- Delegasi tujuh negara mengunjungi Raja Ampat untuk studi lapangan praktik pengelolaan Bentang Laut Kepala Burung.
- Model Raja Ampat berhasil memadukan pelestarian ekosistem laut dengan penguatan ekonomi masyarakat pesisir berkelanjutan.
- Kunjungan tersebut mempelajari skema pendanaan, kearifan lokal sasi, dan pelibatan masyarakat dalam tata kelola laut.
Suara.com - Di tengah perdebatan antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi, Raja Ampat menunjukkan bahwa keduanya tidak harus saling meniadakan.
Melalui pengelolaan Bentang Laut Kepala Burung (Bird’s Head Seascape), wilayah ini dinilai berhasil memadukan perlindungan ekosistem laut dengan penguatan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Model inilah yang menarik perhatian delegasi dari tujuh negara—Madagaskar, Mauritius, Komoro, Tanzania, Kenya, Mozambik, dan Sri Lanka—untuk melakukan studi lapangan di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Dalam kunjungan bertajuk ReSea Global Seascape Exchange: Learning from the Bird’s Head Seascape, para pejabat setingkat menteri hingga direktur jenderal tersebut mempelajari praktik pengelolaan kawasan konservasi laut yang tidak hanya menjaga biodiversitas, tetapi juga membuka ruang kesejahteraan bagi warga lokal.
Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam menyebut kunjungan ini semakin mengukuhkan posisi Raja Ampat sebagai destinasi pariwisata kelas dunia sekaligus contoh pengelolaan laut berkelanjutan. Ia berharap kerja sama dan pertukaran pengetahuan terus berlanjut, sekaligus mendorong promosi Raja Ampat di tingkat global.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Regenerative Seascapes for People, Climate, and Nature (ReSea), yang pada Februari 2026 menunjuk Bentang Laut Kepala Burung sebagai model percontohan dunia dalam penguatan ketahanan iklim dan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya bagi negara-negara Afrika Timur dan Samudra Hindia Barat.
Menurut Manajer Program Raja Ampat Konservasi Indonesia, Meidiarti Kasmidi, para delegasi mempelajari berbagai aspek kunci, mulai dari efektivitas pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), skema pendanaan berkelanjutan seperti retribusi pariwisata dan Blue Abadi Fund (BAF), hingga mekanisme debt for nature swap.
Tak kalah penting, praktik kearifan lokal seperti sasi serta pelibatan masyarakat adat dan perempuan dalam tata kelola laut menjadi bagian integral dari model tersebut.
Pendekatan ini menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar menjaga terumbu karang atau keanekaragaman hayati, tetapi juga membangun sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan bagi komunitas pesisir. Dengan menjadikan masyarakat sebagai aktor utama, perlindungan ekosistem laut berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan dan ketahanan sosial.
Baca Juga: Kemenhub Beberkan Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Boven Digoel
Melalui pertukaran global ini, diharapkan praktik baik dari Raja Ampat dapat diadaptasi di berbagai belahan dunia, memperkuat kolaborasi internasional dalam menjaga laut sekaligus memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Mahasiswa Tersangka Tabrak Lari di Bandung Mengemudi dalam Kondisi Mabuk
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci
-
Donald Trump Ingin 3 Periode, Bakal Tabrak Konstitusi AS?
-
Tak Ditemukan Tanda Kekerasan, Penyebab Kematian Sutrimo Masih Misteri
-
Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen
-
Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
-
Korban Tolak RJ, Sidang Kasus Pengeroyokan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut
-
Telok Abang Palembang Bukan Sekadar Tradisi Agustus, Kini Jadi Ikon Budaya Kota
-
Terungkap, Trik Warga Israel Bisa Lolos Masuk Bali Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik