Lifestyle / Female
Senin, 06 April 2026 | 14:05 WIB
Therese Halasa (kiri) dan Benjamin Netanyahu (kanan). [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Mahkamah Pidana Internasional menerbitkan surat penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu pada 2024 atas tuduhan melakukan genosida di Gaza.
  • Pejuang Palestina Therese Halasa pernah menembak bahu Netanyahu saat operasi pembajakan pesawat Sabena di Israel tahun 1972.
  • Setelah dibebaskan dari penjara Israel tahun 1983, Therese Halasa menjalani masa pengasingan dan wafat di Yordania tahun 2020.

Suara.com - Bila ada nama pejabat negara yang kini banyak dikecam warga dunia, tentu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan masuk menjadi salah satu di dalamnya.

Sebab, Benjamin Netanyahu dianggap orang yang paling bertanggungjawab atas genosida warga Palestina di Gaza.

Bahkan, dirinya otomatis ditangkap aparat bila berani menginjakkan kaki ke salah satu negara anggota Mahkamah Pidana Internasional atau ICC seperti Kanada, Belanda, Prancis, Spanyol, Belgia, Jerman, maupun Inggris.

Pasalnya, sejak 2024, ICC telah menerbitkan surat penangkapan terhadap Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang.

Keberadaan Netanyahu juga hingga kini masih misterius. Terutama sejak Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan agresi terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Sempat beredar kabar Netanyahu terluka hingga mati pada bulan Maret. Namun, informasi yang beredar itu tak kunjung mendapat konfirmasi resmi.

Meski begitu, Netanyahu bukannya sosok yang "tak tersentuh". Ada seorang perempuan Palesetina, yang mampu berkonfrontasi, bahkan menembak dia. Perempuan itu bernama Therese Halasa.

Therese Halasa pada masa tuanya. Pejuang revolusioner Palestina itu wafat di Yordania, 28 Maret 2020. [X]

Ikon perlawanan Palestina

Tahun 2020, dunia perlawanan Palestina kehilangan salah satu sosok paling ikonik, saat Therese Halasa menghembuskan napas terakhirnya di Amman, Yordania.

Baca Juga: 6 Anak-anak Meninggal Dunia Akibat Serangan AS-Israel di Teheran Iran

Pejuang perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk kemerdekaan Palestina ini, wafat pada usia 66 tahun setelah berjuang melawan kanker paru-paru.

Namanya abadi sebagai simbol keberanian, terutama karena keterlibatannya dalam aksi berani yang secara langsung mempertemukannya dengan sosok yang kini menjadi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di medan pertempuran.

Lahir pada tahun 1954 di Akka (Acre), wilayah Palestina yang diduduki sejak 1948, Therese tumbuh di bawah hukum militer Israel yang ketat.

Ketidakadilan yang ia saksikan sehari-hari, menumbuhkan benih perlawanan dalam diri perempuan Kristen tersebut sejak usia muda.

Meskipun ia menempuh pendidikan keperawatan di Nazareth, panggilan untuk membebaskan Tanah Airnya jauh lebih kuat daripada karier medis yang stabil.

Pada tahun 1971, tanpa memberitahu keluarganya, Therese meninggalkan Palestina untuk bergabung dengan gerakan Front Popular Pembebasan Palestina (FPLP) yang berhaluan Komunis di Lebanon.

Dalam sebuah wawancara bersejarah, ia menegaskan motivasinya bergabung dengan revolusi bukan semata-mata karena kesengsaraan pribadi.

"Saya bergabung tak hanya karena penderitaan, tetapi karena rasa patriotisme yang diilhami oleh Abdel Nasser dan ayah saya," kata Therese Halasa kepada media Samidoun, dikutip hari Senin (6/4/2026).

Konfrontasi Sabena: Momen Sejarah yang Melukai Netanyahu

Puncak aksi Therese Halasa terjadi pada Mei 1972, dalam operasi pembajakan pesawat Sabena Flight 571.

Bersama rekan-rekannya—Rima Tannous, Ali Taha Abu Sneineh, dan Abdel-Aziz al-Atrash—Therese mengambil alih pesawat tersebut dengan tuntutan pembebasan ratusan tahanan Palestina.

Pesawat tersebut mendarat di Bandara Lod, kini dinamakan Israel sebagai Bandara Ben Gurion.

Dalam upaya penyelamatan, pasukan khusus Israel melakukan penyergapan dengan menyamar sebagai teknisi pesawat dan petugas Palang Merah.

Di antara pasukan komando Israel yang melakukan serangan tersebut terdapat dua sosok yang nantinya menjadi pemimpin besar Israel: Ehud Barak dan Benjamin Netanyahu.

Therese Halasa dalam pelatihan militer pembebasan Palestina di Lebanon (kiri) dan Benjamin Netanyahu setelah ditembak Therese (kanan). [Suara.com]

Pertempuran sengit meletus di dalam kabin pesawat. Ali Taha dan Abdel-Aziz gugur dalam baku tembak tersebut.

Namun, dalam kekacauan itu, Therese Halasa sempat melepaskan tembakan yang mengenai bahu Benjamin Netanyahu.

Insiden ini menjadi salah satu catatan sejarah yang paling sering dibicarakan, di mana seorang pejuang perempuan Palestina berhasil melukai sosok yang kelak menjadi tokoh sentral dalam politik Israel.

Therese sendiri mengalami luka parah dalam serangan itu sebelum akhirnya ditangkap.

Therese Halasa, revolusioner Palestina dalam peristiwa pembajakan pesawat Sabena Flight 571, tanggal 9 Mei 1972. [X]

Perlawanan di Balik Jeruji Besi

Setelah aksi tersebut, Therese Halasa dan rekannya, Rima Tannous, diseret ke pengadilan militer Israel.

Keduanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, tembok penjara tidak memadamkan semangatnya.

Selama bertahun-tahun di dalam sel, Therese terus mendidik dirinya sendiri dan memimpin aksi-aksi protes sesama tahanan.

Penderitaan di dalam penjara Israel bukanlah rahasia. Rima Tannous, dalam catatan yang diterbitkan setelah pembebasannya, menceritakan detail penyiksaan luar biasa yang mereka alami selama interogasi.

Therese Halasa, revolusioner Palestina saat dalam tawanan Israel. [X]

Meski demikian, Therese tetap teguh. Ia baru menghirup udara bebas pada tahun 1983 melalui proses pertukaran tawanan antara perlawanan Palestina dan Israel.

Pada saat pembebasannya, Therese dilaporkan sedang terlibat dalam aksi mogok makan massal bersama tahanan lainnya sebagai bentuk protes atas kondisi penjara yang tidak manusiawi.

Pengasingan dan Dedikasi Kemanusiaan di Yordania

Setelah dibebaskan, Israel melarang Therese untuk kembali ke tanah kelahirannya di Akka. Ia akhirnya dideportasi dan menghabiskan sisa hidupnya di Yordania.

Di sana, ia kembali ke akar profesinya sebagai perawat. Namun, ia memilih jalan yang sulit dengan mendedikasikan dirinya untuk merawat pasien dengan disabilitas.

Kehidupan di pengasingan tidak membuatnya berhenti menyuarakan isu Palestina. Therese menjadi narasumber penting bagi para pembuat film dokumenter dan sejarawan, yang meneliti tentang revolusi Palestina dan sejarah pembajakan Sabena.

Di Yordania, kehadirannya selalu dinanti dalam berbagai aksi demonstrasi dan pertemuan solidaritas untuk Palestina.

Bahkan, ketika tubuhnya digerogoti oleh kanker paru-paru, semangat Therese tidak pernah pudar. Ia tetap hadir di barisan terdepan dalam aksi-aksi unjuk rasa, menunjukkan bahwa perjuangan belum usai meski fisiknya telah melemah.

Kematiannya di Amman pada tahun 2020 menandai berakhirnya perjalanan fisik sang revolusioner, namun warisan keberaniannya tetap hidup di hati generasi muda Palestina.

Kisah Therese Halasa adalah pengingat akan peran krusial perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Dari seorang perawat yang memegang senjata demi tanah air, hingga kembali menjadi perawat bagi mereka yang membutuhkan di masa senjanya.

Therese menunjukkan esensi dari revolusi adalah kemanusiaan dan cinta terhadap tanah kelahiran yang mendalam.

Load More