Lifestyle / Komunitas
Senin, 02 Maret 2026 | 14:30 WIB
Ilustrasi tes kemampuan akademik bahasa Inggris. (dok. Getty Images)
Baca 10 detik
  • Bahasa Inggris akademik berbeda signifikan dengan percakapan sehari-hari, menuntut pemahaman ide kompleks serta argumentasi logis.
  • Kemampuan bahasa Inggris akademik sangat esensial bagi mahasiswa di luar negeri untuk mengikuti kuliah, diskusi, dan penulisan jurnal.
  • Tes bahasa Inggris seperti TOEFL kini dirancang mengukur kesiapan akademik nyata dan akan menggunakan sistem adaptif mulai Januari 2026.

Suara.com - Gelombang pendaftaran universitas luar negeri dan program beasiswa seperti LPDP kembali dibuka. Ribuan pelajar Indonesia mulai menyiapkan dokumen, esai personal statement, hingga sertifikat kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat utama seleksi.

Di tengah kemudahan teknologi penerjemah dan kecerdasan buatan (AI), sebagian pelajar merasa kemampuan bahasa Inggris sehari-hari sudah cukup. Namun, menurut Chuong Nguyen, Channel Management Director untuk Asia Tenggara, Educational Testing Service (ETS), ada perbedaan besar antara conversational English dan academic English.

“Percakapan sehari-hari adalah fondasi yang baik. Tapi bahasa Inggris akademik menuntut kemampuan memahami ide kompleks, menyusun argumen logis, dan mengekspresikan pemikiran secara presisi,” jelasnya.

Beda Bahasa Inggris Sehari-hari dan Bahasa Inggris Akademik

Chuong Nguyen, Channel Management Director untuk Asia Tenggara, Educational Testing Service (ETS). (dok. ETS)

Banyak pelajar Indonesia sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk menonton film tanpa subtitle, membuat caption media sosial, atau berbincang santai. Namun di lingkungan universitas luar negeri, tuntutannya jauh lebih tinggi.

Mahasiswa dituntut untuk:

  1. Memahami kuliah dengan tempo cepat dan berbagai aksen
  2. Membaca jurnal ilmiah dan menganalisis penelitian
  3. Menulis esai argumentatif dengan struktur yang jelas
  4. Berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas

Dalam dunia profesional global, tantangan semakin kompleks. Lulusan diharapkan mampu menyusun email formal, menyampaikan presentasi strategis, hingga terlibat dalam negosiasi lintas budaya.

“Di setting akademik dan profesional, yang diuji bukan hanya kosakata, tapi cara berpikir dalam bahasa tersebut,” ujar Chuong.

Di Era AI, Kemampuan Bahasa Justru Semakin Penting

Baca Juga: Bukan Sekadar Nilai Tambah: Inilah Standar Baru Kualitas Pengajar Bahasa Inggris yang Diakui Global

Kemajuan teknologi seperti AI dan tools penerjemah memang membantu komunikasi dasar. Namun menurut Chuong, teknologi tidak bisa menggantikan proses kognitif dalam memahami dan menyusun ide.

“Untuk menganalisis informasi, mengorganisasi gagasan kompleks, dan menyampaikan pemikiran orisinal, seseorang harus benar-benar menguasai bahasanya. AI bisa membantu, tapi tidak bisa berpikir untuk Anda,” katanya.

Di lingkungan internasional, komunikasi bukan sekadar menerjemahkan kata. Mahasiswa dan profesional dituntut mampu membangun argumen, menyampaikan perspektif dengan nuansa, serta berkolaborasi secara efektif.

Tantangan Mahasiswa Indonesia di Tahun Pertama

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan ETS, banyak mahasiswa Indonesia baru menyadari kesenjangan kemampuan bahasa Inggris mereka saat sudah memulai studi di luar negeri.

Beberapa tantangan umum di tahun pertama antara lain:

Load More