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa masih berada di angka 56,42%.

Melihat kondisi tersebut, pendekatan berbasis ekosistem menjadi semakin relevan, menghubungkan peran keluarga, sekolah, dan pelaku industri jasa keuangan. 

Inilah yang diusung oleh PT FWD Insurance Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) melalui program JA SparktheDream, yang tahun ini memasuki tahun keempat pelaksanaannya.

Pada tahun keempat ini, JA SparktheDream menargetkan lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama di berbagai kota, mulai dari Jabodetabek, Bandung dan Cimahi, hingga Semarang, Surabaya, Sidoarjo, dan Denpasar, dengan pelaksanaan program berlangsung hingga November 2026. 

Program ini dirancang untuk memberikan edukasi literasi keuangan secara holistik melalui empat sesi pembelajaran interaktif di kelas, yang dipadukan dengan platform pembelajaran daring serta aktivitas rumah bersama keluarga sebagai bagian integral dari proses belajar.

Load More