Indonesia termasuk dalam daftar negara yang dinilai relatif aman jika konflik global besar terjadi. Hal ini tidak lepas dari prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut sejak lama. Indonesia tidak terikat dalam pakta militer besar seperti NATO dan menempatkan diri sebagai negara non-blok.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, posisi geografis Indonesia memberikan keuntungan strategis. Selain itu, kekayaan sumber daya alam, mulai dari pertanian, perikanan, hingga energi, dinilai mampu menunjang ketahanan pangan dan energi dalam situasi krisis. Meski demikian, dinamika geopolitik kawasan Asia tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
5. Bhutan
Bhutan menyatakan sikap netral sejak bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1971. Negara kecil di kawasan Himalaya ini memiliki perlindungan alami berupa pegunungan tinggi yang sulit ditembus.
Populasinya yang relatif kecil serta kebijakan luar negeri yang berhati-hati turut mengurangi risiko keterlibatan langsung dalam konflik global berskala besar.
6. Chile
Chile dinilai memiliki ketahanan sumber daya yang cukup baik. Negara ini memiliki produksi pertanian yang kuat serta cadangan mineral melimpah, termasuk tembaga yang menjadi komoditas strategis. Letaknya di ujung barat Amerika Selatan membuat Chile relatif jauh dari pusat konflik utama di belahan bumi utara.
7. Fiji
Fiji adalah negara kepulauan di Pasifik Selatan yang berjarak sekitar 2.700 mil dari Australia. Lokasinya yang terpencil menjadi faktor utama yang membuatnya dinilai relatif aman. Fiji memiliki sekitar 6.000 personel militer dan sumber daya alam seperti hutan, perikanan, dan mineral yang dapat menunjang kebutuhan domestik saat krisis.
Baca Juga: Perang Iran Ancam Inflasi Massal, OPEC+ Bersiap Tambah Pasokan BBM
8. Antartika
Antartika merupakan wilayah paling terpencil dan paling dingin di Bumi. Secara teori, lokasinya yang jauh dari pusat konflik menjadikannya kecil kemungkinan menjadi target serangan. Namun, kondisi ekstrem, keterbatasan infrastruktur, dan lingkungan yang tidak ramah manusia membuatnya bukan tempat ideal untuk berlindung dalam jangka panjang.
9. Argentina
Sejumlah analis menilai Argentina berpotensi menjadi salah satu wilayah relatif aman, terutama jika skenario terburuk seperti perang nuklir terjadi. Selain letaknya yang jauh dari pusat konflik potensial, Argentina memiliki komoditas pertanian penting seperti gandum yang dinilai cukup tahan terhadap berbagai kondisi iklim ekstrem.
10. Greenland
Greenland merupakan pulau terbesar di dunia dengan populasi sekitar 56.000 jiwa. Wilayah yang dimiliki Denmark ini sangat terpencil dan jarang menjadi sorotan dalam konflik global.
Kepadatan penduduk yang rendah serta lokasinya yang jauh dari pusat geopolitik membuatnya kecil kemungkinan menjadi target militer langsung.
11. Afrika Selatan
Afrika Selatan memiliki infrastruktur modern serta sumber daya air dan pangan yang relatif melimpah. Hal ini menjadi modal penting dalam menghadapi potensi krisis global. Namun demikian, posisi diplomatiknya dalam beberapa isu internasional membuat status netralitasnya kerap menjadi sorotan.
12. Tuvalu
Tuvalu adalah negara kecil di Samudra Pasifik yang terletak di antara Hawaii dan Australia. Dengan populasi sekitar 11.000 orang, negara ini sangat terisolasi. Skala kecil dan jaraknya dari pusat konflik utama membuat Tuvalu dinilai memiliki risiko kecil menjadi sasaran dalam perang dunia.
Demikian itu daftar negara yang aman dari Perang Dunia III. Perlu ditegaskan bahwa daftar tersebut bersifat spekulatif dan bukan jaminan absolut keamanan. Faktor stabilitas politik domestik, kemandirian pangan, ketahanan energi, serta posisi diplomatik tetap menjadi kunci utama dalam menentukan seberapa tangguh suatu negara menghadapi potensi konflik global berskala besar.
Kontributor : Mutaya Saroh
Berita Terkait
-
Harta Kekayaan Ali Khamenei yang Tewas dalam Serangan AS-Israel
-
Baru Pulang Umrah dan Kunjungi Dubai, Febby Rastanty Kaget Ada Perang: Benar-Benar Allah Lindungi!
-
Garda Revolusi Iran Serang Tanker Minyak, Pasokan Energi Dunia Terancam Lumpuh
-
Dunia Waspada Bencana Radiasi Nuklir di Tengah Perang AS-Israel vs Iran
-
Bursa Kripto Jadi Acuan Harga Emas Dunia saat Pasar AS Tutup di Tengah Perang
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan