- Perbedaan awal puasa dan Lebaran disebabkan metode penetapan bulan Hijriah berbeda: Muhammadiyah memakai hisab, pemerintah/NU memakai rukyat.
- Ulama menyarankan konsistensi mengikuti satu metode (hisab atau rukyat) untuk menghindari durasi puasa tidak sesuai (28 atau 31 hari).
- Secara fikih, menggabungkan metode boleh asalkan durasi puasa tetap minimal 29 hari; wajib qada jika kurang.
Suara.com - Pertanyaan “apa boleh puasa Ramadan ikut pemerintah, Lebaran ikut Muhammadiyah?” sering muncul setiap Ramadan. Pertanyaan ini biasanya dilontarkan sebagai candaan, tapi tak sedikit pula yang benar-benar penasaran.
Pasalnya, dalam beberapa tahun, awal puasa Ramadan yang ditetapkan pemerintah yang umumnya merujuk pada rukyat seperti dilakukan warga Nahdlatul Ulama bisa datang belakangan dibanding Muhammadiyah yang memakai metode hisab.
Sementara itu, tak jarang tanggal Lebaran versi Muhammadiyah justru lebih dulu. Guyonan ini biasanya muncul agar seseorang bisa “memilih” masa puasa Ramadan yang paling singkat. Lalu, bagaimana sebenarnya hukumnya dalam Islam?
Kenapa Awal Puasa dan Lebaran Bisa Berbeda?
Perbedaan ini terjadi karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang berbeda.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi) dengan kriteria wujudul hilal.
Sementara NU dan pemerintah umumnya menggunakan metode rukyat (pengamatan hilal), dikombinasikan dengan hisab sebagai pendukung.
Karena perbedaan metode tersebut, awal Ramadan dan 1 Syawal bisa berbeda satu hari. Namun perlu dicatat, perbedaan ini tidak selalu sama setiap tahun. Bisa jadi suatu waktu Muhammadiyah lebih dulu memulai puasa, tapi di tahun lain justru lebih belakangan.
Penjelasan Ustaz Felix Siauw: Jangan Sampai 28 atau 31 Hari
Baca Juga: 96 Titik Lokasi Pengamatan Hilal di Indonesia Jelang Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H
Dalam salah satu penjelasannya, Felix Siauw mengingatkan agar tidak sembarangan “menggabungkan” pilihan awal puasa dan Lebaran dari dua metode berbeda.
Ia mengatakan, "Pastiin dulu NU puasanya belakangan dan Muhammadiyah lebarannya duluan". Karena bisa saja kondisinya terbalik di tahun lain.
Menurutnya, jumlah puasa Ramadan itu hanya mungkin 29 atau 30 hari. Jika seseorang memulai puasa mengikuti NU lalu Lebaran mengikuti Muhammadiyah, ada kemungkinan puasanya menjadi 28 hari atau bahkan 31 hari.
"Namanya puasa itu kalau nggak 29 ya 30 hari. Lha nanti kalau Anda puasa ikut NU lebarannya ikut Muhammadiyah bisa jadi puasanya 28, atau apesnya 31 hari, kan (bisa) kelebihan," jelas Felix Siauw.
Jika hanya 28 hari, jelas kurang dari ketentuan syariat. Jika 31 hari, berarti melebihi batas maksimal Ramadan. Karena itu, ia menyarankan agar seseorang konsisten dalam keyakinannya.
“Kalau yakin dengan hisab, ya puasanya ikut Muhammadiyah dan lebarannya juga Muhammadiyah. Kalau yakin dengan rukyat lokal, ya ikut NU dari awal sampai akhir. Sederhana,” kira-kira demikian pesannya.
Berita Terkait
-
Gunakan Sistem Khumasi, Jemaah Ponpes Mahfilud Dluror Jember Mulai Puasa Hari Ini
-
Kemenag Umumkan Jadwal Sidang Isbat 2026, Ini Jadwal Lengkapnya!
-
Cara Daftar Mudik Gratis Pemprov Jawa Tengah 2026: Ini Syarat dan Jadwal Keberangkatan
-
Sidang Isbat Awal Ramadan 2026 Mulai Jam Berapa? Ini Jadwal dan Linknya
-
Bukan Cuma Takjil! 5 Ide Bisnis Ramadan Anti-Mainstream Buat Anak Sekolah
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
4 Moisturizer Serum untuk Atasi Flek dan Mencerahkan Tanpa Ribet
-
Fakta Sidang Isbat: Kenapa Idul Adha Bisa Kompak tapi Idul Fitri Beda Hari?
-
Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
-
Kulit Sawo Matang Cocok Pakai Lipstik Wardah Shade Berapa? Ini 5 Pilihan yang Bagus
-
7 Fakta Film Pesta Babi, Dokumenter Investigasi Konflik Agraria di Tanah Papua
-
Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei Besok Libur atau Tidak? Cek Ketentuan SKB 3 Menteri
-
9 Amalan di 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Bisa Dilakukan Wanita Haid
-
10 Pintu Rezeki Itu Apa Saja? Ini Jawabannya Menurut Islam
-
Perbedaan Lip Mask dan Lip Scrub, Kapan Harus Pakai untuk Jaga Bibir Tetap Sehat?
-
Siapa Cypri Dale? Sosok Penting di Balik Film Pesta Babi Selain Dandhy Laksono