Lifestyle / Komunitas
Rabu, 11 Februari 2026 | 13:12 WIB
Seorang perempuan di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, membuat gula semut.(Dokumentasi pribadi)
Baca 10 detik
  • Perempuan memegang peran krusial dalam produksi gula semut di Sabu Raijua, terutama pada tahap pascapanen.
  • Peran perempuan dalam rantai produksi ini mendorong kemandirian ekonomi namun menimbulkan tantangan beban ganda (triple burden).
  • Program pendanaan memprioritaskan kelompok perempuan agar mendapat manfaat setara dan meningkatkan literasi keuangan.

Di samping bekerja di kebun dan mengolah gula, mereka bertanggung jawab penuh atas tugas domestik seperti pengasuhan anak, penyediaan pangan, dan pembersihan rumah. Bahkan, tugas fisik berat seperti mengambil air dari sumur atau sungai sering kali dilakukan oleh perempuan dan anak-anak.

Pandangan tersebut disampaikan Latipah dalam acara focus group discussion (FGD) yang digelar oleh GEF SGP Indonesia dan Yayasan Pikul di Kantor DPRD Kabupaten Sabu Raijua, Rabu 14 Januari 2026.

Ironisnya, besarnya kontribusi ekonomi ini belum sepenuhnya sejalan dengan keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan publik. Sebagian besar perempuan di desa-desa seperti Pedarro dan Eilogo tidak pernah terlibat dalam musyawarah desa. Banyak yang merasa canggung atau merasa suaranya sudah diwakilkan oleh kaum laki-laki.

Keterlibatan perempuan dalam produksi gula semut bukan sekadar urusan dapur, melainkan upaya strategis untuk meningkatkan posisi tawar mereka di masyarakat. Melalui pengolahan produk bernilai tinggi ini, perempuan Sabu Raijua membuktikan diri sebagai motor penggerak ketangguhan komunitas dalam menghadapi tantangan iklim dan ekonomi yang keras di pulau mereka.

Kelompok perempuan harus mendapat manfaat setara

Menjelang berakhirnya program pada Juni 2026, GEF SGP Indonesia memang menempatkan perempuan menjadi salah satu kelompok yang bakal diprioritaskan. Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menjelaskan salah satu strategi utama mereka yakni inklusi sosial. 

“Kami ingin memastikan memastikan kelompok seperti perempuan, pemuda, dan penyandang bisa terlibat aktif dan mendapat manfaat setara. Jadi keberlanjutan bukan hanya tentang proyek yang berjalan, tetapi tentang pembangunan kapasitas masyarakat untuk mengelola dan mengembangkan inisiatif secara mandiri,” ujar Sidi.

Selain inklusi, strategi utama lainnya GEF SGP Indonesia yakni transformasi ekonomi melalui pengembangan model bisnis berkelanjutan dan rantai nilai yang adil bagi masyarakat serta perlembagaan kebijakan agar praktik baik program dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah.

“Proyek ini menempatkan perempuan sebagai pusat dari rantai nilai. Dengan membekali kelompok perempuan melalui peralatan yang lebih baik, pengetahuan pengemasan, dan literasi keuangan, proyek ini memastikan bahwa nilai tambah ekonomi tetap berada di dalam rumah tangga,” terang dia.

Baca Juga: Menenun Identitas: Perempuan Sumba, Warna Alam, dan Warisan yang Tak Pernah Putus

Load More